Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

The M..

Bagaimana peta kekuatan peleton inti DIY musim 2008/2009 dengan 6 LBB yang  telah terselenggara: LBB SMA 7, Menwa UII, PPI Kota (Merah Putih), SMA 3, PPI Propinsi dan SMA 8? Jangan heran bila muncul dominasi. Sudah tradisi sejak bertahun lalu, dunia pertontian di Yogyakarta terus mengalami perputaran dominasi dari satu sekolah ke sekolah lain. Karena itu tidak perlu alergi, tidak perlu iri hati, siapapun bisa saja menjadi penguasa baru.

Diakhir tahun ‘80an, penguasa dunia pertontian DIY jelas milik SMA 1 dan SMA 2. Diawal hingga menjelang akhir ‘90an hanya ada penguasa tunggal, SMA 1. Diakhir tahun ‘90an, dominasi SMA 1 mulai dirusak oleh SMA 7 yang akhirnya balik mendominasi hingga awal millennium baru. Setelah sekitar 4 tahun berkuasa, dominasi SMA 7 akhirnya diruntuhkan oleh SMA 5 yang menggeliat selama 2003 hingga 2004. Memasuki tahun 2005/2006, gantian Muh 2 yang berpesta pora. Setelah itu, dalam kurun 2 tahun terakhir, SMA 3 Yogyakarta yang kejatuhan pulung menjadi raja baru.

Sekarang, siapa penguasa musim 2008/2009? Meski belum usai, SMA 3 bolehlah tetap dijadikan sebagai unggulan utama. Bahkan bila ada 2 atau 3 LBB lagi yang akan diwujudkan, dan disana SMA 3 kalah, predikat sebagai penguasa musim ini tampaknya masih pantas dilekatkan pada mereka. Indikatornya adalah dari 6 LBB yang sudah terselenggara (salah satunya merupakan LBB SMA 3 sehingga mereka tidak bisa ikut serta), SMA 3 berhasil menjadi juara umum sebanyak 4 kali dimana 3 diantaranya merupakan LBB paling bergengsi; LBB PPI Propinsi, LBB PPI Kota dan LBB Menwa UII. Ditambah gelar juara umum di LBB SMA 8 dengan prestasi sapu bersih, halal bila kemudian dikatakan “SMA 3 masih menjadi yang terbaik”.

Seru di Putra, Monoton di Putri
Kalau SMA 3 menjadi yang terbaik, sekolah mana yang juga berhak dikategorikan terbaik di musim ini (setidaknya hingga LBB SMA 8 lalu)? Dibagian putra, kita sebenarnya disuguhi kekuatan yang berimbang. Untuk kategori peleton, SMA 3 belumlah yang terbaik. Masih ada peleton SMA 8 (khususnya yang kelas 2) yang menurut kami paling baik. Hanya faktor ketidakberuntungan (seperti kena pinalti) dan konsistensi saja yang sejak tahun lalu membuat peleton ini tidak berada pada posisi terpantasnya; juara kategori peleton putra. Diluar SMA 8, masih ada SMA 1 yang meski tidak semengerikan 2 atau 3 tahun lalu tetap saja kadung dicap sebagai tim sambanya tonti. Apalagi setelah bertekad “berubah” usai LBB SMA 8, SMA 1 mungkin bakal menjadi peleton putra paling hot diakhir musim ini.

Di kategori komandan -yang merupakan kategori paling dinamis sejak tahun lalu, tidak ada satu sekolahpun yang berhak mengatakan dirinya sebagai penguasa. 2 hingga 3 tahun lalu memang kategori ini jatahnya SMA 5 lewat komandan mautnya, Binandy Apriantono. Tahun lalu, kategori ini menjadi pertarungan menarik antara danton senior SMA 2; Ridwan Sanusi, SMA 1; Akbar S dan SMA 3; Ginanjar Adi. Tapi tahun ini? Tak ada dominasi sama sekali.

