PROUDMANABA
PREAMBULE
Tulisan ini merupakan sebuah respon atas kekagetan saya setelah membaca artikel semi sembrana yang amat menarik dari Guru Purwa Kangmas Gandoz. Judulnya saya tidak ingat pasti, pokoknya ada kata rain master, rain makernya (the rain, pen).
Saya mengatakan artikel beliau semi sembrana karena 2 hal. Pertama, manusia yang satu ini memang ahlinya nyari sesuatu yang nyelimpet/ ra mutu untuk dibuat saling berhubungan. Tidak hanya artikel the rain, artikel keluarannya yang lain, nyodok, juga masuk hall of fame blog Bhapad kategori paling mengada-ada. Meski demikian, mbuh ngapa, saya setuju-setuju saja dengan semua analisanya Kangmas Gandoz. Hanya saja, GPK Gandoz harus lebih berhati-hati, terutama –ini yang menjadi alasan kedua saya mengatakan artikelnya semi sembrana- ketika menuliskan “pisuhan f***manaba oleh oknum dari salah satu SMA FAVORIT DI YOGYAKARTA”.
Bahayanya kalimat ini ya sudah tentu fitnah. Wah, jujur saja saya muangkel pol begitu tahu ada kejadian ini. Kalau artikel the rain nggak keluar, mungkin saya nggak bakal pernah tahu ada istilah anyar F***MANABA. Namun kalimat GPK Gandoz untuk “SMA FAVORIT DI YOGYAKARTA” harusnya lebih disamarkan dengan, misalnya, “SMA yang ikut serta”. Cara ini jauh lebih aman. Gila aja, istilah SMA Favorit tu nyaris spesifik. Ada SMA 1, SMA 2, SMA 5, SMA 7, SMA 8, MUH 2, dan SMK Penerbangan.
KONTEKS POSITIF
LBB, biar bagaimana adalah ajang silaturahmi. Bersaing memang bersaing, tapi itu ketika didalam pos. Diluar itu, kita semua saudara, sportif. Bukan tanpa alasan mengapa tim pelatih Bhayangkara Padmanaba (Bhapad) di setiap lomba seringkali srawung dengan tim pelatih (bahkan anak tonti) dari SMA lain. Saling ngenyek dikesempatan itu merupakan hal biasa, namun pujian juga amat sering terlontar.
Tujuan utamanya adalah menjaga nama Yogyakarta sebagai negeri yang kondusif bagi budaya, bagi pendidikan, dan bagi pelajar. Di Jakarta, Tonti (istilahnya disana Paskibra) bisa menjadi satuan tawur. Di Yogyakarta (tercinta) –hebatnya- hal itu belum pernah terjadi, dan jangan sampai terjadi! Bagi saya, LBB sulit diselenggarakan di Jakarta karena ujung-ujungnya bisa berubah menjadi chaos. Beda dengan Jogja! Disini, LBB malah jadi ajang rekonsiliasi. Jaman saya kecil (baca: SMA), keberingasan SMA 6 yang hobi tawur (sekarang sudah nggak, red) tidak pernah terbawa ke arena LBB. Yuk dijaga!
Tujuannya yang lain adalah mendapat feedback dari pihak luar. Saya pribadi, paling sering saling nguece nganti modyar dengan teman-teman dari SMA 1, SMA 5 dan MUH 2. Saya berani gitu karena sudah akrab dengan mereka. Lik rung kenal, ra wani lah aku. Malah dari ejekan-ejekan (gojeg) itu tadi, sering kali berlanjut dengan diskusi. Contohnya nih, waktu adik saya dari SMA 1 “protes” kenapa kok Bhapad bisa menang di Propinsi 2007, padahal SMA 1 secara kasat mata jauh lebih baik. Jawaban saya cukup panjang, tapi intinya seperti ini. “Juri nggak selamanya melihat peleton, pada suatu saat mereka harus melihat kearah lembar penilaian. Bhapad beruntung karena ketika gerakannya jelek, JURI lagi ndelok lembar penilaian. Sebaliknya, pas lagi gerakane apik, JURI pas ngematke. Akhirnya, nilainya bagus semua. SMA 1 nih mungkin pas gerakane elik, pas JURIne ndelok. Ya wis toh, bijine dadi luwih elik. Masalah koyok ngene-ngene iki ra isa dilatih, tur wis bejane, faktor X. Faktor X hanya bisa dipengaruhi oleh doa. Kebetulan anak Bhapad hobinya adalah tahajud di malam sebelum lomba”. Para pembaca yang budiman jangan salah sangka ya, meski gaul abis, anak SMA 3 dijamin masih bisa tahajud.
PENUTUP
Jadi, dari kacamata saya, mengejek SMA lain (termasuk didalamnya misuh) sah-sah saja selama berada dalam konteks yang positif seperti diatas. Lain halnya dengan kasus F***MANABA, yang diutak-atik macam manapun tidak pernah bisa memenuhi (bahkan mendekati) unsur sportifitas dan ejekan yang rasional. Itu murni emosional. Anak-anak Bhapad untungnya berjiwa besar, karena ketika saya menanyai beberapa orang, semuanya tahu pisuhan keluaran terbaru ini dan –hebatnya- cuek bebek. Mengapa? Karena Padmanaba selamanya adalah Padmanaba, bukannya F***MANABA.
Terakhir, karena pengaruh infeksi virus Gandoz, saya jadi teringat pernah membaca kisah Michael Schumacher (Juara dunia F1 tujuh kali) yang di lomba debutnya dicibir seorang pembalap (pembalap top, juara dunia) dengan “Michael Who? Michael Shoe Maker?” (Michael si pembuat sepatu). Michael cuek-cuek saja dan fakta terakhir akhirnya menunjukkan Michael Schumacher bukannya Michael Shoe Maker, namun Michael SCHUMASTER! (istilah teman saya Suryo Birowo di KKMMSS@yahoo.groups.com). Oh, kebetulan bukan? Bhapad dan Michael Schumacher sama-sama diejek karena namanya dan sama-sama dijuluki rain master dan rain maker (Asem ki Gandoz! Aku dadi melu-melu ra mutu!).
Salam, mari kita buat Dunia bangga pada Padmanaba, PROUDMANABA!!
(Galih Kusuma Putra untuk blog Bhapad)


Mas,,tulisannya kecil skalii…
dibesarin aja biar nikmat