Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Inovasi Inovasi Inovasi!

Diawal tahun ajaran 2009/2010, saya pernah membuat tulisan yang pada intinya merindukan kemunculan sebuah prestasi hegemonik dimana sebuah sekolah mampu menjadi juara di seluruh kategori. Meminjam istilah yang sering digunakan dalam kompetisi-kompetisi olahraga, “sapu bersih”, saya berharap dapat menyentil banyak kekuatan peleton inti di DIY untuk bersama-sama berjuang dan bersaing meraih capaian membanggakan itu.

Keberhasilan sebuah sekolah dalam melakukan sapu bersih disatu sisi memang bisa terlihat merugikan, karena berpotensi menghilangkan semangat kompetisi (sebuah pikiran pendek sebenarnya). Akan tetapi, bila melihat jauh kedepan, kita memerlukan situasi seperti ini untuk memecah dinding cadas stagnasi LBB di DIY. Termasuk berharap pada efek pemberian motivasi ekstra bagi sekolah lain untuk berbuat yang lebih baik, atau setidaknya menyamai prestasi tersebut. Secara alamiah, dalam sebuah lingkungan kompetisi, tidak akan ada kompetitor yang rela melihat kompetitor lainnya menguasai keadaan. Ia akan membuat lebih banyak inovasi untuk mengembangkan diri, dengan harapan, suatu saat dapat mengalahkan kompetitor saingannya tersebut. Ini adalah sebuah lingkungan yang positif, yang karenanya kita bisa berharap perjalanan sebuah kompetisi akan terus berkembang.

Sekarang, coba lihat kebelakang. Bila anda memiliki arsip tentang bagaimana LBB-LBB di DIY ini dijalankan, akan terlihat stagnasi yang membuat geleng-geleng kepala. Bayangkan saja, di sebuah negeri yang diklaim sebagai tanahnya para pelajar terdidik, kita dihadapkan pada tantangan yang sama dari tahun ke tahun. Para penyelenggara LBB non PPI cenderung menyontek (istilah berkiblat tidak tepat lagi) pada LBB yang diselenggarakan PPI (kecuali LBB SMA 3 dan Menwa UII), khususnya di bidang lapangan seperti materi dan karakteristik lomba. Parahnya, PPI sendiri juga gagal membuat lomba yang dinamis dari tahun ke tahun.

Ketika pertama kali aktif di PPI pada tahun 2001, saya melihat materi gerakan LBB PPI dimanapun (Propinsi, Kota, Kabupaten) sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya! Karena itu, walau diliputi perasaan gentar akan dimarahi senior, sejak 2004, ke 2005 hingga 2006 -dimana saya terakhir aktif-, saya dan teman-teman membuat materi gerakan LBB PPI DIY yang tidak pernah sama di tiap tahun. Selalu ada materi-materi gerakan baru, pemindahan variasi gerakan, dan melogiskan sistem dan aturan penilaian. Bila kini anda menemui materi banjar kumpul, istirahat ditempat (parade), perhatian, hormat kiri, ganti langkah, langkah merdeka, berhimpun, kombinasi gerakan hadap-balik yang membingungkan, haluan/melintang maju, berjalan dalam keadaan bersaf, hingga lari maju, dan itu menyusahkan, silahkan salahkan saya. Faktanya, pada tiga tahun masa variatif tersebut, muncul juga tiga sekolah berbeda sebagai juara umum LBB PPI DIY. Inilah indahnya inovasi, dimana semua sekolah dituntut selalu siap menerima perubahan. Meningkatkan kualitas juga kan pada akhirnya?

Sayang, sejak tahun itu, stagnasi kembali terlihat. LBB PPI Sleman di tahun 2007 atau 2008 (saya lupa), 100% menjiplak materi gerakan LBB PPI Propinsi 2006. Kecewa, betapa (maaf) tidak kreatifnya rekan-rekan di Sleman. Untung, ditahun-tahun selanjutnya ada sedikit modifikasi meski membuat materi jadi jauh lebih simpel dan kurang menantang. Memang sih ada perubahan, tapi kok malah standar kesulitannya turun. Ini juga masalah! Lalu, di LBB PPI yang lain, bahkan di Propinsi, lagi-lagi terjangkit penyakit stagnasi ini. Saya tidak yakin apakah masukan dari luar kurang bergema atau lingkungan internal yang terlalu jumawa sehingga masalah tersebut tidak kunjung diperhatikan. Wallahualam..

Karena itu, mari kita buat inovasi. Selama caranya adil (bukan sama rata) dan memuaskan peserta (karena itu perlu penelitian pasar dan sosialisasi), tidak masalah. Bukan dengan jalan pintas menaruh juri-juri yang antipati di kategori yang tidak seharusnya. Juga, jangan lupakan transparansi, salah satunya dengan memperkenalkan aturan juara umum ke peserta sejak awal, bukan setelah diprotes usai pengumuman lomba.

Ayo kreatif, jangan terkungkung. Bila anda yang menyelenggarakan LBB, kepada andalah peserta menurut. Buat karakter lomba anda sendiri. Seorang Roger Federer pun nyaris tidak pernah menang di lapangan tanah liat, Valentino Rossi juga payah bila mendapati trek basah, bahkan kesebelasan Brazil kesulitan tampil baik di dataran tinggi. Banyak keunikan lomba yang bisa digali kok. Semoga saja semakin banyak LBB yang punya karakteristik mandiri nan kuat, tanpa harus menjiplak LBB lain.

Galih Kusuma Putra

Oleh • Feb 28th, 2010 • Kategori: NOT ONLY TECHNIQUE

Leave a Reply