Atresia Bilier Yang Lagi Hangat
Belakangan, kita sering terpapar berita dari media massa tentang sebuah penyakit bernama atresia bilier. Penyakit tersebut oleh media diekspos secara terbuka pada setidaknya 4 balita di seluruh Indonesia. Dimulai dari kasus Bilqis Anindya Passa, (usia 17 bulan ketika diberitakan) penyakit ini kembali terekspos pada diri Abdullah Ichsanul Fikri (18 bulan) di Jakarta, lalu pada Ismail Daud (10 bulan) di Gorontalo, dan terakhir pada Ramdan Aldil (3 tahun) di Trenggalek. Walau kemungkinan penyakit ini hanya hinggap dikisaran 1 dari 10.000-15.000 kelahiran, media mampu mencitrakannya sebagai sebuah penyakit umum yang banyak terjadi, setidaknya di Indonesia. Fakta tersebut diamini DR. dr. Hanifah Oswari, SpA (K), spesialis hati anak di RSCM. Ketika kasus Bilqis dan juga Fikri sampai kepadanya dan akhirnya terekspos oleh media massa, dr. Hanifah menyatakan bahwa kasus-kasus serupa sebenarnya banyak ditemukan di Indonesia. Beruntung bagi Bilqis, Fikri, Ismail, dan Ramdan yang sempat tersentuh media yang kemudian mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Fenomena ini hanyalah puncak gunung es, lanjut dr. Hanifah. Tak hanya dr. Hanifah, beberapa dokter residen dan perawat jaga yang ditemui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di ruang tempat Fikri dirawat juga sering menemui balita yang mengidap penyakit yang sama. Direktur PLN, Dahlan Iskan, juga mengklaim terdapat 200-an bayi pengidap atresia bilier di Jawa Timur saja.
Atresia bilier didefinisikan sebagai sebuah penyakit dimana saluran empedu tidak terbentuk dan berkembang normal. Saluran empedu sendiri berfungsi untuk membuang limbah metabolik seperti bilirubin dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak didalam usus halus. Selain mengandung garam dan limbah metabolik, empedu juga berisi kolesterol. Cairan empedu ini nantinya akan dilepaskan dari jaringan hati dan untuk sementara mengalir dan ditampung oleh kandung empedu. Baru ketika makan, cairan empedu tersebut dipompa masuk kedalam usus halus.
Karena itu, ketika saluran empedu yang menghubungkan hati dan kandung empedu tidak terbentuk, empedu akan bertumpuk di hati. Pada akhirnya, hal ini akan mengarah pada peradangan dan mengakibatkan terjadinya sirosis hati. Wajar bila akhirnya diagnosis atresia bilier juga diikuti oleh sirosis hati, khususnya pada pasien yang terlambat ditangani. Hati yang dalam keadaan sehat bertekstur lembut dan kenyal, berubah menjadi keras seperti batu dan berbonjol-bonjol, inilah sirosis hati.
Penyakit yang lebih banyak diderita anak perempuan ini memiliki beberapa gejala umum pada usia sekitar 2 minggu setelah kelahiran yaitu air kencing berwarna gelap, tinja berwarna pucat, kulit berwarna kekuningan, hati membesar dan penambahan berat badan yang lambat. Selain itu, setelah bayi mencapai usia 2-3 bulan akan muncul gejala lain berupa bayi rewel, gatal-gatal, gangguan pertumbuhan, dan tekanan darah tinggi pada pembuluh darah.
Atresia bilier memang tergolong fatal. Selain pada tingkat yang mengharuskan dilakukan cangkok hati terkendala sulitnya mencari donor yang tepat, juga dihadapkan pada mahalnya biaya perawatan. Di Indonesia sendiri biaya untuk melakukan cangkok hati bisa mencapai 1 milyar, sebuah harga yang membuat sebagian besar keluarga penderita beringsut mundur melepas asa.
Galih Kusuma Putra

Tes..tes..
Mahal seharga nyawa pasien atau seharga jasa dokter ? Hmmm….
Mafia dokter gitu?
Maksudku : pasien mbayar tu seharga nyawa nya sendiri po dokternya. gitu…