Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Dalam Kondisi Apapun…

Cerita ini, adalah pengalaman kami Bhapad 67 di awal-awal pelatihan dulu.

Belum genap 3 minggu latihan bhapad kami mendengar desas-desus bahwa sebentar lagi kami akan mengikuti lomba baris-berbaris (LBB) yang diadakan oleh SMAN 5 Yogyakarta. Kami sangat kaget, bagaimana mungkin kami yang masih belum diajarkan materi maju jalan ini akan mengikuti lomba. Dengan keadaan setidak siap ini kami justru akan mempermalukan SMA 3. Itulah pikiran-pikiran buruk kami saat itu, kami sangat panik.

Dengan waktu yang tidak sampai 2 minggu kami akhirnya ‘disiap-siapkan’ untuk maju di lomba ini. Kami yang merasa masih belum bisa menguasai materi dengan baik berencana untuk latihan pagi. Jadi, kami memutuskan untuk latihan sendiri di pagi hari sebelum bel berbunyi. Kami menentukan pukul 6.30 kami sudah berkumpul dan sudah bisa memulai latihan. Kami menjalani rutinitas ini sampai H-1 lomba.

Masih sangat jelas, pada saat latihan pagi di sekolah pada hari H lomba tiba-tiba kami diajarkan materi haluan melintang. Bagai disambar petir di siang bolong, H-1,5 jam lomba kami ‘baru dikasih’ materi baru yang belum pernah dilatih sama sekali. Kata Mas Galih (alumni bhapad angkatan 55 yang kebetulan masih di Jogja waktu itu), “Ini buat nambah-nambah poin kalian.” Kami hanya bisa pasrah ketika mencoba materi yang masih asing ini.

“Padahal kemarin bilang kita maju tanpa haluan melintang…”

“Kenapa ngga dari kemaren-kemaren aja dilatihnya?”

“Wah, uda H-1,5 jam meen! Malah ditambahin materi kayak gini..”

Itulah cuplikan protes kaget dari teman-teman. Dan tanpa bisa mengerjakan sesuatu selain mencoba materi baru itu kami berusaha sekeras mungkin. Setelah dirasa waktu makin mepet kami memutuskan untuk menyudahi latihan dan segera membentuk sebuah lingkaran besar. Dengan khusyuknya kami bedoa semoga apa pun hasilnya nanti itulah yang terbaik.

Begitu sampai balaikota, yang menjadi tempat lomba, kami segera menuju basecamp SMA 3. Sambil menyiapkan diri kami berusaha untuk tetap tenang dan berkonsentrasi. Akhirnya nomor kami diundang. Kami maju dengan percaya dirinya meskipun masih memakai seragam abu-putih.

Pengumuman hasil lomba akan dibacakan di aula balaikota. Kami yang masih sedikit norak tentu ingin mendengar secara langsung pengumuman lomba ini. Jumlah kami yang banyak membuat aula makin sesak. Pengumuman akan segera dimulai, para peserta yang berada di aula segera menyukupkan obrolan mereka, termasuk kami. Rasa dag dig dug itu benar-benar membuat kami ketakutan. Dan akhirnya..

“Juara 3 kategori pleton putri diraih oleh pleton dengan nomor dada….”

Suasana menjadi lebih hening.

“SATU-SATU-LIMA.”

Dan ternyata itu adalah nomor dada pleton putri kami, begitu lama kami mencerna ucapan MC itu, kami benar-benar tak menyangka kerja keras kami selama ini begitu tak ada artinya dibandingkan rasa bangga yang kami dapat. Juara 1 pleton putri diraih bhapad 66 putri, sedangkan juara 1 pleton putra diraih oleh bhapad 66 putra. Dan komandan peleton (danton) 66 putri pun berhasil menyambar gelar danton terbaik putri di LBB ini.

Meskipun cabhapad 67 putra kami belum mendapat piala, mereka jugalah yang ada dibalik kemenangan kami semua. Lagipula piala ini bukanlah milik cabhapad 67 putri saja, melainkan juga milik cabhapad 67 putra, milik bhapad, dan milik padmanaba. 18 Oktober 2009 menjadi momentum yang takkan hilang dari ingatan kami semua, para cabhapad 67.

Keesokan harinya kami membawa atmosfer bahagia di sekolah. Datang dengan wajah berseri-seri meskipun di jam pertama ada ulangan harian. Entah ada sesuatu apapun itu yang menghubungkan kami semua di pagi yang cerah itu. Begitu sampai sekolah otomatis para cabhapad 67 menuju lapteng. Dan tak disangka-sangka di lapteng banyak cabhapad yang sedang ngumpul-ngumpul, membicarakan LBB SMA 5 kemarin terutama.

Saat bel masuk berbunyi, kami bubar dan menuju kelas masing-masing. Dan yang membuat kami semakin bangga adalah ucapan selamat dari teman-teman dan bahkan dari guru. Yah, begitulah masa-masa euphoria kami.

Hari-hari selanjutnya, kami kembali disibukkan oleh larut bhapad. Yang jujur saja, banyak dari kami yang lelah, kehabisan waktu untuk ngevent, main, dan kegiatan lainnya yang sudah terlampau sering kami lewati. Jumlah kami tiap larut semakin lama semakin sedikit. Kami jenuh, kami bosan terus menerus latihan seperti ini. Ditambah lagi, maaf, pelatih yang menurut kami sangat membuat mental drop dan emosi kami mendidih.

