Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

MENUJU LIGA BARIS BERBARIS DIY 2008/ 2009

Ini lagi-lagi usul gila, menyambung usul saya sebelumnya tentang Halinterai Samhilag Award (HS Award). Jika usul sebelumnya lebih diarahkan bagi rekan-rekan di Padmanaba, maka usul yang satu ini saya lempar ke dunia pertontian secara umum.

 

Maksud tujuan

Ide awal tentang Liga Baris Berbaris dibuat berdasar beberapa pertimbangan, yaitu:

  1. Meningkatkan posisi tawar dunia pertontian (DuPont) secara umum dimata masyarakat (dan tentu sponsor)
  2. Meningkatkan kualitas LBB yang selama ini sudah cukup eksis (dan juga stagnan)
  3. Membuat persaingan yang lebih dinamis dan ketat hingga akhir tahun ajaran
  4. Menjadikan LBB menjadi suatu kegiatan positif yang elit dan elegan
  5. Sarana adu prestasi yang ajeg sehingga bisa dijadikan sarana evaluasi bersama berbagai pihak (penyelenggara, sekolah, pemerintah dll).

 

Selayang pandang

Liga Baris Berbaris (Liga) adalah sebuah kompetisi setahun penuh yang berisi beberapa LBB eksis. Meski berbaur dalam sebuah Liga, masing-masing penyelenggara masih memiliki hak otonom dalam menjalankan LBB miliknya. Mirip dengan sistem di Uni Eropa, negara federal dan organisasi “merger” lainnya, Liga juga membutuhkan kerelaan dari anggotanya untuk menyerahkan beberapa haknya pada Liga. Dalam hal ini, hak yang direlakan sangat kecil yaitu penentuan waktu pelaksanaan lomba, standarisasi kegiatan dan publikasi (karena harus mencantumkan juga kata Liga disamping nama LBB konvensionalnya). Untuk masalah lain, tetap menjadi hak otonom masing-masing penyelenggara, mulai dari pembiayaan, karakteristik lomba, kepanitiaan dan lain-lain. Hanya saja, karena tergabung dalam Liga, setiap lomba merupakan rangkaian dari lomba yang lain, saling terhubung dan saling mendukung.

 

Anda bisa membayangkan Liga akan sangat mirip dengan GP Motor dan Formula 1 dimana dalam satu musim terdiri dari beberapa seri. Masing-masing seri mempunyai tim penyelenggara yang secara struktural terpisah/ otonom namun tetap harus mematuhi standar umum asosiasi. Penyelenggara tiap seri patuh kapan balapan di sirkuitnya harus dilaksanakan, patuh dengan syarat-syarat minimal penyelenggaraan dan tentu publikasinya harus mencantumkan asosiasi akbar tempatnya bernaung. Dengan mengadopsi seri Moto GP dan F1 seperti diatas, kelak kita akan mendapat LBB dalam Liga dengan tajuk seperti berikut,” Liga Baris Berbaris 2008/ 2009 Seri I, MENWA UII. Lalu Liga Baris Berbaris 2008/ 2009 Seri II, Merah Putih (PPI Kota), dst”.

 

Diluar itu, eksekusi teknis/ tetek bengek lain adalah tanggung jawab masing-masing penyelenggara. Ketika berkinerja buruk, keanggotaannya bisa dicoret. Namun ketika bagus, bisa dijadikan teladan bagi penyelenggara lain untuk ditiru. Otomatis, bila sistem Liga dibuat seperti ini, kualitas LBB akan semakin baik.

 

Saya teringat, ditahun 2005, LBB PPI Kota (Merah Putih) bertabrakan jadwal dengan LBB Menwa UII. Ditahun 2007 kemarin juga sempat terjadi tempuk antara LBB PPI Propinsi dengan LBB UST/ Taman Siswa (LBB Tamsis akhirnya merubah jadwal di saat-saat akhir). Nah, kejadian-kejadian tabrakan jadwal seperti itu sangatlah merugikan. Merugikan peleton (sekolah) dan juga penyelenggara. Sekolah rugi karena tidak bisa memaksimalkan potensi peleton. Dan betapa kasihannya LBB “bergengsi kecil” ketika mengalami tabrakan jadwal dengan LBB “bergengsi besar” seperti diatas; kehilangan peserta!! Kerugian finansial dan kegagalan promosi (LBB yang diselenggarakan PT biasanya bertujuan untuk mempromosikan kampusnya ke kalangan pelajar SMA) sudah barang tentu menjadi kenyataan. Tidak berhenti disitu, kerugian finansial dan promosi berpotensi besar pada dibekukannya LBB tersebut ditahun-tahun mendatang oleh “sponsor”. Jika begitu, lagi-lagi peleton (sekolah) juga yang rugi karena kehilangan ajang berkompetisi.

