Manuk Wesi (Bag II)
Sambungan dari bagian I (bab 1-9)
10
“Oalah..ternyata hempon tu sama dengan telepon genggam to! Wah jadi malu aku, eheheheh”.
“Makanipun Yu Karetan, ingkang cerdas sekedik to. Bener niku ngendikane Kangmas Kecik, mosok warga Padmanaba bodo. Ngisin-ngisini to yu!”.
“Enggak ah! Aku nggak bodo kok. Siapa bilang aku bodo. Aku tuh ya, cuma salah dengar aja. Harusnya handphone, tapi kedengernya hempon. Para abdi dalem aja tu yang ndesit, nggak bisa telling handphone perfectly. Iya nggak Kang Kecik?”.
“Tidak saja! Memang kamu harus belajar banyak. Masih bodoh tapi banyak sekali alasannya. Jadi keliatan sombongnya tau nggak?”.
“Ih..enggak tuh”.
“Eh..Yu, pas ngomong ngeten niku mau. Jenengan ketok banget sombonge”.
“Plus bodoh! Makanya belajar. Belajar! Masak tanah bengkok saja tidak tahu!”.
“What you said barusan?”.
11
“Kenapa harus ada Su Kiss! Sejak dia mengambil alih penjagaan pintu gerbang, sulit sekali menembus masuk kerajaan. Kereta kencanaku yang indah terpaksa harus ditingal di rumah. Apa dia lupa kalau kita tidak lagi sekedar PCP (Purna Cantrik Padmanaba, -red), namun juga sudah menjadi Mahaguru disini!”.
“Nyebut.., Senopati, Su Kiss bukannya lupa, tapi memang dia tidak tahu. Nggak papa to datang seperti ini? Lagipula kereta kencanamupun sudah habis ijin pemakaiannya”.
“Nggak papa priben! Kamu sih enak, punya karomah bisa seringan angin. La aku, berat badan sudah hampir sekintal dan keahliankupun di ilmu perang, bukan meringankan tubuh”.
“Hehehe…ya udah Senopati, sekarang bersih-bersih dulu. Aku nyiapin alun-alun untuk latihan ksatria”.
Dengan gumaman pisuh yang terdengar samar, Mahaguru Panembahan Senopati berjalan tergesa ke Taman Sari. Secepat mungkin dia harus membersihkan diri. Tadi dia keluar dari bumi ditempat yang salah, Kolam Pel.
12
Dengan harga diri compang-camping, Bisma berangkat menuju Kerajaan Padmanaba. Masih terngiang-ngiang di telinganya, “Nak, kowe rung kelamben”. Bagaimana aku bisa sebodoh itu, batinnya. Hanya karena sebuah hal yang membahagiakan, aku bisa lupa segalanya. Bahkan bisa lupa hal yang cukup mendasar. Memakai baju!
“Seandainya aku mendapat hal yang lebih-lebih-lebih membahagiakan, apakah aku akan bertindak bodoh seperti itu lagi?” Padahal tadi, aku hanya sukses menemukan ide brilian -ketika ngaca- untuk minum susu weight gain. Untuk membuat badanku six pack, gagah nan berisi. Ditambah wajah tampan dan suara ngebass, aku akan menjadi, “Wuooo…la perfect!”. Lalu “Eureka…, Simbookk…aku tukokne susu weight gain!”. Lalu…malu.
13
Tak ada yang meragukan kualitas diplomasi Cah Widura. Kemampuan argumentasi dan persuasi yang sabar dan runtut menempatkannya sebagai salah satu pemain terbaik di perang wicara. Karena itu, masalah keluarga yang dihadapinya tadi hanyalah rintangan seujung kuku yang cepat terselesaikan.
Semua tetangga pasti berdecak kagum padanya saat ini. Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, bapak-bapak yang mainan perkutut, pemuda yang mencuci jaran, hingga pemudi yang menjemur pakaian, semua tersenyum bangga ketika melihat Widura lewat berangkat ke kerajaan Padmanaba. “Cah pinter, prajurit Padmanaba, calon Petarung Bendera Pusaka, berangkat latihan. Cantrik luar biasa”. Disadari atau tidak, dialah tokoh terpopuler di kadipaten. Banyak harapan warga yang digantungkan pada Widura. Harapan-harapan yang sangat memompa semangatnya.
Terus menambah percepatan ontelnya ke selatan, tak terasa, air mata menetes membasahi pipi. Banyak pikiran terlintas, namun hanya satu yang terucap, “Tetangga-tetanggaku tercinta, doakanlah aku. Mulai hari ini, aku berpuasa 20 hari. Hiks..teganya”. Air mata tak lagi menetes, sekarang sudah banjir. Dengan kecepatan ontel seperti itu, air matanya bagai air laut yang meloncat terbelah speedboat. Jalan Kaliurang basah kuyup. Beribu orang heran. Seorang klenikers menatap Merapi tajam-tajam, “Apa lagi yang akan dilakukan simbah?”. 5 meter didepannya, tepat ditengah jalan, sebuah kempong perak tergeletak. Lalu hancur berkeping-keping terinjak roda andong pasar Gentan.
