<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bhayangkara Padmanaba &#187; Planet Tonti</title>
	<atom:link href="http://bhayangkara.padmanaba.or.id/tag/planet-tonti/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id</link>
	<description>-not only technique-</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 15:28:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Tidak Hanya Jago Kandang</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/tidak-hanya-jago-kandang/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/tidak-hanya-jago-kandang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 03:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[NOT ONLY TECHNIQUE]]></category>
		<category><![CDATA[Bhapad]]></category>
		<category><![CDATA[Bhayangkara Padmanaba]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[“SMA 3 menang bukan karena gerakannya benar. Tapi hanya karena kompak thok!”. Kurang lebih beginilah kalimat yang terlontar dari salah seorang rekan –yang juga melatih sebuah peleton inti di suatu SMA di Sleman- mengkritik kemenangan-kemenangan SMA 3. Berangkat dari asumsi tersebut, beliau (Mr.Z) mengindikasikan akan mengadakan temu teknik antara PPI dengan TNI Polri untuk membahas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“SMA 3 menang bukan karena gerakannya benar. Tapi hanya karena kompak thok!”. Kurang lebih beginilah kalimat yang terlontar dari salah seorang rekan –yang juga melatih sebuah peleton inti di suatu SMA di Sleman- mengkritik kemenangan-kemenangan SMA 3. Berangkat dari asumsi tersebut, beliau (Mr.Z) mengindikasikan akan mengadakan temu teknik antara PPI dengan TNI Polri untuk membahas gerakan-gerakan versi skep. Terminalnya mungkin saja hanya satu, memastikan kalau gerakan SMA 3 (SMA 1 juga disebut-sebut) salah dan kemudian harus dibuat kalah. Oke, pendapat terakhir ini memang sangat tendensius alih-alih membuatnya lebih halus dengan “agar terjadi kesepahaman juri dalam memberikan penilaian”.<span id="more-721"></span></p>
<p>Namun berhubung “rencana temu teknik” tersebut terlontar bertumpuk dengan asumsi tertentu terhadap beberapa peleton inti (tonti), wajar jika kemudian tujuan dibalik dari kegiatan itu bisa amat bias (tidak objektif) dan <em>cethak</em>. Perspektif ini semakin tajam kentara ketika Mr.Z (semua atas laporan rekan yang lain) menyimpulkan, kalau SMA 3 bertanding di Sleman, pasti kalah (dari tonti-tonti Sleman, -pen.)”. Terhenyaklah saya.</p>
<p>Saya mencoba menganalisis statemen tersebut. Pertama, ketika dikatakan SMA 3 akan kalah bila bertanding di Sleman, maka bisa disimpulkan minimal ada sistem penilaian yang berbeda. Artinya, bila di LBB lingkup Kota dan Propinsi penilaian didasarkan pada indikator keserempakan dan kecantikan, misalnya, maka di lingkup Sleman penilaiannya berbeda. Mungkin menggunakan indikator dompo dan tempo cepat.</p>
<p>Kedua, yang seharusnya tidak boleh terjadi, mengindikasikan juri-juri Kota, Propinsi dan Sleman punya pemahaman skep yang berbeda. Artinya, dengan adanya perbedaan tersebut, SMA 3 dan peleton inti dari Kota pada umumnya bisa menang di Kota dan Propinsi, dan karena itu akan kalah kalau bertanding ke Sleman. Sejelek-jeleknya tingkat ketepatan teori kedua saya ini adalah, standar juri di ketiga tempat tersebut berbeda. Boleh dikata, juri di Kota dan Propinsi terlalu baik hati, tidak se-sak klek juri Sleman. Wallahualam…</p>
<p><strong>Lihat Dulu Faktanya di Propinsi</strong><br />
Masih menurut saya, statemen tersebut kurang tepat. Kalau ingatan saya tidak bocor-bocor <em>banget</em>, SMA 3 sepertinya pernah menjadi juara umum 2 kali berturut-turut (TA 2007/2008 dan 2008/2009) LBB PPI Propinsi yang diselenggarakan di UIN Kalijaga, Sleman. Tolong dicatat, di Sleman!</p>
<p>Mohon jangan langsung reaktif dengan mengatakan juri di LBB tersebut termasuk kategori juri Propinsi, sehingga meski letak penyelenggaraan lombanya di Sleman -tidak bisa dikatakan “bertipe” Sleman. Namun, jangan abaikan fakta terbesar bahwa koordinator juri LBB tersebut di tahun ajaran ini, berasal dari PPI Sleman. Koordinator juri adalah sang pemimpin yang akan membawa bagaimana peserta LBB tersebut harus dinilai, apa saja yang dinilai, dan bagamana cara menilainya. Mohon maaf, rekan saya tadi terlibat aktif disana. Nyatanya, SMA 3 tetap menang bukan? Ayolah, bahkan satu-satunya gelar yang lepas dari tonti-tonti Kota, Danton Terbaik Putra, dibawa pulang utusan dari Gunung Kidul, bukan Sleman.</p>
<p><strong>Lihat Lagi Fakta di STIM YKPN</strong><br />
Kebiasaan/ kebijakan dari pengurus PPI saat ini; bila sebuah akademi atau perguruan tinggi berniat mengadakan LBB, dan kemudian meminta bantuan kepada pengurus PPI, maka anggota yang diterjunkan akan lebih difokuskan pada anggota PPI dimana akademi atau perguruan tinggi tersebut terletak. LBB STIM YKPN yang berlangsung tahun ajaran lalu, terletak di Sleman. Panitia intinya tentu dari PPI Sleman. Juara umumnya, SMA 3 (lagi). Detailnya, SMA 3 menjadi pemenang di kategori peleton putra, komandan putra dan komandan putri. Sedang juara peleton putri diambil SMA Muh 2, juga dari Kota Yogyakarta. Dimana peleton-peleton Sleman?</p>
<p><strong>Satu-satunya Pengecualian<br />
</strong>Akan tetapi, saya mengakui ada sebuah peleton inti (Sleman) yang bisa mengalahkan SMA 3. Adalah peleton SMK Penerbangan yang menjadi juara pada LBB Sanata Dharma di awal tahun 2007/2008. Ketika itu, lomba tidak mempertandingkan kategori-kategori seperti pada umumnya. Disini hanya ada 2 kategori lomba, peleton dan komandan, tanpa pemisahan antara putra dan putri. Bahkan sebuah peleton (berisi 16 orang termasuk komandan) boleh saja campuran putra dan putri. Disini SMA 3 kalah, hanya menjadi runner up.</p>
<p>Namun silahkan tilik dewan jurinya. 100% juri yang digunakan berasal dari POM AU. Kalau tidak salah, bukankah SMK Penerbangan itu berada dalam naungan AU? Sungguh <em>chemistry</em> yang tepat, mendatangkan juri 100% dari kalangan AU juga. Tanpa mengurangi rasa hormat pada SMK Penerbangan –yang memang bagus-, fakta kemenangan mereka pada LBB yang satu ini tidak bisa dijadikan dasar statemen “SMA 3 kalah dari peleton-peleton inti Sleman, di Sleman”. Kurang fair.</p>
<p><strong>Sister School<br />
</strong>Selamanya Mr.Z bisa mengelak untuk mengakui kesalahan statemennya. Nyatanya, sebuah kemustahilan untuk menghadirkan SMA 3 di LBB-LBB yang dikhususkan untuk peleton inti se-Kabupaten Sleman. Beliau cerdik, karena dengan begitu teorinya tidak akan pernah benar-benar runtuh. Meski ada celah, dengan cara mengundang SMA 3 untuk tampil sebagai “bintang tamu”/ eksebisi, namun saya tidak yakin hal ini bisa terwujud.</p>
<p>Satu-satunya jalan yang paling masuk akal untuk menengahi konflik ini adalah menjadikan SMA 1 Mlati sebagai indikator. Seperti yang kita ketahui bersama, dalam lingkup peleton inti (putri), SMA 1 Mlati adalah sister schoolnya SMA 3 Yogyakarta. Dalam istilah pakem kedua sekolah tersebut, mereka berdua adalah saudara seperguruan. Beberapa pelatih SMA 3 terjun membantu pelatihan di SMA 1 Mlati sejak pertengahan tahun ajaran 2007/2008.</p>
<p>Sudah pasti dengan begitu, teknik yang digunakan oleh SMA 1 Mlati sama persis dengan yang digunakan oleh SMA 3 Yogyakarta. Perbedaannya hanyalah tingkat kematangan peleton, dimana ketegasan dan keserempakan SMA 1 Mlati masih jauh dibawah SMA 3. Hal ini wajar, karena memang baru setahun terakhir ini mereka menerapakan pola penerapan teknik “padepokan karetan”. Karena itu, jika memang dikatakan SMA 3 akan kalah bila bertandang ke Sleman, tolong lihat dulu prestasi SMA 1 Mlati.</p>
<p><strong>Akhirnya…<br />
