Bhayangkara Padmanaba

-not only technique-

Dream Team Bhapad?

Tulisan ini dasar teori pertamanya gojeg. Hanya sekelebat ide menggelitik yang lumayan asik untuk dijadikan sebuah tulisan. Jadi kalau ada yang mencibir keberadaannya, tolong diingat, ini hanya diawali gojegan yang di bismillahirohmanirohim. Selain itu, tulisan ini diharapkan menjadi salah satu acuan sejarah yang bisa diresapi calon Bhayangkara Padmanaba 66 dalam perjalananya kelak. Sadar atau tidak, mereka telah berada dalam lingkaran sulit, sebuah lingkaran penuh prestasi yang harus dipertahankan!

 

Tidak ada salahnya menyematkan gelar dream team pada Bhapad. Amerika saja selalu melabeli timnas basketnya dengan dream team sekian dan sekian. AC Milan lebih rendah hati karena mendapat gelar dream team dari publik setelah memiliki komposisi pemain yang berkelas. Jadi dengan semangat mengada-ada, ijinkan saya mencari dream teamnya Bhapad. Oke?

Pertanyaan pertama, dasar apa yang digunakan untuk menentukan Bhapad berkualifikasi dream team? Setelah melewati langkah-langkah pemikiran mendalam dalam waktu yang cukup lama (kurang dari 1 menit), saya dengan seenaknya saja memutuskan bahwa Bhapad pantas dikatakan dream team bila sanggup menjadi juara umum di sebuah lomba (meski nggak ada trophy khusus untuk itu). Nah, sepanjang sejarah Bhapad yang cenderung gelap gempita, kita hanya mendapati Bhapad menjadi juara umum di 1990/1991, 2006/2007 dan 2007/2008.

Setelah mendapat angka tahun, muncul pertanyaan kedua. Secara spesifik, siapa yang berhak mendapat gelar dream team tersebut? Apakah hanya untuk sebuah peleton yang paling berjasa merebut gelar juara umum? Atau lebih luas, gelar diberi kepada satu angkatan atau hingga dua angkatan sekaligus? Menghadapi kekacauan seperti ini, dengan mengedepankan asas otoritarianisme, saya memutuskan gelar itu untuk 2 angkatan Bhapad. Alasannya, setiap tahun, prestasi Bhapad dikejar tanggung renteng oleh 2 angkatan (kelas 1 dan 2). Meski pada akhirnya hanya satu peleton yang sukses mengumpulkan gelar dan berimbas pada capaian juara umum, toh peleton yang lain ikut berjuang. Bukankah trophy juara umum selalu dinisbatkan pada sekolah, bukan peleton tertentu?

Dengan demikian hingga saat ini kita telah memiliki 3 generasi dream team, yaitu:

  1. Dream team I (DT I): Bhapad 48 – 49.

  2. DT II: Bhapad 63 – 64.

  3. DT III: Bhapad 64 – 65.

Karena terbatasnya database, bisa saja dream team yang kita miliki sebenarnya lebih banyak. Kalau benar begitu, semoga saja ada yang memberi informasi.

Memang masih jauh dari SMA 1 dan SMA 7 yang kalau mau bikin daftar dream team jumlahnya bakal berkali lipat dari milik kita. Ini patut disyukuri karena hal tersebut akan membantu kita terus membumi, karena masih ada yang lebih hebat. Tapi bagaimanapun juga, meski sedikit, yang penting Alhamdulillah…

 

 

TIM 2006/ 2007, DREAM TEAM II (63 – 64)

DT II, kelahirannya dibilang yang paling sensasional. Lewat tim ini, SMA 3 yang sudah lama berpuasa, kembali merasakan segarnya menjadi juara!

 

Kejutan pertamanya adalah meraih juara 1 peleton putri di LBB UII 2006. Setelah 4 tahun, inilah gelar juara 1 pertama yang kembali diraih Bhapad! Gelar juara 1 terakhir diraih di LBB Kota 2002 (kategori danton terbaik putri). Namun kalau mau lebih didramatisir, untuk kategori peleton, gelar juara 1 terakhir yang diraih Bhapad adalah 6 tahun lalu! Ketika itu, berkat usaha Bhapad putra 57 yang memenangi LBB SMA 4 tahun 2000. Fuuh…lama banget yo!?

Kejutan kedua adalah penampilan di LBB PPI Kota 2006. Untuk kali pertama Bhapad bisa jadi juara 1 kategori peleton di LBB Kota (Putri 63). Prestasi terbaik sebelumnya hanyalah juara 3 peleton tahun 1999 (putri 57) dan 2003 (putri 60). Selain itu di LBB ini SMA 3 juga meraih juara 1 komandan putri (Deslia). Meski di kategori komandan putri prestasi SMA 3 cenderung lumayan, tetap saja gelar juara 1 ini sudah ditunggu-tunggu selama 4 tahun. Bayangkan saja, 4 tahun! Para komandan Bhapad ketiduran terlalu lama. Dan akhirnya, juara umum! Gelar juara umum pertama yang pernah diraih di ajang LBB PPI Kota, juga gelar pertama dalam kurun 16 tahun terakhir yang bisa dibawa pulang! Juara umum terakhir yang dicapai adalah LBB PPI Propinsi 1990.