14
Keluar rumah dengan langkah perlahan, Cah Kumbakarna tak pernah lupa untuk mengembangkan senyumannya yang khas. Senyum manis tak berlesung pipi dengan dagu yang dilancipkan. Tak ada satupun banci yang berhasil lolos dari jebakan ini. Ketika mereka melihatnya keluar rumah, serta merta kepulan debu melanglang ke angkasa. Dilihat dari Kahyangan, kepulan debu itu mengerucut ke arah Kumbakarna berada.
Selama ini, ia selalu sukses meloloskan diri. Dengan ajian “Keledai bodoh diam membisu tak mampu bersuara” para banci langsung kehilangan gairah. Beringsut menjauh dan melanjutkan aktifitas mereka, membuat kempong perak dan meracik susu weight gain palsu. Namun pagi ini rupanya ditakdirkan menjadi hari yang berbeda. Baru merapalkan tahap kedua ajian, tak sengaja kakinya keserimpet handuk sikil. Jatuh mekangkang, kehilangan momen melanjutkan rapalan, tamat. Terjamah puluhan banci yang beringas. Ikut terkepung pusaran debu yang kali ini dari kahyangan terlihat seperti tanda love.
Melintas dengan kecepatan 2 mach ke barat, 1000 m diatas bumi, Mahaguru Gatutkaca tak luput terjebak melihat pemandangan dibawah. Sama dengan reaksi para malaikat Kahyangan, Mahaguru Gatutkaca pun mukok-mukok. Di bumi, didaerah Candi Boko dan sekitarnya, tanpa mendung, hujan tiba-tiba turun amat derasnya.
15
Perempatan Condongcatur yang ramai memaksa Wong Ambika harus menuntun sepedanya. Tak terbiasa mengenakan rok panjang, dia jatuh tersungkur di langkah ke 6. Untung Prajurit yang satu ini tak punya malu. Ketika orang disekelilingnya malu sendiri melihat adegan itu, dia dengan cuek berdiri tegak, memandang berkeliling, lalu tertawa.
16
Merasa terlambat, Wong Sinta memutuskan untuk tidak mandi pagi. Cukuplah bersikat gigi menggunakan ijuk kelapa dengan odol yang terbuat dari campuran butiran bata, putih telur dan aroma lidah buaya sebagai penyegar napas. Mengenakan pakaian yang paling mudah dipakai, satu set kebaya dengan jarik model Jogja. Rambut dikonde putar dengan asesoris tusuk konde gading gajah ukuran medium. Mengenakan kerudung sekali pakai dan menyemprotkan 5cc parfum kesekujur badan. “Hmm…udah cantik, wangi. Nggak kelihatan kalau belum mandi”, pikirnya. Penuh percaya diri, melangkah keluar menuju kereta yang dikusiri ayahanda. Masuk, duduk, memakai kacamata dan membaca surat kabar yang tersedia didalam kereta. Matanya memindai judul-judul berita dengan cepat, memilah jenis informasi yang mungkin keluar sebagai pertanyaan PU.
Kalau kacamata bisa ngomong, dia akan berkata, “Belobokmu diiikk…!!”.
17
“Apakah engkau belum mengetahui bahwasanya Yu Karetan pernah menghubungkan tanah bengkok dengan Perjanjian Linggarjati dan Negara Thailand! Bodoh sekali!”.
“Hahaha…mosok to Kang? Oalah Yu..Yu.. jenengan niku ana-ana kemawon. Aku dados kelingan, Yu Karetan tau mboten saget ngurutke pemerintahan Nusantara saking inggil teng rendah. Mosok Kelurahan luwih dhuwur saking kecamatan. Mosok kelurahan lan desa niku benten! Mosok Dati II mboten ngertos! Dati II diarani kecamatan lo! Haha…”.
“Huh”.
“Dia juga tidak mengetahui arah mata angin!” Baru bisa yakin dimana arah utara bila melihat Gunung Merapi. Kalau Merapi ketutupan, tersesat!”.
“Mboten lo Yu… Aku ra melu-melu”.
“Mabukkan!”.
“Ngantukkan! Eh, ora Yu..”.
“Hitam!”.
“Rambute ra toto! Ora-ora Yu..”.
“Sombong, sering lepas kontrol!”.
“Lik lungguh waton! Ora ding Yu.. Sori-sori!”.
18
Disisi lain Mataram, Putri Madrim, Putri Anjani dan Putri Pregiwati memacu kuda dengan kencang. Zaman sekarang, bahkan kuda nggak mau ketinggalan modis. Tengok Putri Madrim yang mengecat merah kudanya, Putri Anjani memilih warna hitam, dan putri Pregiwati lebih sreg dengan warna biru.
(bersambung)


hwuhahahahahahahaa……
apik tenan!!
kudaQ nyentrik banget tu!!
dibukuin aja nih,, trus dijual. untuk kalangan sendiri tapi,,
Sapa disik sing ngarang
buatin juga dong mas
hehe
wah ra sida
Apik. Menghibur.
buatin donk :p
wah udah ada di bag fiksi ada lagi di bag babad tanah bhapad .ckckck
mosok kancaku banci2 to ? waguu ..
Hhaha !
eh sang author jarang ngomen lagi ni.
uda turun berapa kilo mas? masi di jakal to? hehe