Bimo Salabim
Minggu (21/2) lalu, Bhapad 66 dan 67 mengikuti lomba baris-berbaris (LBB) SMA 8. Bertempat di Balaikota Yogyakarta, inilah kali kedua dalam dua tahun berturut-turut, SMA 8 menyelenggarakan LBB. Bagi sebagian besar anggota Bhayangkara Padmanaba, hari Minggu itu hanyalah hari perlombaan biasa laiknya hari-hari perlombaan lain. Namun ternyata, nun jauh di Fakultas Peternakan UGM, sahabat kita, Bimo Adi Pratomo, sedang menjalani perlombaannya sendiri.
Malam sebelumnya, lelaki yang lahir di Bekasi 8 Oktober 1992 ini mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian Penelusuran Bibit Unggul Olahraga dan Seni (PBOS). Dijadwalkan, Bimo akan mengikuti ujian tersebut keesokan hari, berbarengan dengan LBB SMA 8. Dalam rangka persiapannya tadi, Bimo belajar hingga pukul 12 malam. Walau sudah bangun sebelum subuh, dia mengaku hanya sarapan sedikit dan merasa sangat siap.
Ujian dimulai pukul 8 pagi hingga 12 siang, tes tertulis. Tes tersebut meliputi tes skolastik dan ilmu pengetahuan dasar. Ternyata, tes ini lumayan menguras tenaganya. Berhubung hanya sarapan sedikit tadi pagi, dia sempat sangat pusing di akhir tes dan tangannya gemetaran ketika cap jempol.
Begitu keluar ruangan ujian, dia teringat bahwa teman-temannya sedang mengikuti LBB SMA 8. Dia tidak tahu dimana lomba itu berlangsung, namun iseng-iseng dia menuju balai kota (karena biasanya LBB diadakan di sana). Rupanya tebakannya benar. Bahkan, teman-teman satu peletonnya, Bhapad 66, belum maju. Menemukan peletonnya kekurangan banyak personil, Bimo yang tidak membawa perlengkapan apapun, berinisiatif terjun berlomba, alih-alih pulang. Untuk itu dia mencari-cari pinjaman jas dan perlengkapan lomba dari adik kelas, Bhapad 67. Perlengkapan komplit, Bimopun memaksakan diri bergabung dengan rekan Bhapad 66 yang lain memasuki pos demi pos dibawah komando Rinaldi Zulfahmi.
Pos I, perjuangan Bimo lancar-lancar saja. Pos II, dia mulai merasa ada yang tidak beres, kepalanya pusing. Pos III, pusingnya semakin menjadi sehingga berefek pada hilangnya konsentrasi. Disini Bimo melakukan dua kali kesalahan individual. Akan tetapi dimasa-masa kritis itu, dia hanya berpikir, “Bila saya jatuh di sini sekarang, itu akan memalukan saya, teman-teman, dan SMA 3”.
Pos III selesai, sambil keluar pos, danton mengomando peleton untuk hormat kanan kepada juri. Namun yang dipikirkan Bimo saat itu hanyalah keluar pos. Setelah benar-benar keluar, dia mengaku tidak ingat apapun. Dia ambruk dan badannya menghantam aspal. Oleh rekan-rekannya, Bimo kemudian dibawa ke pos pemadam kebakaran. Untunglah semua baik-baik saja. Bahkan mungkin, SMA 3 yang kurang persiapan dan seharusnya “dihukum” dengan kekalahan, malah mendapat hadiah dari Tuhan akibat perjuangan ikhlas dari Bimo seorang. Trims Bim!
Rara dan kawan

Tes..tes…
hebat mas Bimo!!! kurang enak badan Vs Semangat!!!
Ncer66 memang mantap
(Ngejunk ahhh)
mantap bok…:-)
ra2 : sial namaku di sebut -____________________________________-
kiki : bentar2 belom tak baca……
ki2: udah baca….. yayayaya salut deh tapi kasihan yo jatuhnya nyungseb k depan….. nyium aspal gitu……….
bimo yahud. Salut, Bim…
kereeeeen
Yang keren apa Bi? Bimo atau tulisannya? Kalau tulisannya, pasti karena kawannya rara. Tapi lik yang keren Bimo…keren jatuhnya ya?
so what ???
wealah mas. keren gara2 abis tes masih kuat lomba, lha wong aku udah tepar di rumah e hehe
bimo mangstab!!!!aku sakjane pengen melu, tapi sama dantonku udah dilarang ikut… hiks
ealah. . . d sini jg
wah wah pengunjung baru nih
judulnya gajebo ah ..
gajebo tu apa pon?
@mas gal :
iya iya, yang keren tu ‘kawannya rara’
tur tenan e.
bahasanya jadi bagus :p