Seleksi Paskibraka Kab Sleman Tahap Pertama
Selasa (21/4) lalu, telah berlangsung Seleksi Paskibraka Kab Sleman tahap pertama. Pada seleksi yang diselenggarakan di 2 tempat tersebut (stadion Tridadi dan lapangan Pemda), para peserta menjalani 3 macam tes yaitu tes kesehatan awal, kesamaptaan dan baris berbaris. Seleksi ini sendiri diawali dengan tes kesehatan yang meliputi pengecekan tekanan darah plus pengukuran tinggi badan. Tes selanjutnya, kesamaptaan, awalnya direncanakan mulai pada pukul 09.00. Namun karena keterlambatan selektor dari salah satu instansi, tes yang satu ini baru terlaksana satu setengah jam kemudian. Tes PBB yang mengambil tempat di lapangan pemda menjadi tes yang paling akhir diujikan.
Tampak sekali bahwa tes kesampataan (lari 12 menit, push up dan sit up) menjadi sia-sia karena pengamatan di lapangan menunjukkan, para peserta yang lolos dari tahap ini (40 pasang) lebih dilihat dari tinggi badan, postur umum dan keterampilan baris-berbaris. Buktinya, ada seorang peserta, yang hanya mampu knee up 3x, lolos!
Sebaiknya untuk kedepan, panitia meletakkan tes baris-berbaris dan pengecekan postur di bagian paling awal. Disini setidaknya diambil 50 pasang anak untuk kemudian diciutkan lagi menjadi 40 pasang. Tujuannya, bagi anak-anak yang “dinilai” gagal, sudah tidak perlu capek-capek melakukan tes kesamaptaan. Bagi panitiapun ini akan mempermudah proses seleksi. Karena cukup menilai 50 pasang anak saja di tes kesampataan. Tidak harus mengamati hingga ratusan pasang seperti yang terjadi kemarin. Selain boros waktu, boros tenaga, hingga boros konsumsi, panitia juga akan boros biaya administrasi.
Pun, kalau memang syarat tinggi badan minimal 160 cm (putri) dan 165 cm (putra) menjadi syarat mutlak, alangkah bijaknya bila panitia sejak seleksi wilayah telah menyaring peserta yang tidak memnuhi syarat tersebut. Kasihan sekali melihat mereka-mereka yang diloloskan hingga tingkat Kabupaten lalu seolah-olah bertanding hanya sebagai pelengkap. Tidak pernah dilirik! Hal ini terlihat dari salah satu wakil putri SMA 1 Mlati yang hanya bertinggi badan 155 cm (versi panitia). Dia lolos dari seleksi wilayah, namun langsung gagal di seleksi kabupaten tahap pertama kemarin. Mohon maaf, dengan ketrampilan baris-berbaris yang bagus, mampu berlari 2,1 km dalam 12 menit, knee-up dan sit-up masing-masing bisa mencapai 20 hitungan per menit, dan berbadan sehat, dia seharusnya lolos. Pelatih SMA 1 Mlati yakin, panitia akan menjawab kegagalannya ini disebabkan tinggi badan yang tidak memenuhi syarat. Jika memang begitu, kenapa sejak seleksi wilayah lalu tidak langsung dicut saja?
Terlepas dari berbagai kekhilafan “kecil” seperti diatas, panitia seleksi Kabupaten Sleman untuk proses seleksi kemarin tampaknya pantas diberi nilai E- (E minus) dalam rentang nilai A (tertinggi) hingga E (terendah). Setelah berbagai kesalahan strategi seperti yang digambarkan dimuka, panitia melanjutkannya dengan kesalahan-kesalahan yang menurut kami, tidak pantas. Ambil contoh untuk menjalankan ibadah shalat Ashar (bagi muslim), peserta putra baru berangkat shalat pukul 16.55. Peserta putri lebih lambat 10 menit sesudahnya. Meski masih masuk waktu Ashar, kebijakan ini sebenarnya dapat diantisipasi jika tes baris-berbaris dilaksanakan di kesempatan pertama. Bayangkan jika terjadi kemoloran jadwal yang parah, bisa-bisa shalat Ashar dibatalkan demi kelancaran seleksi.
