<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bhayangkara Padmanaba &#187; Mc LHEER</title>
	<atom:link href="http://bhayangkara.padmanaba.or.id/category/mc-lheer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id</link>
	<description>-not only technique-</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 15:28:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Geguritan Gareng &#8211; Petruk</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/03/geguritan-gareng-petruk/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/03/geguritan-gareng-petruk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>others</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=1001</guid>
		<description><![CDATA[Ing sapanunggalaing carita Urip wong loro gagah perkasa Satriya kang sakti mandraguna Bagus kaya raden Janaka   Kerah amarga murka Kerah amarga duka Kerah amarga suka Kerah amarga klana   Rai kang bagus dadi ajur Awak kang prakosa melu ajur Kabegjane ora nganti mungkur Amarga batara dadi padha akur Sayahilananda Tito Yuwono]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Ing sapanunggalaing carita</p>
<p>Urip wong loro gagah perkasa</p>
<p>Satriya kang sakti mandraguna</p>
<p></span></p>
<p>Bagus kaya raden Janaka<span id="more-1001"></span></p>
<p> </p>
<p>Kerah amarga murka</p>
<p>Kerah amarga duka</p>
<p>Kerah amarga suka</p>
<p>Kerah amarga klana</p>
<p> </p>
<p>Rai kang bagus dadi ajur</p>
<p>Awak kang prakosa melu ajur</p>
<p>Kabegjane ora nganti mungkur</p>
<p>Amarga batara dadi padha akur</p>
<p style="text-align: right;">Sayahilananda Tito Yuwono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/03/geguritan-gareng-petruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atresia Bilier Yang Lagi Hangat</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/atresia-bilier-yang-lagi-hangat/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/atresia-bilier-yang-lagi-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>others</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan, kita sering terpapar berita dari media massa tentang sebuah penyakit bernama atresia bilier. Penyakit tersebut oleh media diekspos secara terbuka pada setidaknya 4 balita di seluruh Indonesia. Dimulai dari kasus Bilqis Anindya Passa, (usia 17 bulan ketika diberitakan) penyakit ini kembali terekspos pada diri Abdullah Ichsanul Fikri (18 bulan) di Jakarta, lalu pada Ismail [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan, kita sering terpapar berita dari media massa tentang sebuah penyakit bernama atresia bilier. Penyakit tersebut oleh media diekspos secara terbuka pada setidaknya 4 balita di seluruh Indonesia. Dimulai dari kasus Bilqis Anindya Passa, (usia 17 bulan ketika diberitakan) penyakit ini kembali terekspos pada diri Abdullah Ichsanul Fikri (18 bulan) di Jakarta<span id="more-855"></span>, lalu pada Ismail Daud (10 bulan) di Gorontalo, dan terakhir pada Ramdan Aldil (3 tahun) di Trenggalek. Walau kemungkinan penyakit ini hanya hinggap dikisaran 1 dari 10.000-15.000 kelahiran, media mampu mencitrakannya sebagai sebuah penyakit umum yang banyak terjadi, setidaknya di Indonesia. Fakta tersebut diamini DR. dr. Hanifah Oswari, SpA (K), spesialis hati anak di RSCM. Ketika kasus Bilqis dan juga Fikri sampai kepadanya dan akhirnya terekspos oleh media massa, dr. Hanifah menyatakan bahwa kasus-kasus serupa sebenarnya banyak ditemukan di Indonesia. Beruntung bagi Bilqis, Fikri, Ismail, dan Ramdan yang sempat tersentuh media yang kemudian mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Fenomena ini hanyalah puncak gunung es, lanjut dr. Hanifah. Tak hanya dr. Hanifah, beberapa dokter residen dan perawat jaga yang ditemui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di ruang tempat Fikri dirawat juga sering menemui balita yang mengidap penyakit yang sama. Direktur PLN, Dahlan Iskan, juga mengklaim terdapat 200-an bayi pengidap atresia bilier di Jawa Timur saja.</p>
<p>Atresia bilier didefinisikan sebagai sebuah penyakit dimana saluran empedu tidak terbentuk dan berkembang normal. Saluran empedu sendiri berfungsi untuk membuang limbah metabolik seperti bilirubin dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak didalam usus halus. Selain mengandung garam dan limbah metabolik, empedu juga berisi kolesterol. Cairan empedu ini nantinya akan dilepaskan dari jaringan hati dan untuk sementara mengalir dan ditampung oleh kandung empedu. Baru ketika makan, cairan empedu tersebut dipompa masuk kedalam usus halus.</p>
<p>Karena itu, ketika saluran empedu yang menghubungkan hati dan kandung empedu tidak terbentuk, empedu akan bertumpuk di hati. Pada akhirnya, hal ini akan mengarah pada peradangan dan mengakibatkan terjadinya sirosis hati. Wajar bila akhirnya diagnosis atresia bilier juga diikuti oleh sirosis hati, khususnya pada pasien yang terlambat ditangani. Hati yang dalam keadaan sehat bertekstur lembut dan kenyal, berubah menjadi keras seperti batu dan berbonjol-bonjol, inilah sirosis hati.</p>
<p>Penyakit yang lebih banyak diderita anak perempuan ini memiliki beberapa gejala umum pada usia sekitar 2 minggu setelah kelahiran yaitu air kencing berwarna gelap, tinja berwarna pucat, kulit berwarna kekuningan, hati membesar dan penambahan berat badan yang lambat. Selain itu, setelah bayi mencapai usia 2-3 bulan akan muncul gejala lain berupa bayi rewel, gatal-gatal, gangguan pertumbuhan, dan tekanan darah tinggi pada pembuluh darah.</p>
<p>Atresia bilier memang tergolong fatal. Selain pada tingkat yang mengharuskan dilakukan cangkok hati terkendala sulitnya mencari donor yang tepat, juga dihadapkan pada mahalnya biaya perawatan. Di Indonesia sendiri biaya untuk melakukan cangkok hati bisa mencapai 1 milyar, sebuah harga yang membuat sebagian besar keluarga penderita beringsut mundur melepas asa.</p>
