Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Bhayangkara Padmanaba 67

Bukan Hanya Brotowali yang Menyatukan Kami

Kami mulai membuka lembaran kisah semenjak kami terpilih menjadi Calon Bhayangkara Padmanaba. Kami belum saling mengenal lebih dalam satu sama lain, apalagi karakter masing-masing anak. Tapi seiring waktu berjalan, kami saling menilai, saling mencoba memahami dan mengerti. Semua itu tumbuh natural. Walaupun memang, awalnya harus dipaksakan.

Santi dan Rino, adalah lurah kami, orang tua kami. Ajeng-Faris sebagai carik, Mappa-Ayu sebagai jogoboyo (jogboy). Mereka kami pilih, dan dilantik di depan kami secara langsung. Sekilas memang unik. Susunan perdes 67 sendiri sempat dipertanyakan. Mulai isu, si “X” lebih pantas menjadi lurah, Santi yang pikirannya terlalu tinggi, Faris yang dianggap lebih pantas menjadi jogboy, dan masih banyak lagi. Tapi dari sisi lain, kami memandang mereka sebagai payung yang sempurna untuk kita berteduh. Walaupun karakter dan wibawa masing-masing berbeda, tapi justru mereka bisa saling melengkapi.

Hal yang unik dari Bhapad 67 adalah ketika kami mengikuti lomba. Lomba Baris Berbaris (LBB) di SMA 5 Yogyakarta adalah laga perdana kami. Ketika itu kami masih Calon Bhayangkara Padmanaba. Sebelum pleton putri tampil, sebagian pleton putra telah hadir dan memberikan semangat. Ketika pleton putra bersiap tampil, semua pleton putri memastikan kelengkapan dan kerapian seragam. Membantu memakaikan muts, ikut ribut mencari ini-itu, bagai menjadi istri sehari. Tapi, mereka bangga akan itu. Tidak ada keterpaksaan, semua tulus.

Tidak hanya di LBB pertama kami. Di LBB Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Yogyakarta yang sempat menjadi faktor menyuramnya wajah-wajah kami, juga di LBB PPI propinsi yang mengaharumkan nama Bahayangkara Padmanaba 67 karena keberhasilan pleton putra 67 menjadi juara pertama, hingga di LBB SMA 8, tradisi menjadi istri sehari di Bhapad 67 tidak pernah luntur.

Menurut salah seorang anggota Bhapad 67, karakter kami sangat beragam. “Kalau dilogika susah menyatukan kita. Tapi herannnya, ketika ada 2 atau beberapa orang memuncak egonya kita justru kompak untuk mengalah”. Satu fakta lagi terungkap bahwa sebenarnya rasa kekeluargaan yang menyatukan kami datang dari berbagai hal yang terbilang kecil. Tapi pengaruhnya besar dan kompleks, yaitu masalah kekompakan. Karena bukan hanya potensi yang kita butuhkan di Bhapad.

Secara teknik, memang kami masih serba ‘kalah’. Justru kami menyadari hal itu secara nyata. Tidak hanya menurut pandangan kami. Alumni, angkatan atas dan juri ketika lomba juga telah mengungkap fakta ini. Tapi kami tidak pernah menyerah. Bahkan kebanggaan tersendiri bagi kami bahwa pleton Bhapad 67 khususnya putra, telah banyak berjasa untuk mengantarkan Bhapad 66 menjadi juara. Salah satu buktinya ketika LBB SMA 8 lalu. Walau masih ketinggalan dalam masalah teknik, kami juga dapat banyak membantu dan melengkapi.

Sedikit flashback ke masa-masa Bhapad 67 dilantik. Sebelum hari-H, tugas menggunung diberikan kepada kami. Banyak cerita yang terkenang pada saat itu. Mulai kami sempat di usir ketika mengerjakan tugas, mencoba merayu pembuat soal untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang soal hingga tabrakan beruntut yang menelan banyak korban. Kami takut untuk memastikan bahwa kami akan dilantik. Dan ketika proses menuju pelantikan itu kami lalui, memang terasa jelas kami seakan belum layak untuk dilantik. Pekerjaan kami banyak yang tak beres, masalah kepercayaan pleton dengan perdes, formasi dan banyak lagi.

Satu hal yang mungkin tidak akan pernah kami lupakan adalah ketika kami menikmati jamu yang kami bawa. Setelah menyantap habis tumpeng, rasa haus tak tertahankan menyerang. Setelah duduk bersaf, kami mulai menikmati jamu bergiliran. Pahit, tapi kami tidak begitu menghiraukan. Hingga brotowali hinggap di Galih. Ia lah yang harus menghabiskan jamu super pahit itu. Suasana tegang, sempat merasa kasihan dan bersalah tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba, “Ayo, Lih semangat !” seru jogboy putri kami. Mungkin ia bermaksud baik memberi Galih motivasi. Tapi sepertinya agak kurang tepat penyampaiannya hingga membuat pelatih “shock”. Kami merasakan kepahitan yang dirasakan Galih walau hanya melihat. Akhirnya kami merebut botol Galih dan menghabiskannya bersama-sama. Kurang beruntungnya, seseorang, perempuan yang duduk di pojok harus menelan ampas brotowali dalam botol. Mungkin sedikit pelajaran untuk putri, jangan pernah berada dipojok depan berjejer dengan yang putra.

Kami tidak mendapat air minum lagi. Akhirnya ketika melewati mushola, yang ada dipikiran kami hanyalah kran! Dan air dalam kran itu kami teguk. Rasa kapurit sepertinya belum dapat mengalahkan pahitnya brotowali.

Memang dalam kejadian ini kebersamaan kami terbuktikan. Rasa persatuan dan kekeluargaan kami terkuak memuncak. Namun bukan hanya brotowali yang menyatukan kami. Kami bersatu dari beragam perbedaan yang menjadikan kami berwarna walau kami sering dinilai kurang. Tapi kami kuat dalam satu.

“Kita memang berbeda, kita memang tak sama. Namun itu yang buat kita berwarna…..

Bhayangkara Padmanaba 67 …”

Mars yang selalu menyatukan kami, cerminan keluarga Bhayangkara Padmanaba 67.

 

Laily Anna Diah A.S 

Oleh • Mar 12th, 2010 • Kategori: NOT ONLY TECHNIQUE

12 Responses »

  1. “Kurang beruntungnya, seseorang, perempuan yang duduk di pojok harus menelan ampas brotowali dalam botol.”

    curcol :D

  2. @ra2 : quote yang sangat lucu

  3. hm?
    lucu mananya yah?
    aku salah ya?
    apa sih?

  4. lha kamu nulisnya “Kurang beruntungnya, seseorang, perempuan yang duduk di pojok harus menelan ampas brotowali dalam botol.”

    kata2 kurang beruntung ditambah duduk di pojok + menelan ampas brotowali

  5. hm?
    *semakin bingung*

  6. lhoh
    kok jadi nama dia yang muncul
    maap
    itu yang ngomong aku mas ;p

  7. @ra2 : satu komputer ya :D :D :D

  8. @ra2 : bagus! hemat energi! gunakan 1 komputer bila perlu!
    :D

  9. @komen 7,8:
    mbok jangan bikin malu too,, ketok dedot XP

  10. @ra2 : hla kamu mancing og,,kalo kamu tidak mengklarifikasi dengan comment 6 semua ini tidak akan terjadi

  11. iya juga ya, jadi malu :p

  12. @ra2 : tutup muka!!!! cepetan!!!! nanti kliatan!
    :D
    kalo keliatan kan maluuuu,
    :b

Leave a Reply