Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Dari Gambar Timbangan Hingga Tragedi Krecek (Bagian 1)

Tulisan ini pada dasarnya diinspirasi oleh pendapat adik saya Ni Made Dewi Pitaloka tentang nasionalisme. Cukup menarik kritik dia tentang “nasionalisme anak muda Indonesia jaman sekarang”. Namun sebagai pribadi, saya punya pengalaman yang lebih kuat, lebih dekat terhadap perkembangan “nasionalisme” teman-teman muda Indonesia dewasa ini.

Perhatikan kata nasionalisme di kalimat terakhir paragraf diatas yang saya tuliskan dengan “nasionalisme”. Saya menuliskan demikian karena yakin betapa berbedanya pemaknaan nasionalisme di benak tiap orang. Dari kacamata “teori pribadi”, nasionalisme selayaknya menempatkan kecintaan pada negeri (alih-alih negara, tapi boleh juga sih), bangsa (alih-alih suku) dan tanah air (alih-alih tanah kelahiran) dengan terlebih dulu mengenal negeri, bangsa dan tanah air sendiri. Anda kenal pepatah “tak kenal maka tak sayang”? Seperti inilah pondasi saya dalam memaknai nasionalisme.

Rekan-rekan saya yang lain mungkin punya cara pandang tersendiri dalam mengartikan nasionalisme. Meski mungkin saja mengada-ada demi membenarkan pola pikirnya, tapi bisa jadi nasionalisme model begini tidak mudah ditaklukkan. “Meski senang produk luar (termasuk budaya), meski tidak lancar berbahasa Indonesia, meski tidak tahu dimana kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, meski tidak kenal pahlawan, dan meski tidak tahu yang lain-lain, bukan berarti saya tidak cinta Indonesia”, begitu belanya. Tidak bermaksud menjelekkan, tapi salah satu mantan presiden RI pun membela diri dengan cara mirip seperti ini ketika gagal menjawab survey “nama-nama pahlawan” di sebuah acara TV swasta nasional “John Pantau” memperingati hari Pahlawan 10 November 2008. Kala itu, beliau tidak tahu asal daerah beberapa pahlawan yang menurut saya “kelas wahid”, yang dalam bahasa lembaga survey pemilu bakal bernilai “memiliki tingkat keterkenalan yang tinggi”. Untung beliau bisa menjawab asal daerah Sri Sultan HB IX, meski kemudian memasukkan nama “Pattinasarani” sebagai salah satu pahlawan nasional jaman dulu. Setahu saya kan, yang ada tuh Pattimura ya? Bukankah (Ronny) Pattinasarani tu mantan pemain bola timnas yang meninggal tahun lalu? Hehehe…

Secara pribadi saya mendefinisikan nasionalisme model begini sebagai nasionalisme membabi buta. Nasionalisme membabi buta disatu sisi erat kaitannya dengan “fundamentalisme “, “garis keras”, “taklid” yang sekalinya maju, sulit ditarik mundur. Disisi yang lain, nasionalisme tersebut memiliki celah kemunafikan. Selama menguntungkan, ya lanjutkan, kalau rugi, ya good bye.

Pancasila, faktanya…
Kembali ke pondasi nasionalisme yang saya anut. Tahap pertama, yang paling dasar, cukuplah berangkat dari pernyataan berikut “kalau tidak kenal, jangan bilang cinta”. Ditahap ini saja, saya menemukan banyak teman yang bernilai minus. Tidak perlu langsung ke hal-hal rumit, pada poin sederhanapun sudah banyak yang kepeleset.