<p>Galih Kusuma Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/atresia-bilier-yang-lagi-hangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehat Adalah Hak</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/sehat-adalah-hak/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/sehat-adalah-hak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 07:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>others</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Secara pribadi, menjaga kesehatan adalah kewajiban. Akan tetapi, sebagai warga negara, kewajiban kita dalam menjaga kesehatan terkonversi atau setidaknya terbantu menjadi hak memperoleh layanan kesehatan memadai dari negara. Tanpa peran negara dalam penyediaan fasilitas kesehatan, sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan standar kesehatan yang mencukupi. Terlebih lagi bila sudah terlanjur sakit, fasilitas kesehatan menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara pribadi, menjaga kesehatan adalah kewajiban. Akan tetapi, sebagai warga negara, kewajiban kita dalam menjaga kesehatan terkonversi atau setidaknya terbantu menjadi hak memperoleh layanan kesehatan memadai dari negara. Tanpa peran negara dalam penyediaan fasilitas kesehatan, sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan standar kesehatan yang mencukupi. Terlebih lagi bila sudah terlanjur sakit, fasilitas kesehatan menjadi salah satu sarana penunjang yang penting. Tentu saja, seperti yang sering diingatkan banyak rekan, Tuhan adalah Sang Maha Penyembuh. Keberadaan negara, fasilitas kesehatan, dan obat-obatan hanyalah sebuah sarana yang digunakan Tuhan untuk memberikan kesehatan kepada hambanya.<br />
Kita sebagai warga negara Indonesia sesungguhnya cukup beruntung. Bagi orang-orang berkecukupan, fasilitas kesehatan (dari yang standar hingga mewah) banyak tersedia di negeri ini, khususnya di ibu kota dan kota-kota besar. Sedang bagi masyarakat menengah kebawah, negara lewat pasal 34 ayat 1 UUD 1945 menjamin mereka, ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Tidak terbatas pada rakyat miskin saja, seluruh warga negara dijamin dalam hal pelayanan kesehatan melalui ayat ke-3 pasal yang sama karena; ”Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”. Karena itu, anda tidak salah menjadi seorang warga negara Indonesia, setidaknya secara teori.<br />
Akan tetapi, cita-cita luhur diatas masih jauh dari kenyataan. Negara dengan berbagai keterbatasan dan hambatan, belum mampu menciptakan sebuah formula kebijakan yang 100% efektif guna mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, peran warga negara sangat dibutuhkan sebagai penyokong atau bila perlu menjadi tenaga penggerak langsung. Penting diingat, cita-cita luhur bangsa tidak melulu tanggung jawab negara, namun juga perlu peran aktif masyarakat. Dengan pola pikir seperti ini bisalah kita berharap, tidak banyak lagi fakir miskin, tidak muncul lagi anak-anak terlantar, dan tidak sulit lagi bagi kebanyakan masyarakat untuk memenuhi penghidupan dan kesehatan mendasar.<br />
Masyarakat Indonesia rupanya cukup tanggap pada keadaan ini. Sudah banyak organisasi kemasyarakatan yang berdiri untuk membantu negara dalam mengurus kesehatan rakyatnya. Salah satunya adalah Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang hingga saat ini terus membantu kaum papa secara eksklusif. Kaum papa merupakan sebuah golongan yang dalam kondisi umum, teramat sulit memperoleh fasilitas kesehatan yang layak. Tak sekedar karena benturan ekonomi, namun juga ketidaktahuan mereka dalam menemukan akses-akses kesehatan yang ada.<br />
LKC telah berdiri sejak tahun 2001 dengan memposisikan diri sebagai lembaga nirlaba yang memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat tidak mampu. Pelayanan diberikan melalui beberapa program antara lain gerai sehat (klinik gratis yang dilengkapi unit gawat darurat, poli umum, kebidanan, gigi, gizi, hingga spesialis), dan aksi layan sehat (layanan kesehatan mobile di daerah kumuh). Agar tepat sasaran, seluruh pelayanan dijalankan menggunakan sistem kepesertaan dimana setiap calon peserta akan disurvey terlebih dahulu untuk memastikan bahwa yang bersangkutan benar-benar merupakan masyarakat yang tidak mampu. Kehati-hatian ini pantas dikedepankan tanpa mengurangi rasa kemanusiaan (seperti kasus-kasus gawat darurat), karena seluruh dana yang digunakan untuk operasional LKC bersumber dari sumbangan donatur.<br />
LKC tampaknya sanggup menjelma menjadi salah satu solusi efektif atas permasalahan kesehatan kaum miskin dimana ia menjadi model dari partisipasi aktif seluruh masyarakat. Disini, kaum miskin dapat berobat gratis sementara pembiayaan kesehatannya didanai oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari individu hingga perusahaan melalui program tanggungjawab sosial perusahaan / corporate social responsibility (CSR). Tidak saja dari sisi dana, masyarakat juga dapat membantu lewat berbagai cara, seperti dengan menjadi relawan. Bukannya menghalalkan segala cara, di LKC, semua cara yang halal digunakan untuk membantu mereka yang tidak mampu. Karena itu, jika terdapat keluarga tidak mampu di lingkungan anda, bolehlah anda mengarahkan mereka ke LKC yang hingga saat ini telah tersebar di Ciputat, Bogor, Yogyakarta, Tuban, Makasar, Jambi, dan Palembang. Jenis layanan LKC lain berupa Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) juga berdiri di Bandung, Pontianak dan Banjarmasin. Tidak hanya itu, beberapa mitra LKC juga terdapat di Banjarmasin, Bali, hingga Aceh. Bila anda ingin mengetahui informasi lebih lengkap tentang LKC, silahkan buka website kami www.lkc.or.id.</p>