</strong>Poin penting yang perlu ditekankan dalam memandang kualitas SMA 1 Mlati saat ini adalah mereka belum sepenuhnya matang. Memang secara teknik sudah bagus, namun kultur sekolah yang berbeda membuat sistem pelatihan angkatan baru tidak bisa seintensif SMA 3 Yogyakarta. Inilah yang membuat tingkat kematangan peleton mereka belum bisa mencapai grade A. Walaupun demikian, perubahan besar nyata-nyata terjadi begitu mereka menjadi sister schoolnya SMA 3 Yogyakarta. Gagal total di LBB PPI Kab Sleman tahun 2007/2008 sehingga tidak bisa bertarung di LBB PPI Propinsi ditahun yang sama (melanjutkan periode negatif lebih dari 2 tahun sebelumnya), merupakan akhir dari masa-masa gelap SMA 1 Mlati. Karena setelah itu, ada revolusi besar-besaran. Inilah hikmah kekalahan.</p>
<p>Seminggu setelah melakukan revolusi teknik, peleton putri SMA 1 Mlati mengikuti LBB STIM YKPN 2008 yang menghadirkan tonti-tonti mayor di DIY. Meski hanya menempati juara harapan 3, mereka sesungguhnya menjadi yang terbaik dibanding tonti-tonti lain dari Sleman! Satu-satunya yang disayangkan, SMA 1 Sleman tidak hadir.</p>
<p>Dengan semangat baru, kembali SMA 1 Mlati mengikuti LBB Hardiknas Sleman 2007/2008. Kali ini dengan kehadiran sang jawara, SMA 1 Sleman. Walau sebelumnya sangat optimistik, SMA 1 Mlati harus puas menjadi runner up. Setelah itu, hadirlah kembali LBB PPI Kab Sleman (2008/2009). Masih dengan ingatan setahun lalu dimana mereka gagal total sehingga tidak dapat melaju ke Propinsi, SMA 1 Mlati tampil penuh harap. Hasilnya, (lagi-lagi) runner up dibawah SMA 1 Sleman.</p>
<p>Yang ingin saya sampaikan disini, lihatlah SMA 1 Mlati, yang telah menjadi kekuatan baru di Sleman. Lihatlah pula, mereka setidaknya sudah ajeg “memesan” posisi runner up. Lihat lagi, mereka sesungguhnya belum benar-benar matang. Karena itu, tolong lihat lagi statemen diatas, “Apa benar SMA 3 akan kalah bila bertanding di Sleman?”. Tolong, kalahkan dulu dengan telak sister schoolnya. Dan tolong, bersabarlah menunggu hasil LBB Hardiknas Sleman 2008/2009. Siapa tahu SMA 1 Mlati menjadi juara. Jika memang terjadi demikian, tolong bantu diri anda dari rasa malu. Kalau belum puas, silahkan undang SMA 3 menghadiri LBB-LBB anda di Sleman. Kita bukan jago kandang kok&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/tidak-hanya-jago-kandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jampi Maling</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/jampi-maling/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/jampi-maling/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 03:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhapad News</dc:creator>
				<category><![CDATA[USIL]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, tanpa sengaja, saya tertarik pada judul sebuah artikel yang dimuat harian Kedaulatan Rakyat. Saya lupa judul pastinya, tapi intinya ada seorang maling yang ketika beraksi, tidak mengenakan pakaian. Tulisan ini sama sekali tidak akan menampilkan sisi vulgar dari kejadian tersebut. Suwer! Silahkan baca kalau nggak percaya. Usut punya usut, rupanya sang profesional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Beberapa hari lalu, tanpa sengaja, saya tertarik pada judul sebuah artikel yang dimuat harian Kedaulatan Rakyat. Saya lupa judul pastinya, tapi intinya ada seorang maling yang ketika beraksi, tidak mengenakan pakaian. Tulisan ini sama sekali tidak akan menampilkan sisi vulgar dari kejadian tersebut. Suwer! Silahkan baca kalau nggak percaya.<span id="more-708"></span></em></p>
<p>Usut punya usut, rupanya sang profesional dalam dunia permalingan tersebut sudah terlebih dahulu berkonsultasi dengan tenaga ahli. Tidak mau kalah dengan para politisi yang banyak memesan tim sukses, sang maling juga melakukan hal demikian. Bedanya (atau nggak beda ya?), maling ini memesan “jampi” pada seorang dukun. Alhasil atas dasar keprofesionalan, sang dukun memberikan pendapat “ilmiah” bahwasanya agar tidak ketahuan dalam melakukan aksi maling, sang konsumen harus melakukannya dalam keadaan bugil.</p>
<p>Dan ternyata, strategi ini berhasil. Disebuah hotel (atau motel, lupa) sang maling beraksi tanpa ketahuan. Karuan saja yang kemalingan kelabakan. Untung dia segera lapor polisi… (bersambung setelah paragraf dibawah)</p>
<p><strong>Pesan dari cerita diatas</strong>: saya membayangkan kalau Bhapad maju lomba dengan memakai strategi ini. Tak jamin, para <em>klebet man</em> nggak bakal tahu kalau kita sudah melanggar batas garis pos. Para pendamping juri juga nggak bakal tahu kalau jumlah anggota peleton kita nggak sepuluh lengkap. Juri-juri juga tak akan tahu kalu komandan kita membaca krepekan materi didalam pos! Mantep to?</p>
<p>…(sambungan dari 2 paragraf diatasnya). Setelah lapor, sembari mengaku tidak melihat pelaku, polisi lalu mengecek kamera cctv hotel/ motel tersebut. Weladalah, langsung ketahuan ada maling bugil sedang beraksi. Ternyata, kekuatan jampi dukun tersebut meski bisa menipu mata manusia, tapi gagal meredam kemajuan teknologi. Kasihan, ketangkep deh…</p>
<p><strong>Pesan dari paragraf terakhir</strong>: saya akhirnya jadi ingat, seandainya Bhapad tetap menggunakan jampi-jampi ini ketika lomba, pasti bakal ketahuan curangnya. La wong kemanapun Bhapad pergi, ada banyak kamera mengikuti. Iyo ra?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/jampi-maling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>First Debut Bhapad 66 Putri</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/first-debut-bhapad-66-putri/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/first-debut-bhapad-66-putri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 03:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[DIARY BHAPAD]]></category>
		<category><![CDATA[Bhapad]]></category>
		<category><![CDATA[Bhayangkara Padmanaba]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>
		<category><![CDATA[SMA 3 Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[Ibu kita kartini Putri sejati Putri indonesia Harum namanya ..   Sebagian besar dari kita pastinya masih sangat hafal dengan lirik lagu di atas. Yap, itu merupakan secuil lirik lagu ibu kita kartini karangan WR Supratman . Lagu tersebut pasti akan mengingatkan kita pada sesosok wanita indonesia bernama kartini yang berjuang meningkatkan hatkat martabat wanita Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="FI">Ibu kita kartini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span lang="FI">Putri sejati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span lang="FI">Putri indonesia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span lang="FI">Harum namanya ..