 

Bayangkan sebuah kondisi ekstrim, bila semua LBB dibekukan, sekolah juga akan menarik “investasi prestasi” mereka dari tonti. Tonti dikenal sebagai investasi mahal (bila dikelola sungguh-sungguh); mulai dari pembuatan seragam, harga sewa pelatih yang biasanya dibayar per jam, biaya pendaftaran hingga akomodasi lomba. Ditahun ajaran 2007/ 2008 ini saja, SMA 3 menggelontorkan dana sekitar $ 1600-1700 untuk semua kegiatan Bhayangkara Padmanaba. Harga setara (atau mungkin lebih) dikeluarkan SMA 1 yang jumlah anggota tontinya lebih banyak ditambah armada peleton yang mereka terjunkan di berbagai LBB tahun ini adalah yang paling besar. SMA lain meski tidak sebesar itu, tetap saja mengeluarkan banyak dana, terutama untuk pembuatan seragam yang memang memakan porsi paling besar dalam anggaran tahunan tonti. Bila dana yang dikeluarkan sangat besar, buat apa bagi sekolah terus mempertahankan tontinya bila tidak ada ajang penyaluran prestasi yang nyata dan kontinyu?

 

Kasus diatas hanyalah skenario terburuk yang mungkin terjadi dari sebuah “kesalahan” sepele macam jadwal lomba yang tabrakan. Bila sistem Liga digulirkan, dijamin tidak akan terjadi lagi kasus-kasus tabrakan jadwal seperti itu. Para anggota Liga ditiap awal tahun ajaran bertemu, mendiskusikan jadwal pelaksanaan masing-masing lomba disepanjang tahun. Jadwal pelaksanaanya pun dibuat sedemikian rupa agar dapat menjaring kepentingan-kepentingan khusus. Misalnya, LBB Menwa UII diselenggarakan sebagai peringatan Milad UII, masak tanggal pelaksanaannya dibuat jauh dari bulan Miladnya. Jadi, meskipun penentuan tanggal penyelenggaraan lomba ditentukan oleh Liga, tidak akan pernah lepas dari konteks/ tujuan awal LBB tersebut terselenggara.

 

Ketika ada penyelenggara LBB lain yang belum tergabung dalam Liga, mereka tinggal menghubungi sekretaris Liga. Melihat jadwal Liga dan menjadikannya sebagai panduan menyelenggarakan LBBnya sendiri yang masih independen. Liga pun akan mencatat kasus itu, sehingga kalau ada pihak lain yang datang kemudian dan akan mengadakan LBB insidentil, pelaksanaan LBBnya tidak akan bertabrakan dengan jadwal Liga dan juga jadwal LBB independen lainnya. Hasilnya, tentu penjaringan peserta lebih optimal. Bukankah secara kasar kesuksesan LBB cukup dilihat dari jumlah pesertanya? Sponsorpun yang dilihat pertama kali adalah jumlah yang satu ini.

 

Anggota

Tidak semua LBB bisa masuk dalam Liga. Syaratnya sebenarnya sederhana, LBB tersebut harus ajeg dilakukan setiap tahun. Jadi, ketika sebuah LBB baru diselenggarakan pada tahun 2007, dia belum berhak masuk dalam komunitas Liga. Baru di tahun 2008 bila memastikan akan menyelenggarakan lomba lagi, LBB tersebut bisa turut dalam rapat Liga di awal tahun ajaran untuk membahas rencana perjalanan Liga sepanjang tahun itu.

 

Tidak itu saja, sebuah LBB yang diawal mulanya telah masuk dalam komunitas  Liga, bisa jadi dicutat. Hal itu terjadi bila selama 2 tahun berturut-turut, sebuah LBB batal/ tidak terselenggara. Tidak terselenggara setahun masih bisa ditolerir lah, namun kalau sampai 2 tahun berturut-turut, harus out. Untuk kasus penyelenggara LBB yang dikeluarkan dari Liga seperti ini, keanggotaannya dalam Liga bisa dipulihkan bila mengaktifkan lagi LBBnya.

 

Karaktersitik

Seperti yang dijelaskan di bagian pertama, meski tergabung dalam Liga, masing-masing LBB hanya berkewajiban memenuhi standarisasi tertentu. Ketika berbicara mengenai karakteristik lomba, setiap penyelenggara memiliki hak otonom yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi, jangan dibayangkan Liga akan menyamaratakan sistem penilaian dan kejuaraan. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip dinamisme yang mendasari ide pembentukan Liga. Bahaya kalau sistemnya sama, pertama tentu membosankan, dan yang kedua bisa-bisa pemenangnya hanya itu-itu saja. Bleh..!

 

Saya membayangkan setiap LBB punya karakteristik tertentu. Hasilnya sih semoga juaranya bisa gonta ganti karena sebuah peleton mungkin hanya cocok dengan karakter lomba tertentu. Mirip dengan Roger Federer (tukang tenis) yang mengerikan dilapangan rumput namun sering gagal di lapangan tanah liat, laiknya Valentino Rosi yang jago di trek kering namun keteteran dalam kondisi hujan, dll. Jadi biarkan saja LBB Propinsi tetap tampil dengan jumlah materi dan pos yang berjibun; biarkan saja LBB SMA 3 dengan materi acak, pinalti berlogika dan pos lebarnya; LBB SMA 1 dengan pos sempit dan defilenya; LBB Menwa UII dengan sistem penentuan juara umum yang beda; LBB Kota dengan sistem standarnya yang ajeg. Semuanya demi dinamisme, jangan menyamakan karakter lomba. Membosankan!