<p>Galih Kusuma Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2010/02/sehat-adalah-hak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Monumen Jogja Kembali (Monjali)</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/10/monumen-jogja-kembali-monjali/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/10/monumen-jogja-kembali-monjali/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 05:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iqranegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[monjali. lbb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Monumen Jogja Kembali (Monjali) tidak asing lagi bagi warga Jogja. Monumen putih berbentuk kerucut (gunung) yang menjulang tinggi ini memang bisa tampak dari jarak yang cukup jauh. Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman didirikan untuk memperingati ditariknya pasukan Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Monumen ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="monumen Jogja Kembali" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/monumenJogjaKembali0.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Monumen Jogja Kembali (Monjali) tidak asing lagi bagi warga Jogja. Monumen putih berbentuk kerucut (gunung) yang menjulang tinggi ini memang bisa tampak dari jarak yang cukup jauh. Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman didirikan untuk memperingati ditariknya pasukan Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Monumen ini sendiri berdiri pada 29 Juni 1985.</p>
<p><img class="alignnone" title="monumen Jogja Kembali" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/monumenJogjaKembali2.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="alignnone" title="monumen Jogja Kembali" src="http://i154.photobucket.com/albums/s261/warungmobil/monumenJogjaKembali1.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p class="MsoNormal">Pembangunan monumen ini pun mengandung banyak filosofi karena terletak di <span style="text-decoration: none; color: #000000;">poros</span> garis imajiner antara <span style="text-decoration: none; color: #000000;">gunung Merapi</span> , Monumen Yogya Kembali, Tugu Pal Putih, Kraton, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan yang merupakan garis yang mempersatukan Lingga dan Yoni yang merupakan perlambang kemakmuran.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Namun, kapan kita terakhir kali berkunjung kesana? Saat TK? SD? Yah sebagian besar kaum muda kita (termasuk saya sendiri) paling malas kalo berkunjung ke tempat-tempat semacam itu. Kini kondisi monumen itu memang cukup memprihatinkan. Pengunjung sepi, hanya akan ramai pada akhir minggu atau apabila ada kunjungan dari instansi tertentu saja. Kondisi monumennya pun terkesan kurang terawat. Semoga hal itu bukan karena Nasionalisme kita yang telah luntur dan ketidak pedulian kita akan situs-situs seperti itu… Semoga…</p>
<p class="MsoNormal"><strong>LBB Padmanaba 2009</strong><br />
Kenapa Monumen ini secara khusus dibahas di blog ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena Kompleks Monumen Jogja Kembali ini nantinya akan dijadikan lokasi penyelenggaraan Lomba Baris-Berbaris (LBB) dalam rangka Pekan Peringatan Hari Padmanaba (PPHP) ke 67 pada tanggal 22 November 2009. Semoga dengan adanya LBB yang bertajuk “Bhakti Indonesia” ini, kembali mengingatkan generasi muda akan tugasnya untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan pendahulunya dan meningkatkan kepeduliannya terhadap kondisi negeri ini . Akhir kata…Ikuti LBB-nya dan rasakan saja SENSASInya!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/10/monumen-jogja-kembali-monjali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Waktu dan Intuisi</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/antara-waktu-dan-intuisi/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/antara-waktu-dan-intuisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 03:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[tak berkata tak bersuara tak bernada tak bermelodi tak bernyawa tak terkendali ketika dunia memandang penuh keraguan dan tak percaya, ketika dunia hanya melalu lalang dan terdiam ketika yang lain mengusung kata-kata menyiksa dan menyakitkan.. terkadang tamparan waktu yang kandas di wajahmu akan membuatmu mengerti, akan buatmu sadar dan paham bahwa semua hal tak selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tak berkata tak bersuara</p>
<p>tak bernada tak bermelodi</p>
<p>tak bernyawa tak terkendali</p>
<p>ketika dunia memandang penuh keraguan dan tak percaya,</p>
<p>ketika dunia hanya melalu lalang dan terdiam</p>
<p>ketika yang lain mengusung kata-kata menyiksa dan menyakitkan..</p>
<p>terkadang tamparan waktu yang kandas di wajahmu</p>
<p>akan membuatmu mengerti,</p>
<p>akan buatmu sadar dan paham</p>
<p>bahwa semua hal tak selalu tersajikan indah ataupun baik,</p>
<p>tak selamanya sempurna maupun sama</p>
<p>seperti yag diharapkan..</p>
<p>dan adakah dirimu sadar, mengerti</p>
<p>tentang waktu yang berimu pelajaran dan arti</p>
<p>yang selalu menjadi inspirasi bagimu untuk kehidupan</p>
<p>hingga akhirnya kau kembai mengerti</p>
<p>waktu selalu berputar berganti tak akan berhenti</p>
<p>saat itulah kau akan teruji dan diuji</p>
<p>adakah kamu yang terganjal waktu,</p>
<p>ataukah kamu yang kuasai waktu ?</p>
<p> </p>
<p>by : rankin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/antara-waktu-dan-intuisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Gambar Timbangan Hingga Tragedi Krecek (2)</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-2/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 03:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[(Sambungan dari bagian 1) Hanya seputar gudeg… Kisah lain mengenai nasionalisme (kali ini dalam lingkup yang lebih sempit) adalah diskusi ngalor ngidul tentang ke-Yogyakarta-an. Walaupun berbicara tentang nasionalisme, bukanlah sebuah kesalahan bila kita menariknya ke area lokal, kedaerahan. Bukan bermaksud menonjolkan etnisitas atau pengkotak-kotakan, ini murni eksplorasi kebhinekaan yang membangun Indonesia itu sendiri. Berhubung konteks [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Sambungan dari bagian 1)</p>
<p><strong>Hanya seputar gudeg…</strong></p>