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="SV">Sebagian besar dari kita pastinya masih sangat hafal dengan lirik lagu di atas. Yap, itu merupakan secuil lirik lagu ibu kita kartini karangan WR Supratman . Lagu tersebut pasti akan mengingatkan kita pada sesosok wanita indonesia bernama kartini yang berjuang meningkatkan hatkat martabat wanita Indonesia. Untuk menghargai jasa kartini tersebut, pemerintah menetapkan tanggal 21 April sebagai hari kartini. Hari kartini biasanya diselenggarakan oleh tiap sekolah dimana baik guru naupun siswanya menggunakan pakaian adat daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="SV">Rasanya kurang afdol jika di SMA 3 tidak diadakan acara untuk memperingati hari kartini. Pengen segudang acara untuk memperingati hari kartini ? PPHK lah wadahnya . PPHK merupakan singkatan dari Pekan Peringatan Hari Kartini . Ada banyak perlombaan antar kelas maupun antar angkatan. Untuk PPHK tahun ini yang menggunakan konsep padmanaba van java, diadakan lomba dimas-diajeng, lomba menghias kue, dan lomba dance cowok. Untuk upacara, seperti tradisi pada tahun-tahun sebelumnya, semua petugas upacara dipercayakan kepada siswa putri. Dan tahun ini bhayangkara padmanaba 66 putri mendapat gilirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="SV">Ini merupakan tugas pertama bagi bhapad 66 putri dan kami pun berusaha untuk menampilkan yang terbaik untuk padmanaba. Kami berlatih kurang lebih 3 hari sebelum hari H. Hari pertama dimulai dengan pembagian tugas. Icha sebagai pemimpin upacara, nidia-titis-tyas sebagai komandan peleton, tia sebagai mc, maha sebagi pembaca doa, dilla sebagai pembaca UUD, dan nadia sebagi ajudan. </span><span lang="FI">Selain itu ada juga pasukan sembilan dan pasukan teratai. Setelah selesai pembagian tugas kami langsung memulai latihan formasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="FI">Hari kedua dan ketiga kami gunakan untuk memantapkan formasi. </span><span lang="SV">Tanpa tersa hari H pun datang. kami berseragam kebaya merah, rok batik dan vantofel. Upacara dimulai pukul 08.30. kami, bhapad 66 bersiap-siap di aula. Deg-degan, itulah yang kami rasakan. Saking deg-degannya, ada beberapa di antara kami yang hormat saja samapi gemetaran. hehe</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="FI">Saat bertugas, kami pun tidak luput dari kesalahan-kesalahan. </span><span lang="SV">Di pasukan sembilan misalnya. Tempo jalan ditempat sempat gak bareng, tarika benderanya juga agak cepat. Yahh, harap maklum saja karena memang baru tugas pertama ..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="SV">Selesai upacara. Inilah waktu yang kami tunggu-tunggu. </span><span lang="FI">Kami akan menampilkan formasi teratai, untuk pertama kalinya. Lagi-lagi &#8230; deg-degan. della sebagai danton dalam formasi ini, akhirnya memanggil kami untuk berkumpul. Tibalah waktu bagi kami. Formasi pun dibuka. Waduuh, ada sedikit kesalahan ! tapi semoga saja tidak terlihat. Setelah mengucapkan bhakti vidya, formasi ditutup dan kami kembali ke aula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span lang="FI">Waaah, akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas pertama kami. walaupun tentunya masih banyak kesalahan disana-sini. semoga kedepannya, kami bisa menjadi lebih baik lagi <img src='http://bhayangkara.padmanaba.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/first-debut-bhapad-66-putri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Formasi yang Hilang</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/formasi-yang-hilang/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/formasi-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 03:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[NOT ONLY TECHNIQUE]]></category>
		<category><![CDATA[Bhapad]]></category>
		<category><![CDATA[Bhayangkara Padmanaba]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Bagi tiap-tiap angkatan di Bhayangkara Padmanaba pasti tidak asing lagi dengan nama-nama formasi wajib di dalamnya, seperti  formasi teratai dan halilintar (plus langkah Padmanaba). Namun tahukah Anda, bahwa dahulu ada sebuah formasi bernama ‘formasi Padmanaba’ yang sejenak pernah menghiasi lapangan tengah sekolah kita?   Penulis telah melakukan sebuah wawancara kecil dengan salah seorang alumni bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="0in 0in 0pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="0in 0in 0pt;"><span style="Times New Roman;">Bagi tiap-tiap angkatan di Bhayangkara Padmanaba pasti tidak asing lagi dengan nama-nama formasi wajib di dalamnya, seperti<span style="yes;">  </span>formasi teratai dan halilintar (plus langkah Padmanaba). Namun tahukah Anda, bahwa dahulu ada sebuah formasi bernama ‘formasi Padmanaba’ yang sejenak pernah menghiasi lapangan tengah sekolah kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Penulis telah melakukan sebuah wawancara kecil dengan salah seorang alumni bernama Mas Gestan yang pada masanya telah ‘mencicipi’ sedikit formasi tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Awal mulanya, formasi Padmanaba direncanakan untuk ditampilkan pada tanggal 28 Oktober 1997 sebagai tugas perdana Bhapad 55. Pada masa itu Bhapad dibagi menjadi dua kelompok, yakni Bhapad A dan Bhapad B. Ternyata Bhapad A lah yang mendapat kesempatan untuk menjalankan tugas perdana tersebut, dan kebetulan narasumber termasuk salah satu di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Times New Roman;">Formasi tersebut dilatih sebanyak satu kali setelah pelantikan. Pelatihnya saat itu adalah Mas Satrio, Mas Wildan, dan Mas Rangga. Komposisi yang dibentuk dalam formasi ini dapat dibilang sederhana, karena hanya mengubah posisi tiga berbanjar menjadi lima berbanjar. Akan tetapi, untuk mencapainya dibutuhkan gerak-gerak perpindahan yang cukup rumit karena tiap-tiap anggota pasukan memiliki gerakan yang berbeda-beda sehingga mereka kesulitan dengan posisinya masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Namun, ketika hari-H datang menjelang, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. <span style="SV;" lang="SV">Akhirnya, pelaksanaan tugas perdana itu pun dibatalkan. Artinya, sejak kehadiran Bhapad 55, formasi Padmanaba tidak pernah lagi tampil di lingkungan SMA 3 Yogyakarta. Selain formasi teratai lebih populer, sistem pencatatan yang sangat lemah ketika itu menjadi faktor utama terhapusnya formasi Padmanaba dalam sejarah. Ketika Bhapad 54 melatih 56, formasi tersebut lupa diajarkan. Begitu pula ketika 55 membina 57, lupa juga. Entah bagaimana, tidak ada saru orangpun yang ingat bahwa kita punya formasi Padmanaba untuk diwariskan ke anak cucu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"></span><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="SV;" lang="SV"><span style="Times New Roman;">Menyadari dosa sejarah yang telah dilakukan, angkatan 55 akhirnya menciptakan formasi baru, formasi Halilintar. Formasi ini sebenarnya memiliki nenek moyang bernama Tango Formation yang hanya dikenal diangkatan 55. Lalu lewat revisi besar-besaran, yang lebih menonjolkan performa, lahirlah formasi fresh yang siap diadu di lomba formasi LBB, formasi Halilintar. Adalah Bhapad 57 yang pertama kali mempopulerkan formasi ini disebuah LBB.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="SV;" lang="SV"><span style="Times New Roman;">Semenjak itu, agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama, pencatatan seluruh formasi</span></span></span></span><span style="SV;" lang="SV"><span style="Times New Roman;"> yang dimiliki SMA 3, segera dilakukan. Memang, kita telah kehilangan formasi Padmanaba. Namun bila ada yang masih ingat detailnya, atau minimal garis besarnya, kita siap menyambut kembali &#8220;formasi yang hilang&#8221;.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0in 0in 0pt;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/formasi-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LBB Mana Yang terbaik?</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/lbb-mana-yang-terbaik/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/lbb-mana-yang-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 15:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[NOT ONLY TECHNIQUE]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Baris Berbaris]]></category>