Pada suatu ketika, ada obrolan tentang dasar negara Indonesia, Pancasila. Selama ini, banyak ditemui lomba “hapalan Pancasila” yang pesertanya anak-anak TK. Bagi yang hapal redaksi Pancasila dari satu sampai lima, lomba semacam itu hanya menarik ditonton ketika ada anak yang grogi di panggung, kepeleset kata di sila keempat atau pengucapan yang cedal. Tapi tetap saja, pada dasarnya, seluruh peserta yang mengikuti lomba tersebut, meski masih kanak-kanak, hapal Pancasila. Yang kemudian menjadi pertanyaan menggelitik adalah:
1.Apakah anak-anak itu patut dipuji karena udah “jago” Pancasila atau;
2.Mereka bisa hapal Pancasila karena masih kanak-kanak?

Saya tak akan menjabarkan hasil obrolan dari dua pertanyaan tersebut, namun akan mengajak anda pada sebuah fakta mengapa sampai timbul dua pertanyaan diatas. Beberapa dari anda mungkin kaget bila mengetahui betapa banyak remaja Indonesia dewasa ini tidak paham Pancasila. Jangankan paham, hapal bunyi silanya saja tidak. Survey kecil-kecilan saya dan teman-teman menunjukkan lebih dari 60% sukarelawan pendaftar yang tidak lolos dari tes “hapalan Pancasila”. Dari 60% itu, sebagian “korban” benar-benar tidak bisa sepenuhnya menuntaskan redaksi Pancasila, meski cenderung lancar di sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Sebagian yang lain sesungguhnya boleh dikata hapal, namun terbalik-balik silanya meski tidak khilaf dalam menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama.

Bagimana dengan 40% populasi yang hapal redaksi Pancasila secara urut dari satu sampai lima? Untuk kategori yang satu ini, kami berikan pertanyaan lanjutan, yaitu “Sebutkan lambang masing-masing sila, berurutan dari pertama hingga kelima!”. Hasilnya mengejutkan! Meski sebelumnya kami optimistik pada kelompok tersebut, namun fakta bahwa keseluruhan dari mereka tidak tuntas menempatkan lambang sila-sila menunjukkan bahwa “Kesaktian Pancasila” tampaknya perlu masuk pit stop, isi bahan bakar ulang. Dan lagi, walaupun hampir semuanya sukses meletakkan lambang BINTANG  untuk sila pertama, namun untuk lambang-lambang yang lain sangat menyedihkan. Yang masih cukup beruntung adalah lambang POHON BERINGIN dan KEPALA BANTENG. Kedua lambang ini sering disebutkan dan diyakini oleh para sukarelawan sebagai anggota lambang Pancasila, namun tidak tahu/ tidak yakin di sila keberapa. Jangan tanyakan bagaimana kabar si RANTAI EMAS dan PADI KAPAS, jarang disebut.

Tapi ada dua hal yang sangat menarik dan akan selalu kami ingat dari golongan ini. Pertama, beberapa sukarelawan harus menyebutkan dalam hati dulu bila mendapat pertanyaan metode mencongak. Bila kita tiba-tiba memerintahkan mereka “Sebut bunyi sila keempat!?”, maka mereka terdiam sejenak untuk mengulang dulu (dalam hati) sila pertama hingga ketiga. Hal kedua yang juga kami ingat betul ialah munculnya lambang baru berupa TIMBANGAN untuk sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia! Logikanya lumayan bener sih, tapi…

(Bersambung)

Oleh • Apr 7th, 2009 • Kategori: Mc LHEER

Tag :

3 Responses »

  1. Versi lengkap yang kuingat tentang kesalahan hapalan Pancasila:
    1. Ketuhanan yang maha esa (nggak pernah nemui ada yang salah disini)
    2. Kemanusiaan indonesia
    3. Persatuan dan kesatuan
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan perwakilan
    5. Keadilan sosial yang adil dan beradab

  2. segitu parahnya kah rakyat Indonesia sampai tak hapal 5 kalimat itu?

  3. Faktanya begitu. Bisa dibayangin bagaimana penduduk di daerah perbatasan yang terpencil, bisa jadi mereka bakal heran dengar istilah “Pancasila”. Kira-kira definisi Pancasila menurut mereka apa ya? Apakah mirip2 dengan sembako?

Leave a Reply