Dari Gambar Timbangan Hingga Tragedi Krecek (2)
(Sambungan dari bagian 1)
Hanya seputar gudeg…
Kisah lain mengenai nasionalisme (kali ini dalam lingkup yang lebih sempit) adalah diskusi ngalor ngidul tentang ke-Yogyakarta-an. Walaupun berbicara tentang nasionalisme, bukanlah sebuah kesalahan bila kita menariknya ke area lokal, kedaerahan. Bukan bermaksud menonjolkan etnisitas atau pengkotak-kotakan, ini murni eksplorasi kebhinekaan yang membangun Indonesia itu sendiri. Berhubung konteks ruang dan waktu saat itu berada di daerah kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, wajarlah bila kemudian tema obrolan kebangsaan yang kami lakukan dicukupkan hanya berkisar pada lingkungan tersebut.
Awal mula ceritanya begini, kira-kira setahun lalu, ada seorang remaja yang kami ajak ngobrol tentang Yogyakarta. Sebagai anak desa yang mengaku gencar terpapar budaya popular, kami cukup kagum ketika mendapati pengetahuannya tentang budaya Yogyakarta bernilai A (tentu saja menurut standar kami). Beberapa rekan mungkin akan mengira dia bekerja sebagai guide, tapi nyatanya dia (ketika itu) masih kelas 1 SMA.
Sayangnya diwaktu lain, kekaguman serupa tidak bisa kami nikmati. Baru-baru ini, kami kembali melakukan kajian identik. Bedanya dengan yang dulu adalah kali ini kami menemui sekelompok remaja, bukan individual. Selain itu, mereka yang akan kami ajak diskusi juga telah melewati sebuah saringan mutlak yaitu “lahir dan besar di DIY”. Harapannya, kami akan disuguhi pemahaman keYogyakartaan yang –setidaknya- lumayan. (Meski secara pribadi saya coba menghubung-hubungkannya lagi dengan jargon politik “Putra Daerah Asli, apa iya bener-bener paham daerahnya?”).
Kala itu, terjadilah sebuah diskusi yang berlangsung cair. Berkat teman-teman yang cenderung nyeleneh, tema yang diangkat adalah “masakan khas Jogja, gudeg”. Para peserta diskusi diberi pertanyaan awal serupa, apa bahan dasar gudeg? Ini pertanyaan yang mudah, karena semua peserta tersebut menjawab dengan benar. “Gori!”. Bahkan satu dari mereka berhasil membuat penjelasan dengan sangat baik, termasuk apa fungsi dari daun jati, dan bagaimana mendefinisikan “gori” bila harus berhadapan dengan orang luar Jawa. Rekannya yang lain ada yang menyebut gori hanya sebagai “dalemnya nangka” yang kemudian dicerna asal-asalan oleh teman saya yang kelahiran Bali sebagai “kambium”
.
“Tragedi” yang ditemui dalam diskusi tersebut muncul kemudian. Sebagai orang Jogja, salah satu dari remaja tersebut mengaku gudeglah makanan favoritnya. Ketika kami selanjutnya menanyakan “seneng pakai krecek?”, dia menjawab tidak tahu apa itu “krecek!”. Bingung antara menahan tawa dan gemes, teman saya mengandaikan gudeg dan krecek bagaikan jadah dan tempe, merah dan putih, dll. Tetap saja si remaja tidak bisa mengenali yang mana krecek didalam gudeg. Akhirnya setelah diberitahu ciri-cirinya lewat metode induksi dan deduksi, barulah dia tahu kalau “yang itu” namanya krecek.
Tragedi krecek tidak berhenti sampai disini. Remaja yang lain tahu benar yang mana krecek, tapi sayang, ia salah kaprah dalam menyebut bahan dasarnya. Lewat diskusi yang agak membingungkan, -karena peran teman saya yang memberi pilihan sesat dan menyesatkan- remaja itu menyimpulkan bahwasanya bahan dasar krecek adalah tepung beras!
Akhirnya..
Tulisan ini kalau tidak dibilang sebagai kritik, bolehlah dianggap sebagai lelucon ringan belaka. Akan tetapi, cobalah sekali lagi memperhatikan fenomena aneh tapi nyata yang saya utarakan diatas. Bukankah ironis, mengaku sebagai warga negara Indonesia tetapi tidak paham Pancasila? Oh iya, oke, bagi anda yang kecewa pada Indonesia dan atau yang anti Pancasila, bagaimana dengan orang yang mengaku menyukai gudeg tapi tidak tahu yang mana krecek? Atau mengaku orang Jogja (dan kenyataannya demikian) namun tidak tahu bahan dasar krecek?
Akhirnya, bagaimana dengan nasionalisme? Masih mungkinkan mencintai tanah air tanpa mengenalnya?


aku ngakak mbaca ini..
keren, nulis ke koran ato majalah aja .hehe