		<category><![CDATA[Peleton Inti]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Sejak awal hingga akhir Maret lalu, sebuah tim dari Bhayangkara Padmanaba melakukan polling kecil-kecilan. Polling ini diselenggarakan dalam rangka evaluasi akhir pelaksanaan Lomba Baris Berbaris (LBB) SMA 3 Yk beberapa waktu lalu, sekaligus sebagai info awal bagi panitia LBB SMA 3 Yk tahun depan. Meski awalnya bersifat internal, namun dengan cakupan yang lumayan luas, jadilah polling ini kami sajikan kepada anda sebagai salah satu barometer pembanding (meski tidak sempurna) antar beberapa LBB sepanjang tahun 2008/2009.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sejak awal hingga akhir Maret lalu, sebuah tim dari Bhayangkara Padmanaba melakukan polling kecil-kecilan. Polling ini diselenggarakan dalam rangka evaluasi akhir pelaksanaan Lomba Baris Berbaris (LBB) SMA 3 Yk beberapa waktu lalu, sekaligus sebagai info awal bagi panitia LBB SMA 3 Yk tahun depan. Meski awalnya bersifat internal, namun dengan cakupan yang lumayan luas, jadilah polling ini kami sajikan kepada anda sebagai salah satu barometer pembanding (meski tidak sempurna) antar beberapa LBB sepanjang tahun 2008/2009.</em></p>
<p>Polling dibuat untuk mengukur sejauh mana LBB SMA 3 Yk mampu “bersaing” dengan LBB lain disepanjang tahun ini. Dengan demikian, tim, menggunakan LBB pembanding yang dirasa memiliki keterwakilan peserta cukup signifikan. Karena itu, LBB yang kemudian dinominasikan sebagai pembanding adalah LBB Menwa UII, LBB PPI Kota, LBB PPI Propinsi dan LBB SMA 8.</p>
<p>LBB PPI Kabupaten sengaja tidak dimasukkan karena sampel polling yang dipilih hanya berasal dari SMA-SMA Kota Yogyakarta. Dengan demikian, LBB PPI Kab dianggap tidak relevan dalam polling kali ini. Selain itu, LBB SMA 7 juga tidak dimasukkan sebagai nominasi mengingat pelaksanaan LBB nya diselenggarakan terlalu dini. Imbasnya, jumlah peserta tercatat sangat minim.</p>
<p>Pengambilan sampel dilakukan di beberapa SMA di Kota Yogyakarta dengan masing-masing 2 orang sampel untuk tiap sekolah. Semua SMA Negeri tercakup dalam sampel kecuali SMAN 6 Yogyakarta yang sedang tidak memiliki peleton inti (tonti). Selain SMA Negeri diatas, SMA Muhammadiyah 1 dan 2 juga diikutkan dalam polling. Dengan demikian, 11 sekolah dengan 22 responden merupakan sampling yang digunakan dalam polling ini.</p>
<p><strong>Kategori polling</strong></p>
<p>Pembandingan LBB Padmanaba dengan LBB lain dilakukan dengan menyusun kategori-kategori yang akan dibandingkan. Kategori tersebut ialah (1) tempat penyelenggaraan, (2) kondisi pos, (3) tingkat kesulitan materi, dan (4) kesiapan panitia. Berdasar kategori-kategori tersebut, hasil polling yang didapat adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Tempat penyelenggaraan<br />
</strong>Tempat penyelenggaraan LBB terbaik menurut responden adalah kompleks Akademi Angkatan Udara (AAU) dimana LBB SMA 3 Yk dilangsungkan. Tingkat keterpilihannya begitu tinggi dengan 50%, disusul Balaikota (LBB PPI Kota dan SMA 8 ) dengan 27.3%, kompleks UIN Sunan Kalijaga (LBB PPI Propinsi) dengan 13.6% dan kampus UII terpadu (LBB Menwa UII) hanya dengan 9.1%.</p>
<p><img class="alignnone" title="Tempat-penyelenggaraan-terbaik" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/bhapad/Tempat-penyelenggaraan-terbaik.jpg" alt="" width="536" height="323" /></p>
<p><strong>2. Kondisi pos<br />
</strong>Ternyata tidak ada relevansi antara tempat penyelenggaraan dengan kondisi pos. Hasil polling dibawah menunjukkan hal itu. Tentu saja, faktor yang berpengaruh adalah bagaimana panitia mendesain pos yang “layak pakai”.<br />
Kondisi pos terbaik menurut responden ialah LBB Menwa UII 31.8%, kemudian disusul tipis oleh LBB SMA 3 Yk dan PPI Kota masing-masing dengan 27.3%, LBB PPI Propinsi tertinggal cukup jauh 13.6%, dan LBB SMA 8 0% (nol persen).</p>
<p><img class="alignnone" title="pos ternyaman" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/bhapad/Pos-ternyaman.jpg" alt="" width="536" height="323" /></p>
<p><strong>3. Tingkat kesulitan materi<br />
</strong>Teorinya, semakin sulit materi lomba, semakin menantang LBB yang dimaksud. Akhirnya, gengsi LBB tersebut juga bisa turut terdongkrak. Berdasarkan materi, LBB dengan tingkat kesulitan tertinggi adalah LBB Menwa UII dan PPI Propinsi masing-masing dengan 9.1% (responden diberi pertanyaan sebaliknya), disusul LBB SMA 3 Yk dengan 18.2%, lalu LBB PPI Kota 22.7%, dan LBB SMA 8 dengan 40.9%</p>
<p><img class="alignnone" title="materi baris" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/bhapad/Materi-terenak.jpg" alt="" width="536" height="324" /></p>
<p><strong>4. Kesiapan panitia<br />
</strong>Profesionalitas panitia terlihat dari kesiapan mereka dalam merancang dan menjalankan lomba. Dengan demikian LBB yang diselenggarakan PPI sudah sewajarnya berada di jajaran teratas mengingat peran serta mereka yang sudah sejak dahulu kala. Berikut hasil pilihan responden:<br />
Panitia LBB PPI Propinsi mendapat apresiasi tertinggi dengan 54.5%, disusul panitia LBB PPI Kota dengan 27.3%, LBB SMA 3 hanya mendapat 13.6%, lalu panitia LBB Menwa UII dengan 4.5%, dan LBB SMA 8 lagi-lagi 0%.</p>
<p><img class="alignnone" title="panitia lomba baris" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/bhapad/Panitia-tersiap.jpg" alt="" width="536" height="324" /></p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong>Tim polling sebenarnya memiliki data kuantitatif mengenai LBB yang secara keseluruhan menjadi yang terbaik. Namun dengan mempertimbangkan kualitas pengambilan sampel (termasuk jumlahnya) dan pemilihan kategori yang jauh dari sempurna, sudilah kiranya pembaca bersabar hingga tahun depan. Karena itu untuk saat ini, hanya catatan diatas yang bisa kami persembahkan. Setidaknya, SMA 3 Yogyakarta telah memulai sebuah “penelitian” mengenai peleton inti. Semoga saja dengan modal ini, dunia pertontian DIY kedepan bisa menjadi lebih baik. Wassalam</p>
<p>By Litbang Bhapad (Tim polling: Bayu, Ian, Aldi, Nabila, Dewi, Santi -seluruhnya 66)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/lbb-mana-yang-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diary Padskibraka (1)</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/diary-padskibraka-1/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/diary-padskibraka-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bia</dc:creator>
				<category><![CDATA[PADSKIBRAKA]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan Paskibraka]]></category>
		<category><![CDATA[Peleton Inti]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>
		<category><![CDATA[Seleksi Paskibraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[  Kamis (26/3) lalu diadakan latihan gabungan calon Paskibraka di Mandala Krida (Mankrid). Latihan ini diikuti oleh SMA 1, SMA 3, SMA 5, SMA 8, SMA 10, SMA 11, dan MUHA . Latihan dimulai pada pukul 06.30 dengan lari 3x putaran mankrid . Tidak seperti lari biasanya, disini kami berlari sambil bernyanyi. Awalnya lumayan ngos-ngosan karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Kamis (26/3) lalu diadakan latihan gabungan calon Paskibraka di Mandala Krida (Mankrid). Latihan ini diikuti oleh SMA 1, SMA 3, SMA 5, SMA 8, SMA 10, SMA 11, dan MUHA . Latihan dimulai pada pukul 06.30 dengan lari 3x putaran mankrid . Tidak seperti lari biasanya, disini kami berlari sambil bernyanyi. Awalnya lumayan ngos-ngosan karena mungkin kami belum terbiasa dengan latihan seperti ini. Di sela-sela lari, ada beberapa peserta yang sempat terhenti, dan kebanyakan dari mereka adalah peserta dari SMA 5, hal ini disebabkan karena sebelum latihan dimulai mereka sudah lari terlebih dahulu (rajin tenan!).</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Setelah lari, kami diberi waktu istirahat 5 menit yang kemudian kami gunakan untuk berkenalan satu sama lain. Setelah istirahat, sesi PBB pun dimulai.