Kejutan ketiga adalah pencapaian fantastis yang tak pernah terbayang di LBB Propinsi 2006. Setelah 16 tahun, SMA 3 kembali merasakan juara 1 kategori peleton. Setelah 8 tahun, kembali merebut gelar juara 1 komandan (Deslia). Setelah 13 tahun, komandan putra kembali masuk 3 besar (juara 2, Permana). Untuk pertama kali, menyandingkan juara peleton putra dan putri (putra 64 dan putri 63). Untuk pertama kali mencatatkan one-two (langsung dobel): Juara 1-2 peleton putri (bhapad 63-64), dan Juara 1-2 komandan putri (Deslia-Larasati). Untuk pertama kali mencetak hattrick: juara1 peleton putra-peleton putri-komandan putri. Dan yang terpenting, setelah 16 tahun, trophy juara umum LBB Propinsi kembali masuk lemari piala aula!

DT II memiliki rasio kemenangan 0.5 yang artinya disetiap lomba yang diikuti, rata-rata setengah dari seluruh gelar juara 1 yang dilombakan berhasil direbut. Padahal dengan persaingan ketat dengan rekan dari SMA 1, SMA 2, SMA 5, SMA 7 dan MUH 2, rentang rasio yang logis hanya bekisar 0.16 – 0.25. Tim ini juga memiliki persentase juara umum 66% setelah sukses menjadi juara umum Kota dan Propinsi.

Meski penuh kegemilangan, tim ini tak lepas dari kekurangan. Dari 4 peleton dan 4 komandan yang ada, DT II mendapat kartu mati di peleton dan komandan putra 63. Tidak sekalipun lini ini masuk 3 besar meski ketika mereka kelas 1 sempat digadangkan bakal menjadi peleton putra terbaik di angkatannya.

 

 

TIM 2007/ 2008, DREAM TEAM III (64 – 65)

Mendapat tanggung jawab berat untuk meneruskan kejayaan SMA 3 tahun sebelumnya.

 

Awal tahun ajaran 2007/ 2008 seharusnya dilalui keluarga Bhapad dengan optimisme tinggi. Bhapad adalah juara Kota dan juga Propinsi 2006. Namun prestasi tahun lalu rupanya menjadi beban. Tahun ini SMA 3 akan turun disetiap lomba dengan status unggulan. Tertekan bo! Nggak biasa jadi pusat perhatian, biasanya kan underdog .

2 LBB pemanasan awal tahun berjalan datar (baca: mengkhawatirkan). DI LBB SMA 9, SMA 3 hanya membawa pulang 2 gelar dari putra 64 (juara 3 peleton putra) dan Agustin (juara 2 komandan putri). Selanjutnya LBB Sadhar yang unik (kategori putra dan putri digabung) hanya memberi kita 1 gelar lewat putri 64 (juara 2 peleton). Wah, tampaknya bener-bener terlambat panas nih! SMA 1 di SMA 9 saja bisa mencatat hattrick : juara 1 peleton putra-peleton putri-komandan putri. Sedang di LBB Sadhar muncul pemain juara baru yaitu SMK Penerbangan (Peleton putra) dan SMA 8 (komandan putri). Hoi..bangun-bangun, udah siang!

Menjelang LBB Kota, sistem unggulan telah menempatkan SMA 1 diseluruh top list kategori peleton. Sedang di kategori komandan, dominasi SMA 1 berhasil diredam oleh SMA 5-SMA 2 (putra) dan MUH 2-SMA 3 (putri). Jadilah SMA 1 muncul sebagai calon terkuat peraih juara umum Kota 2007. Namun, entah dapat wangsit darimana, tim 2007/ 2008 kembali dinaungi keberuntungan. Di lingkup LBB Kota, kita untuk pertama kali menyandingkan gelar juara peleton (putri 64-putra 65), masuk 3 besar kategori komandan putra (Murtadho), dan mencatat one-two kategori peleton putri (64-65). Untuk pertama kalinya juga SMA 3 berhasil mempertahankan juara umum.

Kejutan kembali dialami DT III di LBB PPI Propinsi. Untuk pertama kalinya berhasil mempertahankan juara umum propinsi, mencatat triple one-two: juara 1-2 peleton putra (64-65); juara 1-2 peleton putri (64-65); juara 1-2 komandan putri (Larasati-Merisdaningrum), kembali melakukan hattrick: Juara 1 peleton putra-peleton putri-komandan putri, dan meneruskan tradisi 3 besar komandan putra (juara 3, Permana).

Selepas Propinsi, penampilan DT III agak menurun di LBB SMA 1. Meski berhasil menjadi juara umum setelah menyandingkan gelar juara peleton (putra-putri 64) dan juara 3 komandan putra (Permana), secara umum ada banyak evaluasi yang harus dibenahi untuk menghadapi LBB berikutnya.

Dan akhirnya, meski melempem diawal tahun dan sering dinaungi keberuntungan, DT III mencatatkan diri sebagai tim tersolid yang pernah dimiliki SMA 3. Kekuatan nyaris merata di semua lini; peleton putra-putri, komandan putra-putri. Tidak cuma itu, perimbangan kekuatan antar angkatan juga rapat, tidak terjadi degradasi kualitas maupun prestasi. Semuanya pernah menyumbangkan gelar di area 3 besar (hanya 65 putri baik komandan dan peleton yang belum pernah meraih juara 1. La wong selalu jadi runner up dibawah 64 putri). Wajar jika kemudian persentase raihan gelar dan efektifitas peluang DT III sangat baik hingga saat ini.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, “Akankah muncul Dream Team IV? Jikapun muncul, kapan itu akan terjadi? Mungkinkah pada komposisi Bhapad 65-66?”. Semoga!

(by: pembina ekskul 06/ 07)

 

 

 

Oleh • Sep 6th, 2008 • Kategori: TECHNIQUE ONLY

Tag : , ,

4 Responses »

  1. 64 !! :D padmanaba rocks!

  2. DT IV amin amin ;b

  3. di aminin aja…

  4. I like this article,,,,,

Leave a Reply