 

Sistem kejuaraan

Perlakuan pemenang ditiap seri tidak berubah dan tetap sama seperti yang berlangsung di LBB selama ini. Jadi tetap ada juara (1-3) peleton dan komandan (putra-putri). Beberapa LBB mungkin hanya menampilkan komandan terbaik ketimbang 3 besar komandan. Sah-sah aja, ingat karakteristik lomba! Tergantung dana kan?

 

Yang berbeda, seperti halnya Moto GP dan F1, diakhir tahun ajaran akan muncul juara sejati. Diberikan pada peleton dan komandan dari sekolah yang paling banyak menjadi juara seri. Disinilah letak bedanya dengan Moto GP dan F1, mereka menggunakan sistem poin sedangkan Liga memakai sistem juara terbanyak. Sistem poin riskan diterapkan mengingat jumlah peserta LBB yang tidak ajeg. Untuk kategori Juara Umum Liga bagi sekolah tertentu tidak perlu diberikan, karena itu sudah masuk dalam salah satu kategori HS Award: sekolah terbaik J.

 

Penutup

Dengan sistem Liga, persaingan antar sekolah tidak sekali putus ditiap LBB. Sebaliknya, hingga musim (tahun ajaran) berakhir, persaingan akan terus terjadi. Menjadi juara di satu seri saja tidak cukup, untuk menjadi yang terbaik haruslah memastikan diri menjadi juara di banyak seri. Untuk mencapai ini, sekolah akan lebih terpacu. Tidak cukup menurunkan peletonnya dalam 1-2 lomba (biasanya hanya untuk LBB Kab/ kota dan Propinsi) saja, namun diseluruh lomba dalam Liga. Inilah nilai lebihnya Liga, antara satu lomba dan yang lain saling terhubung dalam sistem kejuaraan terintegrasi. LBB lebih semarak, sponsor lebih tertarik, sekolah lebih terpacu. Yang penting, ditiap (awal) tahun ajaran, Liga mengirim surat ke seluruh sekolah tentang jadwal penyelenggaraan berbagai seri LBB. Dengan demikian, sekolah tidak akan melihat LBB Propinsi saja, LBB Kab/ Kota saja, namun semuanya.

 

Terakhir, LITBANG Bhapad mengusulkan untuk menjadikan sistem kejuaraan Liga menggunakan racing poin mengingat gengsi dan tingkat persaingan LBB yang satu dan yang lain berbeda. LITBANG mengusulkan, bila pemenang LBB PPI Propinsi mendapat nilai 10, maka pemenang LBB PPI Kota hanya boleh mendapat nilai 9, LBB PPI Kab 8, LBB PT 7, LBB SMA 6 dst. Yah, sekali lagi ini masih ide, banyak hal yang perlu diperbaiki. Tapi yang terpenting, akankah Liga terselenggara? Saya rasa PPI (Purna Paskibraka Indonesia) punya power yang cukup untuk menjadikan ini nyata. Salam…

 

(M P Senopati I Y)

 

Oleh • Sep 6th, 2008 • Kategori: NOT ONLY TECHNIQUE

Tag : ,

4 Responses »

  1. sangat setuju. Halohalo Mas mbak PPI, dibaca dooong

  2. luar biasa ! semacam Badminton super series . 8 peleton terbaik di akhir musim berhak mengikuti final super series untuk menentukan juara dari para juara ..

  3. huahahaha …………….

    SAMHILAG…… strange way 2 hide, what are u dooing? playing hide n seek?

    hehehehehe I C U Arround bro….

    ck…ck…ck…hmmmmmm

  4. bagus juga…idenya… bisa dijadikan event yang bener-bener buat SHOWING OF kemampuan PBB kita…

    tapi saya punya usul…
    KECUALI LBB YANG DIADAKAN PPI (SAYA SUDAH BERKALI-KALI KONFIRMASI KE PPI- BAIK KAB/KOTA ATO PROP) KAMI BERHARAP BISA IKUT BERPARTISIPASI DI LBB JOGJA. (KAMI DI KLATEN BERHARAP SKALI IKUT LBB DI JOGJA, KAMI BERPENDAPAT LBB DI JOGJA JAUH LEBIH FAIR DARIPADA LBB DI SURAKARTA (SEKOLAH KAMI BERKALI-KALI JADI KORBAN KONSPIRASI PANITIA HANYA KARENA MASALAH GENGSI))

    maaf malah curhat… sukur diterima.. tapi saya dan rekan2 di sma2 klaten setuju sekali dengan usulan di atas…

    matur nuwun

Leave a Reply