<span> </span>Sesi PBB dilakukan di sebelah barat mandala krida . Kami dijadikan dalam satu peleton dengan posisi putra-putri atau berselang-seling. PBB dimulai dengan jalan ditempat yang kemudian juga diselingi dengan langkah tegap, hormat, hadap, dan balik. Rasanya aneh bagi kami dengan tempo jalan ditempat yang menurut kami sangat lambat sekali, tapi ternyata dengan tempo seperti itu dapat membuat kami tidak mudah lelah dan dapat mengikuti sesi PBB sampai selesai.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Setelah berlatih PBB selama beberapa menit ( dengan koreksi-koreksi tentunya ), kami dipindahkan dari barat mandala krida menuju sebelah timur mandala krida. Ternyata di sana juga ada latihan baris-berbaris yang saya kurang tahu itu dari SMA mana (maaf). Setelah melihat kami latihan, mereka memutuskan untuk berlatih bersama kami. Karena jumlah anggota peleton yang terlampau banyak, kami pun di bagi menjadi dua peleton, peleton putra dan peleton putri. Peleton putri sendiri masih dibagi lagi menjad dua peleton. Setelah cukup lama berlatih, ada beberapa peserta dari peleton saya yang keluar barisan karena merasa tidak kuat, mungkin ini lebih disebabkan karena medan yang menurut saya sangat panas. Dari jumlah awal 5 kurang 1, pada akhir latihan hanya tersisa 3 lengkap atau sembilan<span> </span>peserta.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Setelah selesai sesi PBB, diadakan sesi perkenalan antar peserta dan perkenalan dari purna paskibraka 2008. Latihan gabungan hari ini selesai pada pukul 10.00. Menurut saya, dengan latihan gabungan seperti ini, selain dapat menambah teman, kami pun dapat energi ekstra dalam latihan. Maklum, dapet suasana baru&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">Nabila Husna S.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/diary-padskibraka-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus 875: SMA 1 Mlati Layangkan Surat Protes</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/12/kasus-875-sma-1-mlati-layangkan-surat-protes/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/12/kasus-875-sma-1-mlati-layangkan-surat-protes/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 13:09:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Baris Berbaris]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[(Review LBB PPI Propinsi) Berbanding terbalik dengan euphoria yang melanda SMA 3 Yogyakarta, rekan-rekan Laskar Melati malah shock berat. Masalahnya, kami jadi juru kunci di kategori peleton putri akibat nilai pos 2 yang amat sangat jelek. Awalnya, kami mengira ada kesalahan komandan yang lupa/ bolong gerakan sehingga nilainya sedemikian jauh dibanding peleton lain. Namun ternyata, setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Review LBB PPI Propinsi)</p>
<p>Berbanding terbalik dengan euphoria yang melanda SMA 3 Yogyakarta, rekan-rekan Laskar Melati malah shock berat. Masalahnya, kami jadi juru kunci di kategori peleton putri akibat nilai pos 2 yang amat sangat jelek. Awalnya, kami mengira ada kesalahan komandan yang lupa/ bolong gerakan sehingga nilainya sedemikian jauh dibanding peleton lain.<span id="more-387"></span> Namun ternyata, setelah melihat kembali rekaman pertandingan, gerakan kami –yakini- lengkap. Bila ada unsur kekhilafan manusia disana, mungkin 2 gerakan saja yang bolong. Bayangkan, nilai kami di pos tersebut hanya 875 poin! Bandingkan dengan nilai Bhapad “B” yang 1523, atau Bhapad “A” yang 1508. Sangat jauh! Atau, bandingkan dengan peleton peringkat kedua dari bawah, SMA 1 Sewon, yang bisa meraih 1171 poin.</p>
<p>Hanya SMA 1 Mlati saja yang nilainya di pos 2 tidak mencapai angka ribuan. SMA lain, nilai terjelek yang tercatat  adalah 1111 (SMA 8 Yogyakarta). Nilai rata-rata seluruh peleton di pos tersebut (diluar SMA 1 Mlati) mencapai 1304,74 poin. Mlati hanya 875 poin! Aneh bukan? Bahkan, bila diasumsikan gerakan-gerakan kami hanya dihargai angka 5 pun, Mlati berhak menembus poin ribuan (gerakan lengkap), atau setidaknya 900an (khilaf 2 gerakan). Saya pribadi tidak percaya ada juri yang bisa memberi angka 5 untuk seluruh gerakan (gerakan dasar pula!). Atas dasar inilah, mengapa pada Selasa lalu SMA 1 Mlati melayangkan surat protes resmi kepada panitia untuk mengecek kembali nilai mereka di pos 2.</p>
<p>Kemungkinan kesalahan pertama adalah; sistem rekap yang entah bagaimana (baca: tanpa sengaja) mengkopi paste/ ngedrag nilai akhir pos 1 ke pos 2. Nilai pos 1 Laskar Melati adalah 875 poin, sama persis dengan nilai pos 2. Wajar bila kami mengindikasikan ada sistem eror yang mengkopi paste/ ngedrag nilai dari pos sebelumnya. Terlebih lagi, kesalahan akibat copy paste/ ngedrag seperti ini tidak serta merta memunculkan tanda peringatan formula eror excel: “(!) <em>the formula in this cell differs from the formulas in this area of spreadsheet</em>”. Akibatnya, tim rekap tidak mendapatkan pertanda signifikan yang mencolok untuk menyadari terjadinya kesalahan. Ditambah antrian lembar juri yang menunggu giliran diinput dan tuntutan pengumuman, jadilah sebuah kegagalan sub sistem tidak benar-benar disadari (atau malah dibiarkan –semoga saja tidak). Tapi ini bukan alasan pembenaran jika terjadi kesalahan. Peserta lomba berhak mendapatkan apa yang memang menjadi haknya. Memang, keputusan dewan juri (si pemberi nilai di pos) tidak dapat diganggu gugat. Namun, peserta berhak mendapat nilai inputan yang semestinya, tanpa terduksi kesalahan dalam rekapitulasi. Bukankah kehati-hatian rekapitulasi nilai identik dengan permainan catur? <em>Ketepatan dulu, baru kecepatan</em>.</p>
<p>Sebagai catatan, sejak sistem baru LBB Propinsi berlangsung tahun lalu, tidak diketemukan nilai pos 2 peleton putri yang disamai (apalagi lebih rendah) oleh nilai pos 1 nya. Mengapa? Pos 1 hanya terdiri dari 17 gerakan, sedang pos 2 mencapai 25 gerakan. Dihitung dengan margin eror komandan lupa gerakanpun, kecil sekali peluang nilai pos 2 bisa sama dengan pos 1. Apalagi jenis gerakan pos 2 yang hanya gerakan dasar dan tunggal, terhitung lebih mudah dihapal (kalau <em>blank</em>, komandan cukup meneriakkan segala macam gerakan dasar). Lagipula, ini LBB tingkat propinsi dimana peleton yang lolos kualifikasi tentu peleton yang berkualitas di daerahnya masing-masing. Peleton berkualitas, nggak mungkin komandannya sedemikian bocor dalam menghapal materi. Dan komandan Mlati, sang peringkat 4 kategori komandan putri LBB Propinsi 2008, berdasar rekaman, diyakini tidak tertinggal satu gerakan pun!</p>
<p>Berikut persentase pertambahan nilai di pos 2 dari pos 1 setiap sekolah (berdasar nilai dan ranking LBB di lembar rekapitulasi yang dibagikan panitia):<br />
SMA 3 (45.74%), SMA 3 (55.94), SMA 5 (41.41), SMA 1 (24.21), SMA 7 (39.47),<br />
SMA 1 (33.93), Tirto (32.71), SMA 2 (42.15), SMK 1 Btl (48.09), SMA 7 (25.88),<br />
Tirto (60.06), SMA 9 (22.46), SMA 4 (45.63), SMA 2 Wnsr (46.95), SMK 1 (27.89),<br />
SMA 1 Slm (42.74), SMA 11 (33.80), SMA 1 Dep (85.00), SMA 5 (35.39),<br />
SMA 1 Slm (60.49), SMA 8 (17.56), SMK 1 Dep (33.79), SMA 1 Jet (23.42),<br />
SMA 1 Peng (54.38), SMA 1 Wnsr (25.29), SMK 7 (31.10), SMA 1 Swn (42.45).<br />
Data diatas menunjukkan dengan jelas betapa besar margin pertambahan nilai yang diperoleh tiap peleton di pos 2 dibanding dengan pos 1 nya. Dengan rata-rata pertambahan nilai yang mencapai 39.92% untuk seluruh peleton, lihatlah Mlati yang hanya 0 (nol) %.</p>