Sedangkan dibagian putri anda boleh saja menjadi bosan. Entah dikategori peleton ataupun komandan, srikandi-srikandi SMA 3 dominan menghias posisi puncak. Faktor dinamisnya hanya satu: kalau bukan kakak kelasnya yang menang, ya adik kelasnya. Kalau toh mereka kalah, itu pasti karena bukan tim terbaik yang turun. Tengok kekalahan mutlak mereka di LBB perdana SMA 7, karena danton utamanya sedang berhalangan, disaat-saat terakhir ditunjuklah Bianda Dwida Pramudita sebagai danton pengganti. Tidak punya track record sebagai komandan, -dengan demikian otomatis baru sekali itu turun, dia tampil dengan hapalan materi yang amat sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Meski dinilai lumayan, tetap saja kegagapan dalam penguasaan lapangan dan lupa gerakan menyebabkan dia plus peletonnya menjadi penghias ranking baris bawah kategori komandan dan peleton putri. Kejadian mirip namun lebih heroik juga terjadi di LBB Menwa UII, ketika gelar danton putri terbaik lepas dari genggaman. Danton terpilih kelas 1 mengalami kecelakaan ketika berangkat menuju kampus terpadu UII. Walhasil, ditunjuklah danton pengganti hanya beberapa jam sebelum start (bayangke!). Danton kelas 2 ketika itu juga bukan berstatus danton utama. Sang danton utama sedang dalam persiapan plesir ke Korea Selatan untuk –katanya- menjalankan tugas negara. Wajar bila kategori danton terbaik ketika itu gagal dibawa pulang.

Meski dominan, yang namanya pesaing tetap saja ada. Dikategori peleton, SMA 7 (kelas 1) paling pantas dikedepankan sebagai pesaing utama. Menyusul kemudian peleton-peleton SMA 1 dan SMA 5. Sedang dikategori komandan, belum ada pesaing khusus yang dominan, namun nama-nama dari Muh 2, SMA 5 dan SMA 7 patut diwaspadai. Nah, siapa jagoan anda?

Editor1

Oleh • Mar 25th, 2009 • Kategori: TECHNIQUE ONLY

Tag : , , , , , , , ,

14 Responses »

  1. weh kok ada namaku segala ? -_-

  2. Eh, mbak danton…

  3. hahahahahahahhahahhahahahahahahahahahhahaha =))
    thx bia, kamu membuatku bahagia di paragraf 6

  4. asem . simon ki sopo meneh kuwi

  5. tetep njago sma 3!

  6. maav. tapi kata-kata ‘plesir’ itu bisa menyinggung banyak orang

  7. Ahahaha, jadi keinget : “alasan bia terpilih adalah…?”

    Hohoho, piss, Bi…

  8. zzz

  9. ngopo kok mbak bia kpilih jadi danton dadakan?

  10. La jago ndanton kok sakjane

  11. Impresif.

  12. skrg aku baru tau knpa bia jd danton hehe :)

  13. eh… diawal dikatakan “Diakhir tahun ‘80an, penguasa dunia pertontian DIY jelas milik SMA 1 dan SMA 2. Diawal hingga menjelang akhir ‘90an hanya ada penguasa tunggal, SMA 1″ … memang benar but not quite right, tonti SMA 3 sempat membuat kejutan, waktu itu yang juara adalah kelas 1 angkatan 90 (kebetulan kami pelatihnya… dari angkatan 88). Putri 90 peroleh juara 1 Menwa UGM, lalu putra juara 1 Purna Paskibraka – dan putri juara 3 menembus dominasi SMA 1. Jadi Bhapad menutup tahun 90 dengan cukup manis… dan di tahun itu pula awal mula dikenakan seragam tonti khaki-khaki bukan putih-khaki.

  14. @ satya : wah, mas/mbak satya … terima kasih sekali atas informasinya… :) saya juga baru tahu… maklum, baru lahir tahun 89…

Leave a Reply