3. Peleton Inti
Tentang Peleton Inti / Tonti
Peleton Inti, yang sering disebut dengan tonti, merupakan istilah khas yang menunjuk pada sekelompok siswa ditingkat SMP/ SMA/ sederajat yang memiliki tugas/ fungsi khusus (umumnya sebagai petugas upacara). Sesuai dengan namanya, sebuah peleton inti setidaknya beranggotakan 30 orang (1 peleton) plus seorang komandan. Namun, penambahan anggota cadangan untuk kepentingan kompetisi bisa membuat anggota sebuah peleton inti mencapai 40 orang.
Pada lingkup dunia pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (selain di Jateng, Jabar dan sekitarnya, DKI), peleton inti merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Bahkan sebagai unit kegiatan terpercaya dalam hal “patriotisme dan bela negara”, peleton inti sangat dianjurkan untuk eksis ditiap sekolah (khususnya di Kota Yogyakarta). Karena itu wajar bila jumlah peleton inti hampir sama dengan jumlah sekolah itu sendiri. Apalagi di sekolah-sekolah yang memiliki tradisi tonti yang bagus, peleton inti yang mereka miliki bisa mencapai 6 peleton (2 peleton ditiap-tiap angkatan).
Di Yogyakarta sendiri, didapati peleton inti yang mengklaim sebagai kelanjutan manifestasi dari kelompok tentara pelajar yang turut berjuang pada revolusi fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mungkin, berangkat dari akar sejarah terbentuknya inilah, akronim tonti hanya dikenal di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta, alih-alih menamainya dengan “Paskibra” (Pasukan Pengibar Bendera) yang lebih familiar disebut di Propinsi lain di Pulau Jawa, dan istilah “Paski” yang sering digunakan di Indonesia Timur.
Selain terklaim sebagai kepanjangan manifestasi dari tentara pelajar (dengan paradigma baru), peleton inti dengan berbagai istilahnya di propinsi lain, bisa jadi terkatalisator oleh kemunculan Rukibraka (Regu Pengibar Bendera Pusaka) di Yogyakarta pada tahun 1946 yang kini dikenal luas dengan istilah Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka). Walaupun pengaruhnya boleh dibilang terlambat, tetaplah Paskibraka memberi warna yang cukup dalam pada karakteristik peleton inti. Paskibraka yang memang beranggotakan pelajar SMA / sederajat secara signifikan mampu mendorong semangat para anggotanya untuk menyuburkan keberadaan peleton inti disekolahnya.
Saat ini, Peleton inti / tonti tumbuh begitu subur di Propinsi DIY. Selain karena alasan historis seperti diatas -yang membuat tonti menjadi “artefak” sejarah yang eman-eman untuk dihilangkan-, juga karena alasan psikologis dan praktis. Dibanyak sekolah, tonti menjadi salah satu ekstra kurikuler favorit, bahkan bisa dibilang bergengsi. Wajar jika keuntungan psikologis ini mampu menjaga kesinambungan peleton inti untuk terus eksis akibat keberadaan SDM-SDM baru.
Dalam tataran praktis, keberadaan peleton inti / tonti yang begitu subur di DIY dipengaruhi kuat oleh keberadaan KOMPETISI REGULER. Hebatnya lagi, di DIY, jumlah kompetisi semacam ini tidak sekedar satu atau dua kompetisi saja dalam setahun. Tercatat dalam kurun 2006-2009, sebuah sekolah (terutama SMA / sederajat) bisa terjun di 5 kompetisi sekaligus. Kompetisi reguler yang dimaksud pada umumnya bertajuk Lomba Baris Berbaris (LBB), terkadang juga disebut sebagai Lomba Peleton Inti. Terlepas dari berbagi istilah yang mengikatnya, KOMPETISI, jelas menjadi tulang punggung utama keberadaan peleton inti.