<p>Sebenarnya masih ada kemungkinan kesalahan kedua, ketiga dan keempat tentang nilai pos 2 Laskar Melati yang hanya 875. Namun belum waktunya saya mengatakan kemungkinan kesalahan itu disini. Salah satu kemungkinannya adalah kesalahan fatal identik, yang kami indikasikan juga menimpa nilai seluruh peserta lomba di Pos 3. Silahkan bandingkan, dengan materi yang sama plek, nilai rata-rata pos 3 peleton SMA putri tahun lalu mencapai sekitar 549 poin. Tahun ini nilai rata-ratanya hanya sekitar 325 poin, terpangkas nyaris setengahnya. Kenapa bisa? Berpikirlah*!</p>
<p>Terakhir, bila ternyata tidak ditemui adanya kesalahan rekap, saya pribadi atas nama teman-teman Laskar Melati mengucapkan permohonan maaf kepada panitia atas protes kami yang sedemikian kerasnya. Toh, selama kebenaran terungkap, itu adalah berkah untuk manusia yang berpikir. Bagi Mlati, itu adalah feedback untuk berlatih lebih tekun dan habis-habisan. Karena terima atau tidak , nilai 875, dengan asumsi gerakan lengkap, mengindikasikan nilai kami di pos 2 kemarin tidak mencapai 5 poin per gerakan! (Yang pasti)Malaikat sudah tahu, kami bukan juaranya&#8230;</p>
<p style="text-align: right;">*Dengan asumsi indeks pengali ajeg<br />
*Materi gerakan sama plek<br />
*Nilai terpangkas hampir setengahnya (± 41 %)</p>
<p>Pemain catur,<br />
Galih Kusuma Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/12/kasus-875-sma-1-mlati-layangkan-surat-protes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun Ini, Kesempatan Terbaik Mengalahkan SMA 3</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/tahun-ini-kesempatan-terbaik-mengalahkan-sma-3/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/tahun-ini-kesempatan-terbaik-mengalahkan-sma-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 04:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[TECHNIQUE ONLY]]></category>
		<category><![CDATA[Bhapad]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>
		<category><![CDATA[SMA 3 Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Orang boleh bilang, “Tonti SMA 3 bukan yang terbaik”, karena kita memang bukan yang terbaik. Orang juga boleh bilang, “Peleton SMA 3 tuh beja”, karena kita memang sering bejo! Teman-teman mungkin bisa mengingat kembali keberuntungan yang kita peroleh di LBB PPI Kota tahun 2007 lalu dimana peleton putri kelas X sukses mencuri posisi runner up. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang boleh bilang, “Tonti SMA 3 bukan yang terbaik”, karena kita memang bukan yang terbaik. Orang juga boleh bilang, “Peleton SMA 3 tuh <em>beja</em>”, karena kita memang sering <em>bejo</em>! Teman-teman mungkin bisa mengingat kembali keberuntungan yang kita peroleh di LBB PPI Kota tahun 2007 lalu dimana peleton putri kelas X sukses mencuri posisi runner up. Kalkulasi ulang yang diterapkan lab litbang Bhapad, menemui “angka malaikat” pada poin peleton tersebut di POS I. Kalkulasi ulang menarik dilakukan begitu pelatih, di keesokan hari setelah lomba, menemui nilai pos I peleton putri kelas X sedemikian besarnya. Mengalahkan semua peleton, termasuk peleton putri kelas XI sebagai jawara dengan margin angka 215 poin! Itu selisih di pos I thok! Hitung punya hitung, meski formula kalkulasi yang kita kembangkan tidak bisa sama 100% dengan milik panitia, tim litbang mendapati kemungkinan salah ketik di ruang rekap. Nilai yang seharusnya 7.5 (tujuh titik lima) diketik menjadi 75 (tujuh lima) dengan asumsi human eror yang tidak sempurna menekan keyboard pada tombol “Dot &amp; Del” yang letaknya berada pada baris terbawah, no dua dari kanan. Inilah 75, angka malaikat yang diduga kuat menjadi penyebab kecelakaan bagi peleton putri kelas X hingga “terjatuh” ke posisi 2.</p>
<p>Itulah keberuntungan, sebuah takdir nasib yang bisa membuat kita berada pada titik teratas tanpa diduga-duga. Orang Jawa punya pendekatan unik untuk memahami keberuntungan ini dengan ungkapan “sehebat-hebatnya orang, masih kalah hebat dengan orang yang beruntung”. Dunia psikologi modernpun memandang keberuntungan dengan cara yang cukup baik. Pada bidang-bidang yang berkaitan dengan motivasi diri, sering ditemui suatu kesimpulan dimana keberuntungan tidak bisa dilihat sebagai keberuntungan semata, namun sebuah titik akhir dari sebuah proses. Secara optimistik (anda boleh tidak setuju) menurut pandangan tersebut, keberuntungan tidak datang dengan tiba-tiba, namun diperjuangkan. Bhapad mencoba membuatnya lebih mudah dicerna, “Keberuntungan berbanding lurus dengan usaha” atau “Keberuntungan cenderung memilih pihak yang punya persiapan lebih matang”.</p>
<p>Jadi, kalau Bhapad tetap ingin mendapatkan keberuntungan, tetaplah rajin latihan. Itu pesan moralnya. Tidak sekedar rajin, namun juga efektif! Sekarang, kalau mau latihan efektif, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Misalnya nih, supaya latihan memaknai tempo bisa cepat terealisasi, pada tingkatan paling dasar, dipakai dong metronomnya. Tapi kalau metronomnya hilang, njuk piye? Kapan latihan tempo bisa beres. Suwi deh!!</p>
<p>Maka dari itu, karena Bhapad sekarang (angkatan 66) tidak berlatih dengan efektif akibat kehilangan metronom, unsur usaha sebagai penyogok keberuntungan otomatis hilang. Kalau sogokannya hilang, keberuntungan malas datang. Itulah mengapa, senada dengan judul diatas, “tahun ini merupakan kesempatan terbaik bagi sekolah lain untuk mengalahkan SMA 3”. Mengapa? Karena Bhapad (mungkin) kehilangan keberuntungan, karena nggak punya metronom!</p>
<p>Semoga saja ada yang bertanggung jawab untuk menggantinya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (Ini adalah doa orang yang teraniaya).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/tahun-ini-kesempatan-terbaik-mengalahkan-sma-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Calon Padskibraka 2009</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/calon-padskibraka-2009/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/calon-padskibraka-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 13:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[NOT ONLY TECHNIQUE]]></category>
		<category><![CDATA[PADSKIBRAKA]]></category>
		<category><![CDATA[Paskibraka]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>
		<category><![CDATA[SMA 3 Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[“Setelah terhempas di 2 tahun terakhir, bagaimana prospek SMA 3 dalam persaingan Paskibraka di tahun 2009?”. Pikiran seperti ini jelas menunjukkan suasana “kepikiran” mengingat ada pertanyaan lain yang lebih simpel seperti yang umum terbesit di pertengahan tahun, “Siapa kira-kira yang akan menjadi calon Paskibraka kita?”. Pertanyaan kedua memang umum, sangat umum malah. Tidak cuma dikalangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">“Setelah terhempas di 2 tahun terakhir, bagaimana prospek SMA 3 dalam persaingan Paskibraka di tahun 2009?”. Pikiran seperti ini jelas menunjukkan suasana “kepikiran” mengingat ada pertanyaan lain yang lebih simpel seperti yang umum terbesit di pertengahan tahun, “Siapa kira-kira yang akan menjadi calon Paskibraka kita?”.</span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: medium;"><span id="more-279"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">Pertanyaan kedua memang umum, sangat umum malah. Tidak cuma dikalangan internal Bhayangkara Padmanaba dan SMA 3 Yogyakarta, sekolah lainpun memiliki pertanyaan serupa. Hanya saja, kalau sekolah (baca: tonti) lain sudah memikirkan itu sejak awal tahun ajaran atau minimal ketika sedang menyeleksi tontinya, kita disini malah belum memikirkannya sama sekali.<br />