<p>Kisah lain mengenai nasionalisme (kali ini dalam lingkup yang lebih sempit) adalah diskusi ngalor ngidul tentang ke-Yogyakarta-an. Walaupun berbicara tentang nasionalisme, bukanlah sebuah kesalahan bila kita menariknya ke area lokal, kedaerahan. Bukan bermaksud menonjolkan etnisitas atau pengkotak-kotakan, ini murni eksplorasi kebhinekaan yang membangun Indonesia itu sendiri. Berhubung konteks ruang dan waktu saat itu berada di daerah kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, wajarlah bila kemudian tema obrolan kebangsaan yang kami lakukan dicukupkan hanya berkisar pada lingkungan tersebut.<span id="more-564"></span></p>
<p>Awal mula ceritanya begini, kira-kira setahun lalu, ada seorang remaja yang kami ajak ngobrol tentang Yogyakarta. Sebagai anak desa yang mengaku gencar terpapar budaya popular, kami cukup kagum ketika mendapati pengetahuannya tentang budaya Yogyakarta bernilai A (tentu saja menurut standar kami). Beberapa rekan mungkin akan mengira dia bekerja sebagai guide, tapi nyatanya dia (ketika itu) masih kelas 1 SMA.</p>
<p>Sayangnya diwaktu lain, kekaguman serupa tidak bisa kami nikmati. Baru-baru ini, kami kembali melakukan kajian identik. Bedanya dengan yang dulu adalah kali ini kami menemui sekelompok remaja, bukan individual.  Selain itu, mereka yang akan kami ajak diskusi juga telah melewati sebuah saringan mutlak yaitu “lahir dan besar di DIY”. Harapannya, kami akan disuguhi pemahaman keYogyakartaan yang –setidaknya- lumayan. (Meski secara pribadi saya coba menghubung-hubungkannya lagi dengan jargon politik “Putra Daerah Asli, apa iya bener-bener paham daerahnya?”).</p>
<p>Kala itu, terjadilah sebuah diskusi yang berlangsung cair. Berkat teman-teman yang cenderung nyeleneh, tema yang diangkat adalah “masakan khas Jogja, gudeg”. Para peserta diskusi diberi pertanyaan awal serupa, apa bahan dasar gudeg? Ini pertanyaan yang mudah, karena semua peserta tersebut menjawab dengan benar. “Gori!”. Bahkan satu dari mereka berhasil membuat penjelasan dengan sangat baik, termasuk apa fungsi dari daun jati, dan bagaimana mendefinisikan “gori” bila harus berhadapan dengan orang luar Jawa. Rekannya yang lain ada yang menyebut gori hanya sebagai “dalemnya nangka” yang kemudian dicerna asal-asalan oleh teman saya yang kelahiran Bali sebagai “kambium” <img src='http://bhayangkara.padmanaba.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>“Tragedi” yang ditemui dalam diskusi tersebut muncul kemudian. Sebagai orang Jogja, salah satu dari remaja tersebut mengaku gudeglah makanan favoritnya. Ketika kami selanjutnya menanyakan “seneng pakai krecek?”, dia menjawab tidak tahu apa itu “krecek!”. Bingung antara menahan tawa dan gemes, teman saya mengandaikan gudeg dan krecek bagaikan jadah dan tempe, merah dan putih, dll. Tetap saja si remaja tidak bisa mengenali yang mana krecek didalam gudeg. Akhirnya setelah diberitahu ciri-cirinya lewat metode induksi dan deduksi, barulah dia tahu kalau “yang itu” namanya krecek.</p>
<p>Tragedi krecek tidak berhenti sampai disini. Remaja yang lain tahu benar yang mana krecek, tapi sayang, ia salah kaprah dalam menyebut bahan dasarnya. Lewat diskusi yang agak membingungkan, -karena peran teman saya yang memberi pilihan sesat dan menyesatkan- remaja itu menyimpulkan bahwasanya bahan dasar krecek adalah tepung beras!</p>
<p><strong>Akhirnya..</strong></p>
<p>Tulisan ini kalau tidak dibilang sebagai kritik, bolehlah dianggap sebagai lelucon ringan belaka. Akan tetapi, cobalah sekali lagi memperhatikan fenomena aneh tapi nyata yang saya utarakan diatas. Bukankah ironis, mengaku sebagai warga negara Indonesia tetapi tidak paham Pancasila? Oh iya, oke, bagi anda yang kecewa pada Indonesia dan atau yang anti Pancasila, bagaimana dengan orang yang mengaku menyukai gudeg tapi tidak tahu yang mana krecek? Atau mengaku orang Jogja (dan kenyataannya demikian) namun tidak tahu bahan dasar krecek?</p>
<p>Akhirnya, bagaimana dengan nasionalisme? Masih mungkinkan mencintai tanah air tanpa mengenalnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Gambar Timbangan Hingga Tragedi Krecek (Bagian 1)</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-bagian-1/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 16:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor1</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini pada dasarnya diinspirasi oleh pendapat adik saya Ni Made Dewi Pitaloka tentang nasionalisme. Cukup menarik kritik dia tentang “nasionalisme anak muda Indonesia jaman sekarang”. Namun sebagai pribadi, saya punya pengalaman yang lebih kuat, lebih dekat terhadap perkembangan “nasionalisme” teman-teman muda Indonesia dewasa ini. Perhatikan kata nasionalisme di kalimat terakhir paragraf diatas yang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini pada dasarnya diinspirasi oleh pendapat adik saya Ni Made Dewi Pitaloka tentang nasionalisme. Cukup menarik kritik dia tentang “nasionalisme anak muda Indonesia jaman sekarang”. Namun sebagai pribadi, saya punya pengalaman yang lebih kuat, lebih dekat terhadap perkembangan “nasionalisme” teman-teman muda Indonesia dewasa ini.<span id="more-561"></span></em></p>
<p>Perhatikan kata nasionalisme di kalimat terakhir paragraf diatas yang saya tuliskan dengan “nasionalisme”. Saya menuliskan demikian karena yakin betapa berbedanya pemaknaan nasionalisme di benak tiap orang. Dari kacamata “teori pribadi”, nasionalisme selayaknya menempatkan kecintaan pada negeri (alih-alih negara, tapi boleh juga <em>sih</em>), bangsa (alih-alih suku) dan tanah air (alih-alih tanah kelahiran) dengan terlebih dulu mengenal negeri, bangsa dan tanah air sendiri. Anda kenal pepatah “tak kenal maka tak sayang”? Seperti inilah pondasi saya dalam memaknai nasionalisme.</p>