Usai shalat Ashar, peserta seleksi dikumpulkan untuk persiapan pengumuman hasil tes. Entah mengapa terjadi proses yang cukup panjang sehingga pengumuman pertama (peserta tidak mendengar pengumuman secara bersamaan, namun kelompok per kelompok) baru dilaksanakan bertepatan dengan adzan Maghrib! Alhasil, proses pengumuman ini baru selesai seluruhnya menjelang pukul 18.30. Sial bagi peserta yang dinyatakan lolos, karena bagi mereka tidak ada kesempatan untuk maghriban terlebih dahulu. Mereka kemudian dipanggil panitia untuk mengikuti briefing teknis guna menjalani seleksi tahap dua keesokan harinya. Disinilah blunder terbesar panitia, karena acara briefing baru berakhir bertepatan dengan adzan Isya berkumandang. Nggak papa, cuma nggak nutut maghriban thok. Bukan begitu panitia?
Akhirnya kami berpikir, untuk apa jadi Paskibraka? Apa nilai lebih dari Paskibraka setelah mencermati kejadian ini? Silahkan jawab sendiri.
Saran perbaikan untuk mengamankan ibadah shalat bagi yang menjalankan:
1. Letakkan materi tes yang sulit dicut pelaksanaanya di awal seleksi, kalau bisa pagi. Sehingga kesempatan untuk Dhuhur dan Ashar tidak kepepet.
2. Pengumuman jangan dilakukan berkelompok, tapi langsung saja secara bersamaan. Intinya adalah penghematan waktu sehingga bila terjadi kejadian tak terduga, panitia punya “cadangan waktu”.
3. Briefing lanjutan bagi peserta yang lolos di tahap selanjutnya, dilakukan setelah menjalankan shalat Maghrib. Selain menjadi lebih tenang karena nggak grusa-grusu dikejar Isya, juga karena briefing sulit dipastikan membutuhkan waktu berapa lama. Iya kalau peserta langsung paham, kalau tidak? Bakal ada banyak pertanyaan. Kalau sudah begini, bisa molor.
Galih Kusuma Putra


waow… moga2 taun depan ada perbaikan. kasian adek2nya…
moga2 seleksi kota juga bisa terlaksana dengan baik.
amin
tulisan yg menarik
thank u
ih………
jijik aku ngliat tulisannya…..
kekanak kanakan…
tak berbudaya…
mesti blom pernah jadi panitia…
pasti bukan PPI
jangan jangan sakit hati karena ngk lolos seleksi paskibraka….
sabar bung…
Paskibraka bukan segalanya….
MERDEKA…….
Setuju. Paskibraka bukan segalanya
ih………
jijik aku ngliat komennya…..
kekanak kanakan…
tak berbudaya…
Halo mas admin. Juga dapet info tentang komen-komen ini yah? Asyik yo…
Nggak ada dia nggak rame (ups iklan!)
komentar apa saja boleh. ini forum terbuka. blog adalah produk abad 21 yang paling demokratis. tapi ya mbok punya unggah ungguh
yang ngk punya unggah ungguh tu yang nulis news ini kali……..
tau apa dia tentang paskibraka…..
itu namanya fitnah…..
menurut saya itu bukan news yang bisa dipertanggung jawabkan…..
dan nilainya 0 untuk news ini…!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
walah kok gitu aja repot sich
kaya ngk tau galih aja
biarkan dia mempertanggung jawabkan semua perbuatan n ucapannya dihari akhirnya nanti
aku yakin dia bakal menyesal
eling yo mas galih
Nggih…
Ketika gelombang yang muncul dari pemikiranmu yang positif menyebar ke mulutmu, maka engkau hanya akan mengucapkan kata-kata yang bajik.
Warfare…
Battlefield…
To be continued….
ngomong opo kowe ki…..ngrti artine po…….ehmmmmmmm
Jujur aq mrs kecewa dg slksi kmrn…! Sial msk dah cpk2 lari dah ngoyo, test fsk, n’ sglm mcm tp kuq cm brz ny yg dnl lbh…ga’ da gny kmrn test kasamaptaan test fisik..dah plng mlm2 tp ga’ lls..Huft