Alasan pertama, utama dan satu-satunya adalah tradisi. Dahulu kala, bukti menyajikan betapa calon Padskibraka baru diseleksi mepet-mepet seleksi Paskibraka Kota Yogyakarta. Tahun lalu meski sedikit lebih lama, tetap saja seleksi kita boleh dibilang mepet. Monggo ditanyakan ke panitia seleksi tahun lalu, apa yang terjadi pada seleksi kita. Percaya atau tidak, ketika pendaftaran calon Paskibraka Kota Yogyakarta ditutup, wakil SMA 3 masih belum fix meski berkas sudah dimasukkan! Bahkan Wakasek Kesiswaan, Pak Hamid, sampai harus menelepon Panitia seleksi di Dinas Pendidikan Kota untuk merevisi wakil SMA 3 beberapa hari kemudian. Baru ketika TM (technical meeting) calon Paskibraka diselenggarakan oleh Dinas, wakil SMA 3 di-fix-kan. Dengan demikian, kalau SMA lain hanya memasukkan 4 nama, SMA 3 Yogyakarta sanggup menyertakan 7 nama (kalau tidak salah), dimana 3 diantaranya akhirnya dicoret di detik terakhir untuk memenuhi kuota maksimal 4 perwakilan.<br />
Berangkat dari fakta tersebut, coba lihat kembali pertanyaan pertama pada paragraf pertama diatas. Mungkinkah prospek kita akan berkualifikasi “baik” bila sistem seleksi internal belum dibenahi? Mungkinkah kita mendapatkan calon potensial tanpa didukung sistem seleksi yang rapi? Haruskah kita menunggu bakat alamiah lagi seperti di tahun 1999, 2000, 2005 dan 2006? Yah, tidak usah susah-susah memikirkan pertanyaan kedua bila kita belum bisa memberi jawaban positif pada pertanyaan pertama. Mungkin cara berpikir saya terbalik, tapi ini mungkin yang terbaik.</span></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><span style="font-size: medium;"><!--more--></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/calon-padskibraka-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENUJU LIGA BARIS BERBARIS DIY 2008/ 2009</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/menuju-liga-baris-berbaris-diy-2008-2009/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/menuju-liga-baris-berbaris-diy-2008-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 23:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhapad News</dc:creator>
				<category><![CDATA[NOT ONLY TECHNIQUE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Baris Berbaris]]></category>
		<category><![CDATA[Planet Tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Ini lagi-lagi usul gila, menyambung usul saya sebelumnya tentang Halinterai Samhilag Award (HS Award). Jika usul sebelumnya lebih diarahkan bagi rekan-rekan di Padmanaba, maka usul yang satu ini saya lempar ke dunia pertontian secara umum.   Maksud tujuan Ide awal tentang Liga Baris Berbaris dibuat berdasar beberapa pertimbangan, yaitu: Meningkatkan posisi tawar dunia pertontian (DuPont) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ini lagi-lagi usul gila, menyambung usul saya sebelumnya tentang Halinterai Samhilag Award (HS Award). Jika usul sebelumnya lebih diarahkan bagi rekan-rekan di Padmanaba, maka usul yang satu ini saya lempar ke dunia pertontian secara umum.<span id="more-86"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Maksud tujuan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ide awal tentang Liga Baris Berbaris dibuat berdasar beberapa pertimbangan, yaitu:</span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Meningkatkan posisi tawar dunia pertontian (DuPont) secara umum dimata masyarakat (dan tentu sponsor)</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Meningkatkan kualitas LBB yang selama ini sudah cukup eksis (dan juga stagnan)</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Membuat persaingan yang lebih dinamis dan ketat hingga akhir tahun ajaran</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Menjadikan LBB menjadi suatu kegiatan positif yang elit dan elegan</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sarana adu prestasi yang ajeg sehingga bisa dijadikan sarana evaluasi bersama berbagai pihak (penyelenggara, sekolah, pemerintah dll).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Selayang pandang</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Liga Baris Berbaris (Liga) adalah sebuah kompetisi setahun penuh yang berisi beberapa LBB eksis. Meski berbaur dalam sebuah Liga, masing-masing penyelenggara masih memiliki hak otonom dalam menjalankan LBB miliknya. Mirip dengan sistem di Uni Eropa, negara federal dan organisasi “merger” lainnya, Liga juga membutuhkan kerelaan dari anggotanya untuk menyerahkan beberapa haknya pada Liga. Dalam hal ini, hak yang direlakan sangat kecil yaitu penentuan waktu pelaksanaan lomba, standarisasi kegiatan dan publikasi (karena harus mencantumkan juga kata Liga disamping nama LBB konvensionalnya). Untuk masalah lain, tetap menjadi hak otonom masing-masing penyelenggara, mulai dari pembiayaan, karakteristik lomba, kepanitiaan dan lain-lain. Hanya saja, karena tergabung dalam Liga, setiap lomba merupakan rangkaian dari lomba yang lain, saling terhubung dan saling mendukung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Anda bisa membayangkan Liga akan sangat mirip dengan GP Motor dan Formula 1 dimana dalam satu musim terdiri dari beberapa seri. Masing-masing seri mempunyai tim penyelenggara yang secara struktural terpisah/ otonom namun tetap harus mematuhi standar umum asosiasi. Penyelenggara tiap seri patuh kapan balapan di sirkuitnya harus dilaksanakan, patuh dengan syarat-syarat minimal penyelenggaraan dan tentu publikasinya harus mencantumkan asosiasi akbar tempatnya bernaung. Dengan mengadopsi seri Moto GP dan F1 seperti diatas, kelak kita akan mendapat LBB dalam Liga dengan tajuk seperti berikut,” Liga Baris Berbaris 2008/ 2009 Seri I, MENWA UII. Lalu Liga Baris Berbaris 2008/ 2009 Seri II, Merah Putih (PPI Kota), dst”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Diluar itu, eksekusi teknis/ tetek bengek lain adalah tanggung jawab masing-masing penyelenggara. Ketika berkinerja buruk, keanggotaannya bisa dicoret. Namun ketika bagus, bisa dijadikan teladan bagi penyelenggara lain untuk ditiru. Otomatis, bila sistem Liga dibuat seperti ini, kualitas LBB akan semakin baik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Saya teringat, ditahun 2005, LBB PPI Kota (Merah Putih) bertabrakan jadwal dengan LBB Menwa UII. Ditahun 2007 kemarin juga sempat terjadi <em>tempuk</em> antara LBB PPI Propinsi dengan LBB UST/ Taman Siswa (LBB Tamsis akhirnya merubah jadwal di saat-saat akhir). Nah, kejadian-kejadian tabrakan jadwal seperti itu sangatlah merugikan. Merugikan peleton (sekolah) dan juga penyelenggara. Sekolah rugi karena tidak bisa memaksimalkan potensi peleton. Dan betapa kasihannya LBB “bergengsi kecil” ketika mengalami tabrakan jadwal dengan LBB “bergengsi besar” seperti diatas; kehilangan peserta!! Kerugian finansial dan kegagalan promosi (LBB yang diselenggarakan PT biasanya bertujuan untuk mempromosikan kampusnya ke kalangan pelajar SMA) sudah barang tentu menjadi kenyataan. Tidak berhenti disitu, kerugian finansial dan promosi berpotensi besar pada dibekukannya LBB tersebut ditahun-tahun mendatang oleh “sponsor”. Jika begitu, lagi-lagi peleton (sekolah) juga yang rugi karena kehilangan ajang berkompetisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Bayangkan sebuah kondisi ekstrim, bila semua LBB dibekukan, sekolah juga akan menarik “investasi prestasi” mereka dari tonti. Tonti dikenal sebagai investasi mahal (bila dikelola sungguh-sungguh); mulai dari pembuatan seragam, harga sewa pelatih yang biasanya dibayar per jam, biaya pendaftaran hingga akomodasi lomba. Ditahun ajaran 2007/ 2008 ini saja, SMA 3 menggelontorkan dana sekitar $ 1600-1700 untuk semua kegiatan Bhayangkara Padmanaba. Harga setara (atau mungkin lebih) dikeluarkan SMA 1 yang jumlah anggota tontinya lebih banyak ditambah armada peleton yang mereka terjunkan di berbagai LBB tahun ini adalah yang paling besar. SMA lain meski tidak sebesar itu, tetap