<p>Rekan-rekan saya yang lain mungkin punya cara pandang tersendiri dalam mengartikan nasionalisme. Meski mungkin saja mengada-ada demi membenarkan pola pikirnya, tapi bisa jadi nasionalisme model begini tidak mudah ditaklukkan. “Meski senang produk luar (termasuk budaya), meski tidak lancar berbahasa Indonesia, meski tidak tahu dimana kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, meski tidak kenal pahlawan, dan meski tidak tahu yang lain-lain, bukan berarti saya tidak cinta Indonesia”, begitu belanya. Tidak bermaksud menjelekkan, tapi salah satu mantan presiden RI pun membela diri dengan cara mirip seperti ini ketika gagal menjawab survey “nama-nama pahlawan” di sebuah acara TV swasta nasional “John Pantau” memperingati hari Pahlawan 10 November 2008. Kala itu, beliau tidak tahu asal daerah beberapa pahlawan yang menurut saya “kelas wahid”, yang dalam bahasa lembaga survey pemilu bakal bernilai “memiliki tingkat keterkenalan yang tinggi”. Untung beliau bisa menjawab asal daerah Sri Sultan HB IX, meski kemudian memasukkan nama “Pattinasarani” sebagai salah satu pahlawan nasional jaman dulu. Setahu saya <em>kan</em>, yang ada tuh Pattimura ya? Bukankah (Ronny) Pattinasarani tu mantan pemain bola timnas yang meninggal tahun lalu? Hehehe…</p>
<p>Secara pribadi saya mendefinisikan nasionalisme model begini sebagai nasionalisme membabi buta. Nasionalisme membabi buta disatu sisi erat kaitannya dengan “fundamentalisme “, “garis keras”, “taklid” yang sekalinya maju, sulit ditarik mundur. Disisi yang lain, nasionalisme tersebut memiliki celah kemunafikan. Selama menguntungkan, ya lanjutkan, kalau rugi, ya <em>good bye</em>.</p>
<p><strong>Pancasila, faktanya…</strong><br />
Kembali ke pondasi nasionalisme yang saya anut. Tahap pertama, yang paling dasar, cukuplah berangkat dari pernyataan berikut “kalau tidak kenal, jangan bilang cinta”. Ditahap ini saja, saya menemukan banyak teman yang bernilai minus. Tidak perlu langsung ke hal-hal rumit, pada poin sederhanapun sudah banyak yang kepeleset.</p>
<p>Pada suatu ketika, ada obrolan tentang dasar negara Indonesia, Pancasila. Selama ini, banyak ditemui lomba “hapalan Pancasila” yang pesertanya anak-anak TK. Bagi yang hapal redaksi Pancasila dari satu sampai lima, lomba semacam itu hanya menarik ditonton ketika ada anak yang grogi di panggung, kepeleset kata di sila keempat atau pengucapan yang cedal. Tapi tetap saja, pada dasarnya, seluruh peserta yang mengikuti lomba tersebut, meski masih kanak-kanak, hapal Pancasila. Yang kemudian menjadi pertanyaan menggelitik adalah:<br />
1.Apakah anak-anak itu patut dipuji karena udah “jago” Pancasila atau;<br />
2.Mereka bisa hapal Pancasila karena masih kanak-kanak?</p>
<p>Saya tak akan menjabarkan hasil obrolan dari dua pertanyaan tersebut, namun akan mengajak anda pada sebuah fakta mengapa sampai timbul dua pertanyaan diatas. Beberapa dari anda mungkin kaget bila mengetahui betapa banyak remaja Indonesia dewasa ini tidak paham Pancasila. Jangankan paham, hapal bunyi silanya saja tidak. Survey kecil-kecilan saya dan teman-teman menunjukkan lebih dari 60% sukarelawan pendaftar yang tidak lolos dari tes “hapalan Pancasila”. Dari 60% itu, sebagian “korban” benar-benar tidak bisa sepenuhnya menuntaskan redaksi Pancasila, meski cenderung lancar di sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Sebagian yang lain sesungguhnya boleh dikata hapal, namun terbalik-balik silanya meski tidak khilaf dalam menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama.</p>
<p>Bagimana dengan 40% populasi yang hapal redaksi Pancasila secara urut dari satu sampai lima? Untuk kategori yang satu ini, kami berikan pertanyaan lanjutan, yaitu “Sebutkan lambang masing-masing sila, berurutan dari pertama hingga kelima!”. Hasilnya mengejutkan! Meski sebelumnya kami optimistik pada kelompok tersebut, namun fakta bahwa keseluruhan dari mereka tidak tuntas menempatkan lambang sila-sila menunjukkan bahwa “Kesaktian Pancasila” tampaknya perlu masuk <em>pit stop</em>, isi bahan bakar ulang. Dan lagi, walaupun hampir semuanya sukses meletakkan lambang BINTANG  untuk sila pertama, namun untuk lambang-lambang yang lain sangat menyedihkan. Yang masih cukup beruntung adalah lambang POHON BERINGIN dan KEPALA BANTENG. Kedua lambang ini sering disebutkan dan diyakini oleh para sukarelawan sebagai anggota lambang Pancasila, namun tidak tahu/ tidak yakin di sila keberapa. Jangan tanyakan bagaimana kabar si RANTAI EMAS dan PADI KAPAS, jarang disebut.</p>
<p>Tapi ada dua hal yang sangat menarik dan akan selalu kami ingat dari golongan ini. Pertama, beberapa sukarelawan harus menyebutkan dalam hati dulu bila mendapat pertanyaan metode mencongak. Bila kita tiba-tiba memerintahkan mereka “Sebut bunyi sila keempat!?”, maka mereka terdiam sejenak untuk mengulang dulu (dalam hati) sila pertama hingga ketiga. Hal kedua yang juga kami ingat betul ialah munculnya lambang baru berupa TIMBANGAN untuk sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia! Logikanya lumayan bener <em>sih</em>, tapi…</p>
<p>(Bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/04/dari-gambar-timbangan-hingga-tragedi-krecek-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah-Kisah Hikmah</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/kisah-kisah-hikmah/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/kisah-kisah-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 01:22:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Kisah I Alkisah tersebutlah sebuah kapal yang sangat megah. Saking megahnya, sampai-sampai ruangan untuk penumpang di kapal itu harus dibuat terpisah berdasarkan kelasnya. Kelas yang paling murah yaitu ekonomi berada di paling bawah. Sementara itu kelas yang paling mahal, eksekutif berada di bagian paling atas, dilengkapi dengan kolam renang, beserta fasilitas-fasilitas lain yang amat sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN"><strong>Kisah I</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Alkisah tersebutlah sebuah kapal yang sangat megah. Saking megahnya, sampai-sampai ruangan untuk penumpang di kapal itu harus dibuat terpisah berdasarkan kelasnya. Kelas yang paling murah yaitu ekonomi berada di paling bawah. Sementara itu kelas yang paling mahal, eksekutif berada di bagian paling atas, <span id="more-506"></span>dilengkapi