Merayakan Dream Team Kelima
Sebelumnya saya ucapkan selamat untuk generasi dream team kelima Bhapad (DT V) -seperti yang diklaim mbak Fimma pada tulisan “press release”nya-, atas keberhasilan merebut gelar juara umum pada LBB SMA 8 Minggu (21/2) lalu. Awalnya saya sempat lupa kalau the dream team kita masih saja bermunculan, tak terasa ditahun ajaran 2009/2010 ini kembali lagi lahir generasi dream team terbaru, DT V. Syukur Alhamdulillah.
Yah mungkin, sebagai tanggung jawab moral, ada baiknya bila saya ceritakan lagi sedikit mengenai dream team Bhapad. Tulisan terakhir mengenai hal terkait tampaknya saya sematkan hingga DT III saja. DT IV, atau bahkan yang kelima –untung diingatkan Fimma lewat tulisan terakhirnya- nyaris tak terpikirkan lagi.
Secara singkat, dream team Bhapad hanya akan diakui bila dalam tahun ajaran tertentu, SMA 3 Yogyakarta berhasil membawa pulang setidaknya satu gelar juara umum dari LBB yang diikuti. Cukup ironis, mengingat sejarah terbentuknya Bhapad yang panjang, kita baru memiliki lima generasi dream team hingga detik ini. Artinya, hanya dalam lima tahun ajaran saja, SMA 3 mampu menjadi juara umum. Diawali pada tahun ajaran 90/91, kita dipaksa berpuasa prestasi hingga berhasil kembali ditahun 06/07. Sangat lama memang, meski untung sejak masa itu kita selalu berhasil menaruh gelar juara umum (de facto maupun de jure) ke lemari piala aula. Diawali DT I pada tahun 90/91, muncul DT II pada 06/07 oleh Bhapad 63 dan 64, DT III (07/08) oleh Bhapad 64-65, DT IV (08/09) lewat Bhapad 65-66, dan akhirnya DT V (09/10) yang diperjuangkan bersama oleh Bhapad 66 dan 67.
Kelahiran DT V dan Antusiasme yang Terlewatkan
Sesuai rumus bakunya, DT V sebenarnya telah lahir di awal tahun ajaran 2009/2010. Lewat LBB SMA 5 yang menjadi LBB perdana di seantero Yogyakarta, kita berhasil meraih gelar juara umum setelah menjuarai kategori peleton putra, peleton putri dan komandan putri. Meski kesemuanya diraih peleton kelas 2 (Bhapad 66) yang sensasional, peleton rookie yang saat itu masih berstatus “caBhapad 67″ tidak mau ketinggalan dengan turut berprestasi lewat raihan peringkat 3 kategori peleton putri dan komandan putri sekaligus. Upaya yang hebat bagi sebuah peleton yang belum lengkap mendapat materi pelatihan.
Saya ingat betul betapa tim pelatihan untuk caBhapad 67 saat itu punya rencana gila yang mungkin tidak pernah dilakukan peleton manapun di Yogyakarta. Berhubung materi belok, haluan dan melintang diperkirakan belum diajarkan hingga H-1 LBB SMA 5, padahal peleton kelas 1 ini sudah terlanjur didaftarkan ikut serta, tim pelatih berencana tidak melakukan gerakan apapun di pos terakhir. Dengan demikian, juri akan melihat sebuah peleton gagah dan cantik yang penuh ketidakpercayaandiri (tanpa jas, lomba pertama pula) memasuki pos mereka, boleh jadi dengan gebrakan langkah tegap yang masih terdengar samar-samar, lengkap dengan lambaian tangan yang tengsrawil (tidak serempak, -pen).
Juri mungkin saja berpikir, “Tidak ada yang lebih buruk dari ini, selamat berjuang mendapat nilai kami”. Mereka lalu membuka map juri, mulai meletakkan ujung pena di lembar penilaian, memperbaiki posisi duduk, dan mengumpulkan konsentrasi untuk memberi penilaian yang tepat. Namun siapa sangka, seluruh peleton menghadap penuh ke mereka dengan wajah aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan. “Ada apa ini? Masak mau belok-belok dalam keadaan bersaf? SMA 3 pancen kreatif!”, juri tampak lebih bersemangat. Tiba-tiba saja sang komandan juga balik kanan dan ikut-ikutan menghadap kearah dewan juri, disini juri seharusnya mulai merasa ada yang tidak beres.
Berbagai keanehan tersebut diakhiri dengan sempurna lewat jeritan komandan yang masih nderedeg (gemetar, pen) akibat campuran menahan malu dan demam panggung. Bukan teriakan aba-aba pada peleton, namun, “Peleton dengan nomer dada sekian TIDAK MELAKSANAKAN materi gerakan di pos III. Laporan selesai”. Selesailah sudah. Percaya tau tidak, skenario ini benar-benar sudah mendapat acc dari tim purna.
Untung, lewat kerja keras pelatih dari Bhapad 66, caBhapad 67 tidak harus melewati adegan memalukan tersebut. Materi berhasil diajarkan, 66 maju dengan materi komplit. Akhirnya, merekapun dengan bangga mengatakan, “Nih mas, mbak, piala yang berhasil kami raih untuk Padmanaba. Di lomba pertama”.
Tapi entah mengapa, waktu itu, kita semua tidak mengadakan perayaan khusus menyambut dream team baru yang telah lahir. Bisa jadi karena semua kemenangan ini telah menjadi rutinitas di lingkungan kita. Namun, seperti yang diingatkan rekan mahaguru lain, merayakan keberhasilan adalah sarana bagi kita untuk mengisi ulang baterai. Menjadikannnya agar tidak jatuh sebagai rutinitas, sebuah penghargaan bagi diri sendiri yang telah berusaha sedemikian rupa. Karena itu, mari rayakan kemenangan kita, bukan karena alasan hura-hura, namun agar kita tidak bosan mencapai puncak-puncak prestasi yang lain didepan. Rayakan, dan tetap rendah hati. Bukan begitu pemennag sejati?
Galih Kusuma Putra


Tes..tes..
Jangan lupa bersyukur dan terus evaluasi diri…
Tahun ajaran 2010/2011 berat lho…
66 dah purna,,67 berjuang, bentuk 68 jadi jauh lebih baik
Sik sik Bay, 66 kok udah purna?
taun iki mas, maksude bayu…
@ mas galih : aku sing purna mas,,ra iso melu lomba meneh
@ saiver62 : terima kasih untuk menerangkan