saja mengeluarkan banyak dana, terutama untuk pembuatan seragam yang memang memakan porsi paling besar dalam anggaran tahunan tonti. Bila dana yang dikeluarkan sangat besar, buat apa bagi sekolah terus mempertahankan tontinya bila tidak ada ajang penyaluran prestasi yang nyata dan kontinyu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kasus diatas hanyalah skenario terburuk yang mungkin terjadi dari sebuah “kesalahan” sepele macam jadwal lomba yang tabrakan. Bila sistem Liga digulirkan, dijamin tidak akan terjadi lagi kasus-kasus tabrakan jadwal seperti itu. Para anggota Liga ditiap awal tahun ajaran bertemu, mendiskusikan jadwal pelaksanaan masing-masing lomba disepanjang tahun. Jadwal pelaksanaanya pun dibuat sedemikian rupa agar dapat menjaring kepentingan-kepentingan khusus. Misalnya, LBB Menwa UII diselenggarakan sebagai peringatan Milad UII, masak tanggal pelaksanaannya dibuat jauh dari bulan Miladnya. Jadi, meskipun penentuan tanggal penyelenggaraan lomba ditentukan oleh Liga, tidak akan pernah lepas dari konteks/ tujuan awal LBB tersebut terselenggara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ketika ada penyelenggara LBB lain yang belum tergabung dalam Liga, mereka tinggal menghubungi sekretaris Liga. Melihat jadwal Liga dan menjadikannya sebagai panduan menyelenggarakan LBBnya sendiri yang masih independen. Liga pun akan mencatat kasus itu, sehingga kalau ada pihak lain yang datang kemudian dan akan mengadakan LBB insidentil, pelaksanaan LBBnya tidak akan bertabrakan dengan jadwal Liga dan juga jadwal LBB independen lainnya. Hasilnya, tentu penjaringan peserta lebih optimal. Bukankah secara kasar kesuksesan LBB cukup dilihat dari jumlah pesertanya? Sponsorpun yang dilihat pertama kali adalah jumlah yang satu ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Anggota</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Tidak semua LBB bisa masuk dalam Liga. Syaratnya sebenarnya sederhana, LBB tersebut harus ajeg dilakukan setiap tahun. Jadi, ketika sebuah LBB baru diselenggarakan pada tahun 2007, dia belum berhak masuk dalam komunitas Liga. Baru di tahun 2008 bila memastikan akan menyelenggarakan lomba lagi, LBB tersebut bisa turut dalam rapat Liga di awal tahun ajaran untuk membahas rencana perjalanan Liga sepanjang tahun itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Tidak itu saja, sebuah LBB yang diawal mulanya telah masuk dalam komunitas<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Liga, bisa jadi dicutat. Hal itu terjadi bila selama 2 tahun berturut-turut, sebuah LBB batal/ tidak terselenggara. Tidak terselenggara setahun masih bisa ditolerir lah, namun kalau sampai 2 tahun berturut-turut, harus out. Untuk kasus penyelenggara LBB yang dikeluarkan dari Liga seperti ini, keanggotaannya dalam Liga bisa dipulihkan bila mengaktifkan lagi LBBnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Karaktersitik</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Seperti yang dijelaskan di bagian pertama, meski tergabung dalam Liga, masing-masing LBB hanya berkewajiban memenuhi standarisasi tertentu. Ketika berbicara mengenai karakteristik lomba, setiap penyelenggara memiliki hak otonom yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi, jangan dibayangkan Liga akan menyamaratakan sistem penilaian dan kejuaraan. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip dinamisme yang mendasari ide pembentukan Liga. Bahaya kalau sistemnya sama, pertama tentu membosankan, dan yang kedua bisa-bisa pemenangnya hanya itu-itu saja. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Bleh</em>..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Saya membayangkan setiap LBB punya karakteristik tertentu. Hasilnya sih semoga juaranya bisa <em style="mso-bidi-font-style: normal;">gonta ganti</em> karena sebuah peleton mungkin hanya cocok dengan karakter lomba tertentu. Mirip dengan Roger Federer (tukang tenis) yang mengerikan dilapangan rumput namun sering gagal di lapangan tanah liat, laiknya Valentino Rosi yang jago di trek kering namun keteteran dalam kondisi hujan, dll. Jadi biarkan saja LBB Propinsi tetap tampil dengan jumlah materi dan pos yang berjibun; biarkan saja LBB SMA 3 dengan materi acak, pinalti berlogika dan pos lebarnya; LBB SMA 1 dengan pos sempit dan defilenya; LBB Menwa UII dengan sistem penentuan juara umum yang beda; LBB Kota dengan sistem standarnya yang ajeg. Semuanya demi dinamisme, jangan menyamakan karakter lomba. Membosankan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sistem kejuaraan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Perlakuan pemenang ditiap seri tidak berubah dan tetap sama seperti yang berlangsung di LBB selama ini. Jadi tetap ada juara (1-3) peleton dan komandan (putra-putri). Beberapa LBB mungkin hanya menampilkan komandan terbaik ketimbang 3 besar komandan. Sah-sah aja, ingat karakteristik lomba! Tergantung dana kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Yang berbeda, seperti halnya Moto GP dan F1, diakhir tahun ajaran akan muncul juara sejati. Diberikan pada peleton dan komandan dari sekolah yang paling banyak menjadi juara seri. Disinilah letak bedanya dengan Moto GP dan F1, mereka menggunakan sistem poin sedangkan Liga memakai sistem juara terbanyak. Sistem poin riskan diterapkan mengingat jumlah peserta LBB yang tidak ajeg. Untuk kategori Juara Umum Liga bagi sekolah tertentu tidak perlu diberikan, karena itu sudah masuk dalam salah satu kategori HS Award: sekolah terbaik </span><span style="font-family: Wingdings; mso-ascii-font-family: 'Times New Roman'; mso-hansi-font-family: 'Times New Roman'; mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"><span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;">J</span></span><span style="font-family: Times New Roman;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Penutup</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Dengan sistem Liga, persaingan antar sekolah tidak sekali putus ditiap LBB. Sebaliknya, hingga musim (tahun ajaran) berakhir, persaingan akan terus terjadi. Menjadi juara di satu seri saja tidak cukup, untuk menjadi yang terbaik haruslah memastikan diri menjadi juara di banyak seri. Untuk mencapai ini, sekolah akan lebih terpacu. Tidak cukup menurunkan peletonnya dalam 1-2 lomba (biasanya hanya untuk LBB Kab/ kota dan Propinsi) saja, namun diseluruh lomba dalam Liga. Inilah nilai lebihnya Liga, antara satu lomba dan yang lain saling terhubung dalam sistem kejuaraan terintegrasi. LBB lebih semarak, sponsor lebih tertarik, sekolah lebih terpacu. Yang penting, ditiap (awal) tahun ajaran, Liga mengirim surat ke seluruh sekolah tentang jadwal penyelenggaraan berbagai seri LBB. Dengan demikian, sekolah tidak akan melihat LBB Propinsi saja, LBB Kab/ Kota saja, namun semuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Terakhir, LITBANG Bhapad mengusulkan untuk menjadikan sistem kejuaraan Liga menggunakan racing poin mengingat gengsi dan tingkat persaingan LBB yang satu dan yang lain berbeda. LITBANG mengusulkan, bila pemenang LBB PPI Propinsi mendapat nilai 10, maka pemenang LBB PPI Kota hanya boleh mendapat nilai 9, LBB PPI Kab 8, LBB PT 7, LBB SMA 6 dst. Yah, sekali lagi ini masih ide, banyak hal yang perlu diperbaiki. Tapi yang terpenting, akankah Liga terselenggara? Saya rasa PPI (Purna Paskibraka Indonesia) punya power yang cukup untuk menjadikan ini nyata. Salam…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">(M P Senopati I Y)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2008/09/menuju-liga-baris-berbaris-diy-2008-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