dengan kolam renang, beserta fasilitas-fasilitas lain yang amat sangat memanjakan penumpang kelas tersebut. Singkat cerita, berlayarlah kapal tersebut mengarungi samudera luas nan biru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Di tengah-tengah samudera yang luas, hawa yang panas akibat perubahan iklim yang terjadi sangat drastis membuat para penumpang kehausan. Para penumpang di kelas paling mahal dan yang paling mewah mendapatkan es krim yang segar ditambah dengan berbagai jus (mmm.. sedaaappp). Sementara itu, penumpang di kelas paling murah yang notabene berada di paling bawah tidak mendapat apa-apa. Para penumpang di kelas eksekutuf berpikiran bahwa perihal makanan dan minum merupakan urusan privat sehingga mereka membiarkan saja para penumpang di bawah kehausan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Akhirnya ada salah seorang penumpang kelas ekonomi yang agak kebangetan (tak tahu bahwa meminum air laut tak akan menghilangkan haus) langsung mengebor bagian bawah kapal itu untuk mengambil air laut. Karena yang lain menganggap hal itu urusan privat, akhirnya pengeboran itu dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Seperti kasus lumpur panas Lapindo Brantas, air kemudian keluar tanpa henti dari lubang hasil pengeboran tersebut. Gara-gara tak ada orang yang mengingatkan hal tersebut, alhasil kapal tersebut kemasukan air dalam jumlah yang sangat besar sehingga membelah kapal tersebut menjadu dua bagian. Tenggelamlah kapal mewah itu. Percaya gag percaya, kisah ini adalah versi asli dari kisah Titanic (wakakakak&#8230; kalo sampe ada yang percaya kebangetan!).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Nah, pada akhirnya kita sampai pada saaat yang berbahagia , yaitu bahwa kesimpulan terakhir dari kisah  tentang kapal itu adalah bahwa kita semua mesti memperlakukan semua dengan adil, mampu mengambil keputusan yang tepat di saat yang tepat juga dapat kita jadikan pelajaran hidup yang tentunya akan sangat bermanfaat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><strong>Kisah II</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Pada suatu siang yang sangat terik di sebuah Taman Kanak-Kanak, Ibu Guru yang baik hati sedang memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya yang masih imut-imut. Pada sesi tersebut Bu Guru memberikan tugas menggambar kepada murid-muridnya. Terlihat, banyak di antara mereka yang menggambar pemandangann alam yang tentunya sangat lazim kita lihat di kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada juga murid yang menggambar anak muda yang sedang membantu nenek-nenek menyebrang, sepertinya semua menggambar hal-hal lazim yang masih wajar digambar oleh anak-anak seumuran mereka. Namun, terlihat ada seorang anak laki-laki yang membuat gambar lain daripada yang lain. Ia hanya mengisi kertas gambar A3-nya dengan goresan crayon berwarna hitam. Ibu Guru yang melihat tingkah laku anak itupun ikut terheran-heran dengan kelakuan anak tersebut. Beliau tak mengerti tentang apa yang akan digambar oleh anak didiknya tersebut. Selang agak lama, bel pulang berbunyi, beberapa anak telah mengumpulkan hasil karya mereka yang sudah jadi, sedangkan anak laki-laki yang unik tadi belum mengumpulkan hasil karyanya karena belum selesai. Oleh sang Guru, beberapa karya yang belum selesai diperbolehkan dilanjutkan di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Hari-hari berikutnya, saat anak-anak kembali disuruh menggambar si anak misterius tadi masih tetap menggambar warna hitam di seluruh keertas A3-nya. Hal tersebut terus berlanjut, sampai-sampai di rumah ia tetap membuat banyak kertas dengan warna yang sama lagi. Hingga pada suatu hari orang tua anak tersebut bersepakat untuk membawa anak itu ke psikiater, mereka ingin memastikan bahwa anak dari pasangan ini tak mengalami gangguan kejiwaaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Akhirnya, di tangan psikiater, sang anak mampu menyelesaikan hasil karyanya tersebut. Ternyata, yang lebih mencengangkan lagi, anak tersebut sudah menyelesaikan 400 gambar berwarna hitam, beberapa berwarna abu kehitaman, yang jika disusun berukuran 20&#215;20. Setelah potongan-potongan gambar tersebut disambungkan, akhirnya tampak gambar akhir berupa ikan paus dengan ukuran seperti aslinya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa dari sang anak untuk mampu menampilkan hasil karya dengan ukuran sesuai asli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="18pt;"><span lang="IN">Cerita II yang lebih singkat ini, memberikan pelajaran kepada kita bahwa untuk selalu berpikir besar, karena berpikir besar akan membawa kita selalu ke suatu jalan yang lebih luas dan tentunya akan memperluas cara pandang kita terhadap suatu masalah. Selain itu kisah ini juga mengajarkan kita untuk memandang sesuatu jangan hanya dari luarnya saja, karena apa-apa yang nampak baik belum tentu akan selalu baik bagimu dan apa-apa yang tampak buruk bisa jadi adalah yang terbaik bagimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><span lang="IN">Renungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><span lang="IN">Orang-orang yang tangguh adalah orang-orang yang menjadi besar karena terpaan dan ujian yang datang tanpa henti, tetap berjuang dengan berbagai keterbatasan..kuat dalam kesendirian..tegar di tengah kekecewaan dan beramal optimal dalam ketidak terkenal</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Budi Ferizqiawan Diana Putra</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/kisah-kisah-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamansari Menjadi Salah Satu Keajaiban Dunia ?