Putar Speakernya Keras-Keras!!
(Review LBB PPI Propinsi 66 Putri)
Apakah anda menyaksikan langsung penampilan 66 Putri di LBB Propinsi kemarin? Kalau tidak: rugi! Mungkin inilah penampilan terbaik sebuah peleton inti putri di gelaran LBB sepanjang sejarah –setidaknya dilingkungan Bhayangkara Padmanaba (Bhapad). Bahkan, bila kondisi pos 2 memenuhi standar (tidak penuh pasir seperti kemarin), kita akan benar-benar disuguhi keterampilan baris berbaris yang sepenuhnya MTM; matang, tegas dan (tentunya) menghibur.
Pra LBB Propinsi
Aura kehebatan 66 putri sebenarnya sudah tercium sejak LBB Menwa UII, 4 minggu lalu. Pada lomba perdananya, diselingi kecelakaan lalu lintas berdarah, berpatah tulang dan opname yang melibatkan 3 orang termasuk komandan (!), peleton ini malah bisa merebut juara 1. Lihat dua titik kritisnya, sebagai tim debutan mereka cukup baik dalam menekan demam panggung. Kedua, pergantian komandan mendadak beberapa jam sebelum lomba –dan berhasil menghapal materi-, tentu sebuah perjudian yang patut diacungi jempol.
Meski sempat terjangkit “mabuk kemenangan” yang membuat persiapan menghadapi LBB Kota agak terganggu, peleton ini jelas menyalakan sinyal juara di latihan ronde terakhir di pagi hari menjelang lomba. MPC MTM; mbuh piye carane isa mateng, tegas, menghibur. Tapi apa daya, kesalahan komandan di pos 2 dan diikuti penampilan buruk di pos 3, membuat peleton ini terlempar jauh dari target.
Tampaknya kekalahan tersebut menjadi guru yang berharga. Setelah berusaha mendapatkan kembali atmosfir bertanding di eksebisi LBB Padmanaba, 66 putri siap menantang kembali kompetitor terhebat di LBB PPI Propinsi kelak, kakak kelasnya -sang jawara Kota. Jadilah meski lomba masih seminggu lagi, di lapangan tengah SMA 3 sudah ada lomba duluan. Indikatornya jelas, untuk menjadi juara tingkat Propinsi, jangan sampai kalah ketika latihan dari peleton di ujung lain lapangan.
Hari H
Para pembaca yang terhormat, ketika peleton di depan 66 start, kondisi pos 1 cukup tentram. Hanya ada juri, peleton bersangkutan, segelintir pendamping internal peleton dan beberapa penonton. Tapi begitu 66 bersiap di garis start, pos 1 langsung penuh. Tidak saja pendamping internal (alumni, kelas 3, dan Bhapad aktif), tapi juga penonton dari sekolah lain.
66 putri akhirnya beraksi. Refleks hormat pada laporan perfect. Dilanjutkan dengan jalan ditempat yang rata-rata air serempak dan diakhiri dengan hadap kanan henti. Wuzzz…aksennya itu loh, muantepp!! Brokkk…gebrakan nutupnya keren pula, langsung rontok tulang belulangku. Setelah itu gerakan hadap kiri jalan ditempat. Lagi-lagi, wuzzz…aksen tanpa tandingan yang dilanjutkan jalan ditempat anggun dan diakhiri balik kanan henti. Wuzzz dan brokkk!, bikin gedeg-gedeg. Selanjutnya mulai gerakan berjalan macam hadap/ balik maju dan hadap/ balik henti, hormat kanan, langkah tegap dan langkah biasa. Semua hadap balik dilakukan tanpa kompromi, aksen tetep wuzwuz. Gebrakan awal keras mantap, lambaian tangan cantik, langkah kaki yakin dan henti sempurna, set…Brokkk! Suaranya keras kali, seolah-olah ada speaker di alas sepatu mereka. >>>Nilai tertinggi dibanding peleton lain.
Pos 2 nyaris istimewa. Gerakan dasar Bhapad yang dulu lemah, sekarang tinggal sejarah. Ketegasan dan keserempakan sudah kepegang, meski sayang ada kesalahan di setengah lengan lencang dan lencang. Ada anak yang hitungan N-1 nya gagal. Tapi semua tertutup oleh gerakan lain yang cak-cek mantap tanpa tedeng aling-aling. Bersaf dan banjar kumpul meski kepontal-pontal, berhasil diselesaikan tanpa insiden berarti. Titik kritis terjadi ketika aba-aba “Lurus” dari penjuru (bersaf kumpul), dilakukan nyaris kecepetan; trio penjuru kecil belum jenak menyelesaikan gerakan gesernya. Titik kritis lain terjadi ketika gerakan 4 langkah kedepan. Trio penjuru tidak maksimal mengangkat kaki karena terlalu khawatir kakinya bakal melayang diatas garis. Padahal masih sangat aman, meski memang cukup mepet. >>>Nilai tertinggi lagi.