Suatu hari kami benar-benar merasa tidak semangat latihan. Aksen kami loyo, teknik kami hancur, wajah kami benar-benar kusut, boro-boro senyum, menunjukkan mata membuka pun ogah-ogahan. Pada saat koreksi pelatih marah besar, kemudian menyuruh kami membuktikan pada mereka bahwa kami bisa berubah menjadi lebih baik.

Keesokan harinya, kami benar-benar berniat latihan hari itu. Sampai-sampai ada beberapa anak dari kami yang melihat mbak Inten yang bertugas mendantoni senyum-senyum ketika mendengar bunyi “brek brek brek..” kami yang benar-benar satu suara. Kami sedang on-fire.

Pada saat koreksi tanpa diduga-duga sebelumnya, seorang ‘oknum’ yang notabene ‘tidak’ melihat bagaimana semangatnya kami karena datang telat mengatakan dengan entengnya..

“Pelatihan hari ini gagal.”

Ekspresi datarnya sambil mengucapkan vonis itu sangat mak jleb jeb di hati kami. Sakiiiiiiit rasanya. Tidak dihargai itu sangat sakit. Hari itu kami sangat kecewa pada oknum tersebut. Tiada kata-kata yang mampu mengekspresikan bagaimana sakitnya kita sore itu. Tapi, anjing menggonggong, khafilah berlalu,  pelatih ngomong, semangat harus tetap laju.

Lalu LBB PPI kota datang. Sungguh tak disangka-sangka usaha kami yang begitu keras untuk melanjutkan perjuangan sebelumnya untuk meraih gelar ‘Juara Bertahan’ sirna. Hanya pleton 65 putra-lah yang mampu menyabet piala.

Saat itu, kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran besar di halaman berumput balaikota. Merasa sangat sedih. Namun ini memang sudah siklus. Kadang kita berada di atas, kadang pula di bawah. Saat itu saatnya kita berada di atas. Hampir semua dari kami menangis.

Keesokan harinya hal yang sama terjadi lagi. Namun suasana yang kami bawa berbeda dengan yang sebelumnya. Kami berkumpul di lapteng memasang wajah murung. Hari itu padmanaba terlihat berkabung.

Selanjutnya, LBB demi LBB berhasil kami lewati dengan baik. Sungguh, pelajaran berharga dari PPI Kota benar-benar menbangkitkan kami. Rasa solidaritas kami pun juga makin meningkat. Keluarga kami yang ini tak akan terpisahkan, tak akan punah rasa saling memiliki kita.

Jiwa Bhayangkara Padmanaba yang sudah melekat di masing-masing insan akan terus ada sampai saat ini dan seterusnya.

Amelia Annisa Evelina

Oleh • Mar 30th, 2010 • Kategori: DIARY BHAPAD

Tag :

25 Responses »

  1. sepertinya aku ingat yang bilang “Pelatihan hari ini gagal”
    hahahaha :D

  2. sopoe?

  3. hahaha..
    bukan untuk konsumsi umum,,ra etis pak..

    sing jelas bukan sampeyan,,iya to..
    makane rajin nglatih,,biar tahu seluk beluknya…nglatih kok cuma e**m orang..

  4. masih mending kata2 “hari ini” enggak diganti “tahun ini”. hahaha…

  5. @saiver62 : wah kalo diganti,,,aku akan berusaha minum racun tapir…ra trimo aku…
    aku sering banget melihat dari paling poor sampai the best je..

  6. kalo ada yang berani bilang “tahunn ini”…Lapor SAYA!!! :D

  7. @mbak fimma : terus yang bilang diapain????

  8. Tak suruh nglatih tahun depan…:D

  9. bwahahaha….mesakke tenan nek kuwi mbak… :D

  10. Ya kan harus idkasih kesempatan….kalo tahun ini gagal…tahun depan ga boleh gagal…

  11. wahahaha..nek gagal meneh piye mbak???Rasah lulus wae

  12. “Pelatihan hari ini gagal”

    vulgar,, ketok banget ngrasani amel ki,

  13. @ra2 : hahaha….aku jadi inget

  14. tapi jujur itu menohok
    *buat ehem yg di bicarakan, maap. amel lhoooo yang mulaiii :p*

  15. :D gapapa..orangnya kan gapernah (jarang) buka blog ini

  16. aku tau ! mas itu

  17. @utari67 : ya harus taulah,,kalo gatau berarti gapernah latian….

  18. wow ! aku juga tau siapa mas itu ! :D

    ra2: yang bikin artikel jo disalahkee, niatnya kan hanya untuk sekedar flashback masa2 pelatihaan :)

  19. wahwahwah,,
    kalian ini flashback…
    hha, bagus bagus bagus,
    :D
    btw bukanny udh jd rhasia umum y siapa “mas itu”,
    *sok tau,
    :p

  20. @bano : harus tahu :D :D :D
    @irZ10 : jadi rahasia aja..bukan konsumsi umum

  21. baiklah baiklah,
    hahahahahaha,
    :D

  22. @irZ10 : sepertinya saya ingat nick anda itu siapa :D

  23. @bayu : hah?! apa? maksudnya?
    ingat? kok bisa?
    emg sapakah diri saya?
    *kok mlah jd geje gini y?
    :D

  24. jadi geje??
    siapa suruh pake nick aneh”
    dari bahasa sampeyan yang agak “lebay” aja saya udah tahu.. :D
    sudah..tidak usah bersembunyi lagi..toh tidak ada untungnya menyembunyikan nick..tidak akan ada yang nyantet kok :D :D :D

  25. 5mgu. mkin ckup. 1,5 jam. hebat

Leave a Reply