</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/tamansari-menjadi-salah-satu-keajaiban-dunia/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/tamansari-menjadi-salah-satu-keajaiban-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 01:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bia</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Policy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Tamansari, sebuah tempat yang mungkin sudah tidak asing lagi di sebagian besar telinga masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Yogyakarta. Bagi yang belum tahu saja, tamansari merupakan tempat pemandian raja beserta keluarganya. Areal tamansari ini terletak di sebelah barat daya Kraton Yogyakarta. Tamansari dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758 untuk kepentingan rekereasi sekaligus benteng pertahanan. Tamansari juga sering disebut sebagai istana air atau water castle, hal ini disebabkan karena dalam garis besarnya tamansari merupakan istana air dengan laut buatan yang disebut segaran dan pulau buatan yang disebut pulau kenanga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="36pt;"><span lang="FI">Tamansari, sebuah tempat yang mungkin sudah tidak asing lagi di sebagian besar telinga masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Yogyakarta. Bagi yang belum tahu saja, tamansari merupakan tempat pemandian raja beserta keluarganya. Areal tamansari ini terletak di sebelah barat daya Kraton Yogyakarta. Tamansari dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758 untuk kepentingan rekereasi sekaligus benteng pertahanan. Tamansari juga sering disebut sebagai istana air atau <em>water castle, </em>hal ini disebabkan karena dalam garis besarnya tamansari merupakan istana air dengan laut buatan yang disebut segaran dan pulau buatan yang disebut pulau kenanga.<span id="more-511"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="36pt;"><span lang="FI">Keindahan tamansari di jaman dulu terkenal hingga keseluruh dunia. banyak para wisatawan asing yang melukiskan keindahan tamansari dan membawanya ke negeri asal mereka. </span><span lang="SV">Di masa depan, lukisan-lukisan inilah<span> </span>yang membuat para wisatawan asing ingin berkunjung ke tamansari. Namun sangat disayangkan, banyak wisatawan asing yang kecewa dengan keadaan tamansari sekarang. Tamansari yang sekarang sudah tidak sebagus dan seindah dengan tamansari yang digambarkan oleh leluhur mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="36pt;"><span lang="SV">Melihat keadaan itu, timbul niat dari PBB untuk mengembalikan keadaan tamansari seperti dulu. Menurut mereka, sebenarnya dengan melihat arsitektur bangunan tamansari di masa lampau sangat memungkinkan untuk menjadikannya sebagai salah satu keajaiban dunia. Ini tentu saja akan dapat meningkatkan citra indonesia, khususnya Yogyakarta. Pemerintah Indonesia dengan bantuan PBB tentunya,sedang giat-giatnya berusaha untuk mewujudkan hal itu. Dikabarkan pula, akhir tahun 2009 ini salah satu bangunan di kompleks tamansari, yaitu pulau kenanga atau sering juga disebut juga sebagai ulau cemeti akan direnovasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="36pt;"><span lang="SV">Namun tentu saja banyak kendala-kendala dala mewujudkannya. Banyak bangunan-bangunan di kompleks tamansari yang sudah tidak utuh seperti dulu lagi. </span><span lang="FI">Penyebab utamanya adalah gempa bumi yang melanda yogyakarta tahun 1867 pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII . Untuk mengembalikan keindahan tamansari, Sultan Hamengkubuwono lalu menyuruh para abdi dalemnya untuk merenovasi tamansari. Para abdi dalem yang kebetulan tempat tiggalnya jauh dari keraton merasa kesulitan membagi waktu antara kelurga mereka dan merenovasi tamansari. Oleh karena itu, Sultan Hamengkubuwono VII<span> </span>membuatkan rumah disekitar kompleks tamansari untuk ditinggali para abdi dalemnya dan mengijinkan mereka untuk membawa keluarganya pindah ke sana. Namun usut punya usut hal inilah yang nantinya menjadi kendala utama dalam upaya pewujudan tamansari sebagai salah satu keajaiban dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="36pt;"><span lang="FI">”kok bisa gitu?” mungkin pertanyaan itu yang sekarang ada dipikiran anda. Setelah ditinjau ulang, penduduk yang sekarang mememuhi kompleks tamansari masih mempunyai hubungan darah dengan para abdi dalem yang pada tahun 1867 bertugas merenovasi tamansari atas perintah Sultan Hamengkubuwono VII. Ini menunjukkan bahwa setelah tamansari selesai direnovasi, para keluarga abdi dalem tersebut memutuskan untuk menetap tinggal di kompleks tamansari bahkan sampai anak cucu mereka lahir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span lang="FI">”lalu, apa hubungan mereka dengan konteks keinginan untuk mewujudkan tamansari sebagai salah satu keajaiban dunia?” singkat saja, ternyata yang menjadi kendala utama dari pewujudan tamansari sebagai salah satu keajaiban dunia adalah tidak maunya para penduduk di sekitar tamansari untuk merelakan areal tempat tinggalnya. Mereka sudah merasa betah untuk tingal di sana dan menurut mereka apabila mereka dipindahkan, mereka akan kehilangan penghasilan utama mereka yang sebagian besar berasal dari para wisatawan yang berkunjung ke tamansari.sebenarnya, tidak semua penduduk beranggapan seperti itu, ada juga penduduk yang menganggap bahwa hal itu akan lebih meningkatkan citra Yogyakarta sebagai kota pariwisata dan tentunya hal itu akan lebih memudahkan mereka untuk mendapatkan penghasilan. Tapi tetap saja, hanya segelintir orang yang berpikiran seperti itu .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span lang="FI">Tamansari menjadi salah satu keajaiban dunia ? mungkin masih dalam khayalan ..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">Nabila Husna Shabrina</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/03/tamansari-menjadi-salah-satu-keajaiban-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FKPPI</title>
		<link>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/02/fkppi/</link>
		<comments>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/02/fkppi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 16:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndozzz</dc:creator>
