Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Formasi yang Hilang

Bagi tiap-tiap angkatan di Bhayangkara Padmanaba pasti tidak asing lagi dengan nama-nama formasi wajib di dalamnya, seperti  formasi teratai dan halilintar (plus langkah Padmanaba). Namun tahukah Anda, bahwa dahulu ada sebuah formasi bernama ‘formasi Padmanaba’ yang sejenak pernah menghiasi lapangan tengah sekolah kita?

 

Penulis telah melakukan sebuah wawancara kecil dengan salah seorang alumni bernama Mas Gestan yang pada masanya telah ‘mencicipi’ sedikit formasi tersebut.

 

Awal mulanya, formasi Padmanaba direncanakan untuk ditampilkan pada tanggal 28 Oktober 1997 sebagai tugas perdana Bhapad 55. Pada masa itu Bhapad dibagi menjadi dua kelompok, yakni Bhapad A dan Bhapad B. Ternyata Bhapad A lah yang mendapat kesempatan untuk menjalankan tugas perdana tersebut, dan kebetulan narasumber termasuk salah satu di dalamnya.

Formasi tersebut dilatih sebanyak satu kali setelah pelantikan. Pelatihnya saat itu adalah Mas Satrio, Mas Wildan, dan Mas Rangga. Komposisi yang dibentuk dalam formasi ini dapat dibilang sederhana, karena hanya mengubah posisi tiga berbanjar menjadi lima berbanjar. Akan tetapi, untuk mencapainya dibutuhkan gerak-gerak perpindahan yang cukup rumit karena tiap-tiap anggota pasukan memiliki gerakan yang berbeda-beda sehingga mereka kesulitan dengan posisinya masing-masing.

Namun, ketika hari-H datang menjelang, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Akhirnya, pelaksanaan tugas perdana itu pun dibatalkan. Artinya, sejak kehadiran Bhapad 55, formasi Padmanaba tidak pernah lagi tampil di lingkungan SMA 3 Yogyakarta. Selain formasi teratai lebih populer, sistem pencatatan yang sangat lemah ketika itu menjadi faktor utama terhapusnya formasi Padmanaba dalam sejarah. Ketika Bhapad 54 melatih 56, formasi tersebut lupa diajarkan. Begitu pula ketika 55 membina 57, lupa juga. Entah bagaimana, tidak ada saru orangpun yang ingat bahwa kita punya formasi Padmanaba untuk diwariskan ke anak cucu.

Menyadari dosa sejarah yang telah dilakukan, angkatan 55 akhirnya menciptakan formasi baru, formasi Halilintar. Formasi ini sebenarnya memiliki nenek moyang bernama Tango Formation yang hanya dikenal diangkatan 55. Lalu lewat revisi besar-besaran, yang lebih menonjolkan performa, lahirlah formasi fresh yang siap diadu di lomba formasi LBB, formasi Halilintar. Adalah Bhapad 57 yang pertama kali mempopulerkan formasi ini disebuah LBB.

Semenjak itu, agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama, pencatatan seluruh formasi yang dimiliki SMA 3, segera dilakukan. Memang, kita telah kehilangan formasi Padmanaba. Namun bila ada yang masih ingat detailnya, atau minimal garis besarnya, kita siap menyambut kembali “formasi yang hilang”.

 

Oleh • Apr 20th, 2009 • Kategori: NOT ONLY TECHNIQUE

Tag : , ,

One Response »

  1. ‘saru’ apa ‘satu’??? :D

Leave a Reply