Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Gus Dur Menggugat

Saya nggak akan repot-repot melakukan pembukaan cerita yang panjang lebar. Intinya, tulisan ini saya persembahkan sebagai rasa hormat akan humor-humor cerdas Gus Dur semasa hidupnya (termasuk kepada Gus Dur sendiri). Walau secara politik kami punya perbedaan pandangan yang lebar, namun sebagai mantan “lawan politiknya”, beliau tetap saya anggap sebagai simbah bangsa yang patut diteladani sepak terjangnya. Toh, perbedaan itu rahmat, apalagi perbedaan dari sudut pandang Gus Dur yang bisa membuat kita tertawa.

Jadi cerita fiktif yang amat pendek ini saya mulai pada sebuah hari bertanggal 1 Januari 2010.

Di langit keenam, Malaikat Munkar dan Nakir bersiap mengadu kepada Allah Swt karena baru saja disemprot Gus Dur dengan tuduhan “malaikat yang tidak kredibel dan professional”. Merasa sudah memiliki portofolio yang excellent dalam hal tanya menanyai manusia di dalam kubur, kedua malaikat ini berencana mengajukan surat permohonan pengunduran diri gara-gara kritik Gus Dur tersebut.

Sebelum sempat bertemu Allah, kedua malaikat ini berpapasan dengan malaikat Jibril yang kemudian mendengarkan keluh kesah mereka. Usai percakapan tersebut, Jibril langsung turun ke bumi, tepatnya di area pondok pesantren Tebu Ireng Jombang untuk menemui Gus Dur yang masih menampakkan raut wajah tidak sabar.

“Assalamualaikum Wr. Wb., yaaa ahli kubur”, sapa Jibril.
Gus Dur diam membisu.
Jibril mengulang lagi salamnya hingga dua kali, namun tetap saja Gus Dur tak menjawab. Lalu turun malaikat Ridwan membisikkan sesuatu kepada Jibril yang serta merta membuatnya tersenyum.

Jibril mengulang lagi salamnya, “Selamat pagi”.
Barulah Gus Dur bereaksi meski menjawabnya dengan ketus, “Selamat pagi juga. Ada apa Jib? Dan kamu Rid, ngapain ikut-ikut? Masak surga kamu tinggal begitu saja!”.
Malaikat Ridwan menjawab terlebih dahulu, “Jaman-jaman sekarang surga masih belum penuh Gus, jadi tugas saya masih lumayan enteng. Lagipula, hanya makhluk goblok yang berniat kabur dari surga”.
Jibril melanjutkan, “Saya datang untuk menggali informasi lewat wawancara. Tadi di langit keenam, kompatriot saya si Munkar dan Nakir tampak terpukul karena kritikmu. Memangnya ada apa? Apakah pertanyaan Siapa Tuhanmu, Apa Agamamu, Dimana Kiblatmu, Siapa Pemimpinmu terlalu mudah untukmu atau sudah tidak relevan lagi?”.
“Sejak kapan kamu beralih profesi jadi wartawan surgatainmet Jib?”
“Sebenarnya sih surgatainment sudah dilarang, karena tidak manusiawi. Tapi bolehkan kan saya tanya sedikit-sedikit”.
“Ya boleh saja”.
“Kalu begitu ceritakan dong ada apa”, desak Jibril.
“Begini lo Jib”, Gus Dur terlihat mulai tenang. “Pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nakir tetap relevan kok. Yang saya kesalkan bukan itu”.
Lalu apa dong”, sanggah Ridwan.
“Saya sudah berjam-jam ditidurkan di liang lahat ini, tapi si Munkar dan Nakir cuma berjalan-jalan saja di atas bumi tanpa memulai masuk kesini menanyaiku. Aku kan bosen gitu loh. Pingin segera transit ke teras surga secepatnya. Terpaksa deh mereka saya teriaki nggak kredibel dan profesional”.

Selepas mendengar cerita tersebut, Jibril dan Ridwanpun berpamitan pada Gus Dur lalu segera melesat naik ke langit. Di langit keenam mereka berdua menemui Munkar dan Nakir yang masih menggenggam erat surat permohonan pengunduran dirinya. Kali ini sudah bermaterai, tinggal ditandatangani.

Jibril memulai percakapan dan menanyakan keberatan Gus Dur yang didengarnya tadi di bumi.
Sontak saja Munkar dan Nakir protes, “Bagaimana mungkin kami bisa menanyainya. La wong makamnya saja selalu penuh dengan orang kok. Ketika kami menghitung langkah orang-orang itu ketika meninggalkan kuburan Gus Dur, belum sampai langkah ketujuh, sudah ada lagi orang yang datang. Begitu orang itu pergi, dan kami menghitung lagi langkahnya, eh belum sampai tujuh langkah, sudah ada orang lain lagi yang datang. Begitu terus sepanjang hari. Mana ada pula yang tidur disitu! Ya kapan syarat tujuh langkahnya terpenuhi. Kami nggak akan bisa masuk. Itu sudah SOP (standard operation procedure)”.
“Jadi gimana dong nih?”, Ridwan gusar
Jibril menjawab, ”Tugasku mengirim wahyu, dan tugas kamu njagain surga, Rid. Dah biarin ini dipikir Munkar dan Nakir sendiri!”.

Konon, surat permohonan pengunduran diri Munkar dan Nakir tersebut akhirnya ditolak karena materai yang mereka gunakan ternyata palsu (Ya iyalah, belinya di Indonesia…). Merekapun akhirnya harus kembali turun ke bumi menjalankan tugas-tugas spesialisasi mereka, termasuk diantaranya menanyai Gus Dur. Nah dari sini semuanya menjadi Wallahualam…

Selamat Jalan Gus Dur, doa kami menyertaimu

Galih Kusuma Putra

Oleh • Jan 3rd, 2010 • Kategori: USIL

3 Responses »

  1. haha. mas Gal, mas Gal…. aku liat mas Gal di tv loh… :D

  2. huahahahaha.. apik apik :D

  3. wuapik wuapik..

Leave a Reply