				<category><![CDATA[DIARY BHAPAD]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Mc LHEER]]></category>
		<category><![CDATA[Bhapad]]></category>
		<category><![CDATA[Paskibraka]]></category>
		<category><![CDATA[Peleton Inti]]></category>
		<category><![CDATA[PPI Kota]]></category>
		<category><![CDATA[tonti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayangkara.padmanaba.or.id/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata gak hanya OSIS yang punya forum komunikasi, tapi, usut punya usut ternyata dunia pertontian juga punya hlooo, mau tau gimana ceritanya..?? Okaiy, for your information!!! Peleton inti punya yang namanya FKPPI! Kepanjangan dari Forum Komunikasi Pengurus Peleton Inti. Jadi, begini… Once upon a time, Pada tanggal 27 – 29 Desember 2008, ada sebuah kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata gak hanya OSIS yang punya forum komunikasi, tapi, usut punya usut ternyata dunia pertontian juga punya hlooo, mau tau gimana ceritanya..??<br />
Okaiy, for your information!!! Peleton inti punya yang namanya FKPPI! Kepanjangan dari Forum Komunikasi Pengurus Peleton Inti.<br />
Jadi, begini…<br />
	Once upon a time,<br />
Pada tanggal 27 – 29 Desember 2008, ada sebuah kegiatan made by PPI alias Purna Paskibraka Indonesia yang diselenggarakan di Youth Center, Yogyakarta. Nama kegiatan ini adalah Diklat Kebangsaan dengan tema yaitu “Dari Yogyakarta Kita Bangun Indonesia”. Kegiatan ini diikuti ± 60 peserta yang notabene adalah siswa seluruh SMA di Yogyakarta yang tergabung dalam kegiatan tonti di sekolahnya, tiap sekolah mengirimkan 2 orang wakilnya sebagai peserta dalam kegiatan ini.<br />
Singkat cerita, dibentuklah sebuah forum komunikasi di hari terakhir kegiatan ini. Pro kontra para peserta diklat mewarnai proses terbentuknya forum komunikasi ini. Ada sebagian dari mereka yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Bahkan sebuah perdebatan kecil pun terjadi. Kubu kontra di sini memang jauh lebih sedikit dari kubu pro. “Padahal dari konsep pembentukan forum komunikasi ini belum begitu jelas bahkan masih sangat-sangat mentah dan bahkan kalaupun teman-teman banyak yang setuju, apakah mereka itu bener-bener dong ataukah malah bleng apa-apa? Kalo menurutku sih lebih baik konsep ini dimatengin dulu baru lah nanti kita bisa lanjut ke langkah selanjutnya” ujar salah satu siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta yang termasuk dalam kubu kontra (rasah disebutke jenenge, ndak isin). Keadaan yang cukup panas ini akhirnya lama kelamaan bisa terkondisikan kembali dengan keputusan akhir, forum ini tetap dibentuk dan pada hari itu juga dibentuk pengurusnya.<br />
     	Sebuah nama yang diberikan pada waktu itu adalah Forum Peleton Inti (FPI). Susunan pengurusnya adalah,<br />
•	Ketua 			: Berlian Ajdi Putra Wibowo (SMA Negeri 1 Yogyakarta)<br />
•	Wakil ketua		: Kirana G. Lastia H. (SMA Negeri 3  Yogyakarta)<br />
•	Sekretaris I		: Ratih Dewi Setiawan (SMA Negeri 8 Yogyakarta)<br />
•	Sekretaris II		:<br />
•	Bendahara I		: Susfika Khairussyifa Nabila (SMA Negeri 1 Yogyakarta)<br />
•	Bendahara II		: Andrean Arif Suhanda (SMA Negeri 11 Yogyakarta)<br />
Mereka-mereka lah sang petinggi FPI yang terpilih atas banyaknya suara yang mereka dapat pada saat pemilihan pengurus pada hari itu juga. Suara tertinggi diperoleh Berry (27 suara), kemudian disusul Tia (21 suara), lalu Ratih, disusul Anom, dan seterusnya menurut urutan jabatan di atas. Dengan demikian, secara resmi terbentuk foum komunikasi peleton inti pada tanggal 29 Desember 2009, dengan nama Forum Peleton Inti (FPI).<br />
	Waktu kian berlalu dan akhirnya FPI pun berubah namanya menjadi FKPPI alias Forum Komunikasi Pengurus Peleton Inti. Inilah sebuah nama untuk forum komunikasi peleton inti pada umumnya yang diwakili oleh delegasi dari setiap SMA, SMK, MAN atau sederajat se-Yogyakarta.<br />
	Pertemuan pasca pembentukan dilakukan pada kegiatan Talk Show di Balai Kota pada tanggal 19 Januari 2009. Kegiatan ini merupakan inisiatif Bapak Walikota Yogyakarta, Hery Zudianto yang dimaksudkan untuk menggantikan ketidakhadiran beliau pada pembukaan Diklat Kebangsaan bulan desember lalu. Di sini lah para anggota FKPPI berinteraksi secara langsung kepada Pak Wali sekaligus sarana untuk memperkenalkan bahwa dunia pertontian di Yogyakarta ini sudah mewabah di hampir setiap sekolah dan hal ini dapat dibuktikan dengan terbentuknya FKPPI tersebut.<br />
	Seusai kegiatan di atas, pengurus harian FKPPI yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara mengadakan pertemuan untuk membahas raker yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2009. Sebelumnya mereka menentukan seksi bidang yang nantinya akan membantu kinerja mereka dalam mencapai tujuan FKPPI sesungguhnya. Maka mereka memilih 2 sekbid yaitu Hubungan Masyarakat (Humas) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan masing-masing memiliki 2 koordinator yang berasal dari sekolah yang berbeda. Di bagian SDM, Dimas (SMK Negeri 2 Yogyakarta) selaku koordinator 1 dan Putri (MAN Yogyakarta 1) selaku koordinator 2 serta di bagian humas, Linda (SMTI Yogyakarta) sebagai koordinator 1 dan sebagai koordinator 2 adalah Aan (SMA Pangudi Luhur Yogyakarta).<br />
	Akhirnya, 26 Januari 2009 telah tiba dan dengan agenda yang telah dirancang sebelumnya oleh sekretaris pun terlaksana dengan lancar. Alhasil, FKPPI telah memiliki berbagai macam program kerja selama masa bakti yaitu 2008-2009 dengan 2 diantaranya merupakan kegiatan besar.<br />
	Jadi pada intinya, FKPPI ini telah dibentuk dengan satu tekad yaitu mempersatukan seluruh peleton inti di Yogyakarta. Harapannya, dengan ini seluruh anggota peleton inti SMA/SMK/MA sederajat di Yogyakarta memiliki jiwa yang satu dan siap menjadi generasi penerus bangsa secara mental dan fisik.      </p>
<p>oleh: Kirana Galuh Lastia H.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayangkara.padmanaba.or.id/2009/02/fkppi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