Pos 3 luar biasa bagus. Gerakan belok-belok dalam langkah tegap dan langkah biasa dijalankan mulus dan diselesaikan dengan henti set…Brokkk! yang memekakkan telinga. Keras buanget nyetel speakernya. Lari maju juga bagus. Dilihat dari samping, jas Bhapad tampak bergetar ketika tangan diturunkan tegas ke bawah (henti dari lari maju). Setelah itu lencang depan, lagi-lagi serempak dalam reflex cepat dan gerakan tegas. Wah wah, pancen mateng, tegas dan menghibur. Ganti langkah juga oke, meski tidak sebagus 65nya. Gerakan yang satu ini harus diperbaiki! >>>Lagi-lagi nilai tertinggi.
Pos 4 mengejutkan, 66 bisa tampil sangat bagus (hanya kalah dari SMA 2 dan Tirto). Kepercayaan diri dalam haluan melintang terlihat ketika langkah terakhir langsung dibalas dengan jalan ditempat penuh tanpa ragu. Dilihat dari sisi juri, itu gerakan yang tegas. Ini artinya, konsentrasi peleton maksimal, tidak ada kesan peleton lupa hitungan dalam menjaga kelurusan. Belok-belok juga bagus menyiku, dan tentunya ketika harus berhenti dari jalan, speaker set…Brokkk! yang dari sononya memang udah diputer maksimum, bertambah efeknya karena pos 4 berada di tempat parkir beratap. Emmm salah, disini suaranya bukan lagi set…Brokkk!, tapi set…Dhuarrr!
Wajar bila penampilan yang begitu MTM tersebut langsung membuat pelatih ayem. Tanpa pinalti, gerakan tak terdistorsi, strategi berjalan mulus dan tak ada kesalahan berarti, pastilah (bila semua berjalan normal) peleton ini akan menjadi juara di bagian putri. Dengan demikian, menyisakan 1 peleton putri lagi, Bhapad masih punya senjata rahasia lain di bagian komandan; Miss Kim. Juara peleton di 66 putri, juara komandan di 65 putri plus menunggu peruntungan peleton putra, SMA 3 ada harapan membawa pulang kembali Juara Umum. Kenyataannya, memang benar begitu.


Wah berari aku tergolong orang yang rugi…:((
Cuma sempet liat yang di pos 1…
BTW Istilah MPC “Mbuh Piye Carane” mulai populer y…
aq sampe mau tutup kuping pas denger gebrakan tutupnya. edan…
juri2nya komentar dengan heran waktu liat massa qta, “Mbak, itu semua anak tonti?”
mungkin mrk mbatin, “apa2an ini,,”
Nasib artis….
Ditonton banyak orang. (Ini kata fimma lo)
Lho…namaku disangkut-sangkutkan…
Lha gimana lagi…handycam yang mengikuti…dipatahkan satu…
Tumbuh seribu…
Ya udah dinikmati aja jadi artisnya, syukur2 kalo dikirimi rekamannya juga…
sebenarnya ada faktor lain ituh
sesok ngisor sepatuku takasi kaleng..
biar cempreng..khukhukhu
aku ndredeg mbacanya …
*bukan ndredeg mbaca comment si kopral dinar– mbaca review LBB diatas–
wah jan kopral bao chun lai pancen “ra cetha…”
Mbuh Piye Carane (MPC) iso nduwe rencana “ra mutu…”
Besok kusebarkan provokasi untuk KUDETA ah!!!
Hahahahaha
ada videonya gak mas saga?
penasaran saya sama adek2 66
yang cowok 66 ada kayaknya…Buatan bapaknya sapa gitu…
yang cewek yang ga tau…ada pa ga-nya….
Wogh jelas ada lahhhhhhhh minta aja ma mas-mas n mbak-mbak yang sering nguntit kita dari UII sampe PPI Propinsi, mereka malah punya lebih lengkap dari kita lho…
Mau tak mintain po? hahaha…
hehe bapak2 dari smp manaaa gitu di kulon progo yg taunlalu ngikutin kita itu masi kah?
wah ga didata satu2 jhe…
Pak Kulonprogo masih ada, tapi nggak nyoting lagi. Skulnya juara umum SMP kayaknya
“pak kulonprogo”!!!?????????
“nyoting”!!!!?????????????????
bosomu mas! wkakkaakaa..
cen og mas ‘gabrut’ i!!
gabrut = galih bener2 imut (huek cuh)
ahahaaa..
pis mas!:D
wah ganteng banget
saluth….
sing ganteng apane ???? depon ra’jelas!
Happy Bhapad 66 !!
Ye_ho…!! Bhapad !
yang ganteng artikelnya….bikin semangat mbacanya. haha